Suka Duka Para Relawan SAR, Tangani Korban Tewas Terbesar Kedua


MALANG – Perjuangan relawan search and rescue (SAR) mengevakuasi tujuh korban tewas dari Balai Desa Ngadas layak mendapat apresiasi. Ini adalah korban tewas nomor dua dari sisi jumlah, yang pernah dievakuasi ke Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Saat evakuasi ke Ngadas, sebagai salah satu desa tertinggi di Jawa, beberapa kendaraan sempat mogok.
Para relawan mengawal tujuh jenazah mulai dari kedatangan di Rumah Sakit Saiful Anwar, hingga dipulangkan ke rumah duka. Ya, Ngadas adalah desa di lereng Gunung Semeru dengan ketinggian sekitar 2.200 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Jenazah tujuh korban keracunan karbon monoksida, datang dengan iring-iringan 12 kendaraan ambulance dan mobil patroli.
Kabid Kedaruratan dan Penanggulangan Bencana BPBD Pemkab Malang Bagyo Setyono menyebut akses yang menanjak curam tak menurunkan semangat relawan.
“Kendaraan beberapa teman yang naik ke Ngadas mengalami mogok, tapi beruntung ada back up sehingga proses evakuasi berjalan lancar sampai tiba di Instalasi Kedokteran Forensik (Kamar Mayat, Red) RSSA Malang,” kata Bagyo kepada Malang Post kemarin.
Sejak mengevakuasi jenazah, para petugas sudah memberi nomor untuk tiap kantong jenazah. Para korban sudah mendapatkan nomor tersendiri agar memudahkan proses evakuasi. Sekitar 12 kendaraan, yakni tujuh ambulance dan lima kendaraan polisi dan relawan, mengawal perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam dari Ngadas ke Instalasi Kedokteran Forensik (KM, Red) RSSA Malang.
Jenazah Nurokhim 33 tahun asal Wonorejo Poncokusumo diberi nomor satu dan datang pertama, jenazah nomor tiga, Imam Safii Wonorejo Poncokusumo datang di urutan kedua. Setelah itu, jenazah nomor enam, Muhammad Yusuf 21 tahun warga JA Suprapto Samaan, tiba di KM pada urutan ketiga.
Diikuti, jenazah nomor dua Hasrul Prio Purnomo 29 tahun dari Lamongan, jenazah nomor tujuh Jumadi 34 tahun warga Gedog Wetan, jenazah nomor empat Ahmad Saifudin 38 tahun Wonorejo Poncokusumo, dan diakhiri jenazah nomor 5 Irawan 35 tahun Wonorejo. Setelah evakuasi jenazah, petugas medis mulai sibuk di dalam ruang forensik.
Para petugas tampak sibuk meski melakukan otopsi di ruang tertutup. Beberapa kali mereka keluar masuk ruang forensik. Catatan Malang Post, tujuh jenazah korban keracunan karbon monoksida merupakan rombongan mayat terbesar kedua yang ditangani oleh para petugas medis Kamar Mayat (KM) RSSA dalam beberapa tahun ini.
Sebelum menangani tujuh mayat secara bersamaan itu, para petugas otopsi KM pernah menangani sembilan mayat mahasiswa yang mengalami kecelakaan tragis di Batu. Jadi, ini adalah tragedi terbesar kedua, yang nomor tiga adalah insiden penembakan di Alastlogo Pasuruan, sebanyak empat korban tewas.
“Betul, ini terbesar kedua setelah kecelakaan di Batu, yang sembilan orang meninggal dunia,” aku salah satu petugas kepada Malang Post.
Untuk proses otopsi tujuh korban tewas di Ngadas, berjalan selama kurang lebih selama 3 jam 15 menit. Rombongan jenazah tersebut, meninggalkan KM RSSA sekitar pukul 17.30 WIB sore kemarin.(fin/ary)

Berita Lainnya :

loading...