magista scarpe da calcio Gugah Sejarah, Gelar Kuis Terkait Koran Tjahaja Timoer untuk Generasi Muda


Gugah Sejarah, Gelar Kuis Terkait Koran Tjahaja Timoer untuk Generasi Muda


KELUARGA Kwee Khay Khee tidak hanya sekadar berkumpul saat melakukan Family Reunion di Selecta Kota Batu. Namun juga menggugah kembali sejarah percetakan koran Bahasa Melayu pertama di Malang,  Tjahaja Timoer. Dengan nuansa itu, keluarga lintas generasi yang sebelumnya tidak tahu, bisa belajar untuk mengetahui sejarah percetakan koran itu.
Nuansa menggugah kembali sejarah Tjahaja Timoer itu misalnya dilakukan melalui game-game di Hall Arjuno, Selecta, Sabtu (23/9) malam. Sang MC memberikan beberapa pertanyaan mengenai sejarah percetakan koran Tjahaja Timoer itu.
‘’Sekarang ada pertanyaan lagi. Koran Tjahaja Timoer, terbit mulai tahun berapa hingga berapa ?’’ tanya sang MC dalam Family Reunion, malam itu.
Ada beberapa keluarga angkat tangan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Salah satu keluarga menjawab bahwa Tjahaja Timoer terbit mulai 1907 hingga 1942. Pertanyaan-pertanyaan lain misalnya, ada di mana lokasi percetakan Kwee Khay Khee. Mereka juga menjawab di Jalan Kidoel Pasar yang sekarang menjadi Jalan Kyai Tamin No 3.
Saat reuni tersebut memang sudah ada buku silsilah keturunan Kwee Khay Khee sebagai pendiri percetakan koran Tjahaja Timoer. Dalam buku tersebut ada sekilas gambaran Kwee Khay Khee mendirikan percetakan koran tersebut. Hanya saja dalam buku itu hanya ada proses percetakan atau penerbitan Tjahaja Timoer. Namun sampai kapan koran itu ada, dalam buku itu tidak disebutkan.
‘’Itu artinya, keluarga sudah ada proses belajar dan mencari tahu. Kapan sampai kapan koran Tjahaja Timoer bisa dicari melalui internet. Mereka juga pasti ingin tahu dari sesepuh mengenai sejarah koran atau percetakan,’’ tegas Kwee Gwan Tjhay yang juga memiliki nama lain Laurensius Hermanto Budi, cucu Kwee Khay Khee.
Dalam reuni tersebut juga ada acara beberapa hiburan, termasuk electon. Sedangkan di akhir acara, mereka melepas balon di halaman hall Arjuno Selecta. ‘’Selecta sebagai tempat reuni, karena lokasi ini memiliki sejarah tinggi. Selecta juga sudah ada sejak dulu, zaman Belanda,’’ tegasnya.
Dalam reuni  tersebut, 125 orang keturunan Kwee Khay Khee hadir dari 484 nama yang terdaftar. Paling tua, mereka adalah cucu dari koran Tjahaja Timoer, sedangkan generasi lebih muda adalah cicit dan seterusnya. Kwee Khay Khee yang menikah dengan Tan Liang Nio memiliki 16 anak. Semua anak tersebut kini sudah meninggal, sehingga keturunan Kwee Khay Khee tinggal cucu.
Go Sien Nio atau Shinta Gondokusumo, cucu Kwee Khay Khee kini sudah memiliki umur 78 tahun. Sewaktu kecil, dia pernah tinggal bersama orang tuanya, Kwee Bie Giok atau anak kelima dari Kwee Khay Khee di rumah Jalan Kyai Tamin 3 Malang, lokasi percetakan Kwee Khay Khee sekaligus lokasi pembuatan koran Tjahaja Timoer.
‘Rumah tersebut ditempati beberapa keluarga. Termasuk mama, dan saya pernah tinggal di rumah itu waktu kecil. Setelah sekolah, mama pindah ke Jalan Kawi Kota Malang,’’ tambahnya ketika ditemui di sela-sela acara reuni di Selecta.
