Difabel Bisa Setir Mobil di Atas Kursi Roda


 
MALANG - Selalu ada yang istimewa di wisuda ITN Malang. Terutama karya para mahasiswa yang dituangkan dalam tugas akhir. Salah satunya diciptakan mahasiswi prodi Teknik Mesin D3 Inayah Nur'aini Latifah. Satu-satunya perempuan di Teknik Mesin ini layak membuat karya berharga bagi kaum difabel. Modifikasi mesin yang dibuatnya membuat para difabel bisa berkendara dengan nyaman di atas kursi roda. Bahkan, orang dengan kebutuhan khusus ini juga bisa mengendara sendiri dengan nyaman dalam mobil. 
Terinspirasi dari kesulitan para difabel dalam berkendara, Inayah Nur'aini Latifah memodifikasi sebuah kendaraan ramah kursi roda, Disability Car. Ide ini lahir karena Inayah kerap melihat pasien ayahnya yang terkadang terkendala tongkat dan kursi roda saat mengendarai motor. 
"Sekarang memang sudah banyak kendaraan yang dimodifikasi untuk difabel, misalnya menambahkan roda di bagian belakang kendaraan roda dua. Tapi saya melihatnya kok kurang nyaman," ujarnya.
Akhirnya, dia dan teman-temannya membuat suatu kendaraan berbentuk mobil mini namun menggunakan mesin sepeda motor, yakni GY6 dengan kapasitas 125 cc dengan menggunakan transmisi CVT.
Inayah lebih berfokus pada mesin kendaraan, sesuai dengan jurusannnya yakni D3 Teknik Mesin. Disability Car yang digagasnya ini diperuntukkan bagi satu orang tanpa penumpang, dengan bahan bakar pertalite dan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam.
“Sistemnya seperti mobil matic, jadi nantinya akan memudahkan para difabel mengendarai kendaraan ini karena semua control berada di tangan. Jadi fungsi gas dan rem bisa dikendalikan di tangan,” katanya.
Pengerjaan tugas akhirnya ini tidak selalu berjalan dengan mulus. Berbagai kendala teknis pernah dialaminya, salah satunya saat kaca untuk kendaraan yang kurang pas, sehingga harus dikembalikan ke pabrik.
“Motivasi awalnya sih cuman pengen cepat lulus, tapi kemudian ingin buat sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Alhamdulillah, selesai juga,” ucapnya.
Anak kedua dari empat bersaudara ini mengaku tidak menyangka bisa mendapatkan gelar lulusan terbaik dengan IPK tertinggi, yakni 3.54 Menurutnya, selama ini dia merasa menjadi mahasiswa biasa-biasa saja. Masalah belajar, Inayah lebih suka belajar secara praktik daripada dengan membaca buku.
"Lebih seru dengan praktek langsung, lebih cepat paham. Sejak SMK pun setiap libur, saya selalu ke bengkel untuk menambah pengalaman dan berlanjut hingga sekarang. Bukan bekerja sih, hanya ikut-ikut saja. Tapi ada saja yang memberi uang, katanya buat beli pulsa,” ujar anak pasangan Yusuf Abdul Ghoni dan Siti Indariyani ini. (ras/adv/oci)

Berita Lainnya :