Tjahaja Timoer Sering Kritik Priyayi, Penerus Bangga Koran Lokal



MALANG - KETURUNAN Kwee Khay Khee, pendiri percetakan Kwee Khay Khee (KKK), memiliki banyak usaha bidang percetakan hingga sekarang. Mereka sangat bangga bisa meneruskan perjuangan leluhur di sektor percetakan. Sekaligus juga bangga, masih ada koran lokal Malang Post yang meneruskan kejayaan Tjahaja Timoer!
Para cucu, cicit hingga generasi setelahnya bisa melakukan reuni di Selecta Kota Batu, Sabtu (23/9) hingga Minggu (24/9), juga tidak terlepas dari usaha percetakan. Sebut saja Kwee Gwan Tjhay yang juga memiliki nama lain Laurensius Hermanto Budi, cucu Kwee Khay Khee adalah pemilik percetakan Aloma di Malang. Percetakan tersebut kini berkembang sangat pesat dan menjadi salah satu percetakan ternama di Kota Malang.
Begitu juga Kwee Tjiong Nio yang juga cucu Kwee Khay Khee. Dia memiliki percetakan AMAN di Surabaya. Percetakan tersebut tergolong besar di Kota Pahlawan, melayani berbagai perusahaan besar untuk produk-produk cetakan. Selain itu percetakan Aloha di Malang juga dikelola salah satu keluarga keturunan Kwee Khay Khee.
“Kami membuka usaha percetakan itu karena memiliki garis keturunan dari kakek yang juga memiliki percetakan sekaligus menerbitkan koran berbahasa Melayu pertama di Malang. Sekarang, percetakan ini juga lebih banyak dikelola anak saya,” ungkap perempuan yang memiliki nama lain Mariati Budi alias Kitty kepada Malang Post.
Dia mengaku sangat bangga dengan sang kakek yang telah mengajarkan sebagai pejuang tangguh dalam bidang usaha. Usaha percetakan hingga menerbitkan koran sejak 1907 hingga 1942 adalah perjuangan sangat berat. Jika pemilik percetakan atau penerbit koran tidak memiliki kegigihan dalam berjuang, koran tentu tidak bisa terbit terus menerus sepanjang waktu itu.
Dia juga sangat bangga karena usaha sang kakek juga menginspirasi keluarga dan orang lain untuk memiliki bidang usaha percetakan atau menerbitkan koran. Dia melihat koran Malang Post sudah mengilhami perjuangan sang kakek karena koran ini juga terbit di Malang.
“Koran atau media cetak Malang Post terbit di Malang. Meski sekarang tinggal di Surabaya, kami bangga dengan koran itu dan kami anggap meneruskan perjuangan kakek. Ada juga orang lain dulu belajar atau ikut dalam usaha keluarga kami dan sekarang buka percetakan sendiri,” tegas dia.  
Sementara itu, Dr. Reza Hudiyanto, Dosen Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) pernah melakukan penelitian mengenai percetakan Kwee Khay Khee. Dalam jurnal Humaniora karya dosen di Fakultas Sastra itu berjudul Pahlawan yang Terlupakan: Pers Melayu, Etnik Tionghoa dan Nasionalisme di Kota Malang 1920 – 1950.
Sesuai hasil penelitiannya, Tjahaja Timoer adalah koran berbahasa Melayu yang kali pertama terbit di Kota Malang. Surat kabar ini kali pertama kali di tahun 1907, namun informasi yang dapat diakses paling tua yakni di tahun 1914. Pada tahun 1914, redakturnya R. Djojosoediro.
Tjahaja Timoer terbit setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat dengan harga langganan sebesar f.2-per bulan. Sebagai perbandingan, dituturkan oleh Reza, upah minimum yang diterima per hari oleh rata-rata masyarakat kala itu yakni 2.5 sen atau sekitar f.025.
“Koran ini bisa dibilang besar karena bisa terbit kontinyu dari tahun 1907 sampai 1942. Banyak koran berbahasa Melayu lain yang tidak terbit secara kontinyu, seperti Oetoesan Geredja, Kristen Djawi, Swara Malang, dan lainnya. Substansi berita juga tidak seluas Tjahaja Timoer” urai Reza kepada Malang Post.
Dia mengungkapkan, koran Tjahaja Timoer terbit dengan empat halaman seukuran tabloid. Di halaman pertama, memuat kabar dunia, halaman dua mengenai kabar Jawa Timur dan juga ulasan redaktur, dan halaman tiga berisi hiburan atau kabar dari daerah lain.
“Kalau berita dari Malang, kebanyakan berasal dari kabar di Kabupaten Malang, sedangkan untuk daerah Kota Malang tak selalu ada setiap terbit. Kebanyakan berita populis, seperti mencuri Sarung Samarinda, pembantu mencuri perhiasan emas majikan, pembunuhan, atau sidang dewan,” imbuhnya.

Berita Lainnya :