Menurutnya, rumah tersebut sangat luas sekitar 1.000 meter persegi dengan berbagai ruangan yang sangat banyak, jadi wajar jika lokasi itu ditempati beberapa keluarga. Karena rumah yang sangat besar itu juga, bukan tidak mungkin dijadikan lokasi percetakan sekaligus tempat penerbitan koran, Tjahaja Timoer.
Dia memang tidak sempat mengetahui sang kakek Kwee Khay Khee, pendiri koran Tjahaja Timoer. Itu karena sanga kakek sudah meninggaal saat dia lahir. Namun dia masih merasakan nuansa keberadaan percetakan di rumah Jalan Kyai Tamin 3 sewaktu kecil. ‘’Kalau aktivitas pembuatan koran sudah tidak ada. Kalau mesin-mesin percetakan, saya masih sempat melihat,’’ tambah perempuan yang kini tinggal di Surabaya ini.
Menurutnya, dia sempat melihat ada mesin percetakan dengan ukuran besar, tinggi sekitar tiga meter dan lebar tiga meter. Selain percetakan paling besar tersebut juga masih ada beberapa mesin dengan ukuran lebih kecil.
Sewaktu dia kecil, percetakan paling besar tersebut sudah kondisi menganggur di rumah Jalan Kyai Tamin. Dia malah biasa bermain, dengan memanjat atau bersembunyi.
‘’Saya sama sepupu-sepupu biasa memanjat alat percetakan besar itu. Meski dipanjat, alat itu sangat kuat. Sekarang mesin itu tidak ada karena sudah lama dijual,’’ katanya yang diiyakan keluarga lainnya.
Apakah dia pernah melihat fisik koran Tjahaja Timoer ? Sama sekali Shinta tidak pernah melihat. Koran tersebut juga sudah tidak ada di rumah Jalan Kyai Tamin ketika dia masih kecil, apalagi sekarang. Diapun juga tidak pernah melihat proses pembuatan koran itu.
‘’Mama bilang, itu adalah mesin percetakan. Kalau fisik koran, saya tidak pernah melihat. Tetapi kalau buku-buku, peta, atau ramalan saya lihat. Keluarga juga ada yang bawa barang-barang hasil cetakan itu. Itu karena mesin percetakan tidak hanya untuk koran, melainkan buku-buku dan lainya,’’ tambahnya.
Dia juga mendapatkan cerita, kakeknya Kwee Khay Khee mendatangkan mesin percetakan tersebut dari Jerman. Malahan Kwee Khay Khee langsung datang ke Jerman sendiri untuk membeli alat percetakan itu. Namun bagaiman proses pembelian, transportasi hingga harga, dia tidak mendapatkan cerita tersebut.
‘’Saya hanya tahu, mesin percetakan itu merk Heidel Berd. Kakek pasti butuh perjuangan hingga mendatangkan mesin dari Jerman. Apalagi dulu zaman penjajahan sehingga tidak gampang orang pergi keluar negeri,’’ tambah dia.
Satu hal yang patut dicontoh, katanya, Kwee Khay Khee adalah sosok pejuang keras. Sejak kecil dia ditinggal orang tuanya meninggal dunia. Dia diasuh oleh nenek sehingga selalu mengenyam kehidupan keras. Dia memiliki beberapa usaha untuk mengumpulkan uang dan akhirnya bisa membeli mesin cetaak dari Jerman.
Beberapa keturunan Kwee Khay Khee menceritakan, mesin percetakan itu tentu tidak secanggih sekarang. Untuk mencetak sebuah kalimat, petugas cetak harus menata terlebih dahulu huruf demi huruf yang terbuat dari timbal. Setelah tertata rapi, mereka mesin kemudian dipress. ‘’Karena harus menata huruf, tentu butuh lama. Ada mesin yang menggunakan handpress dan ada yang menggunakan kaki,’’ tegas beberapa keturunan Kwee Khay Khee.(Febri Setyawan/ary)

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top