magista scarpe da calcio Kisah Empat Bersaudara Tewas, Dimakamkan Berdampingan


Kisah Empat Bersaudara Tewas, Dimakamkan Berdampingan


MALANG POST - “Aku ditinggal…aku ditinggal”. Teriak Dian Puri Indah, sembari menangis histeris di pelukan Ngatminah, kakak iparnya. Wanita berusia 25 tahun ini, sangat terpukul. Pasalnya, ia baru saja merasakan kebahagiaan sebagai pengantin baru. Namun, suaminya, Ahmad Syaifudin alias Diono (38 tahun), sudah pergi untuk selama-lamanya.
DIONO, adalah salah satu dari tujuh korban tewas akibat menghirup Karbon Monoksida, di Aula Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo. Penikahan Dian dan Diono, hari ini genap 35 hari (selapan hari,Red). Mereka pasangan pengantin baru yang bahagia. Meski status Dian adalah janda satu anak, namun Diono sangat menyayanginya.
“Dia (Diono, red) suami yang baik,” ucap Dian lirih kepada Malang Post, sembari mengusap air matanya yang membasahi pipi.
Dia masih ingat, Minggu (24/9), mereka masih bercanda bersama. Bahkan keduanya masih berboncengan motor, dari rumah Dian di Desa Gedog Wetan, Turen, ke rumah Diono di Desa Wonorejo, Poncokusumo. Tragisnya, selain kehilangan suami, Dian juga kehilangan kakak kandungnya bernama Jumadi (34 tahun), yang turut tewas di Ngadas.
Diono berpamitan berangkat kerja pada Senin (25/9) pagi. Dia berangkat dengan kakak iparnya yakni Jumadi (34 tahun).  Mereka berangkat dengan naik sepeda motor menuju Desa Ngadas, untuk bekerja di sebuah bangunan.
Tidak ada firasat ataupun tanda-tanda. Bahkan, Diono masih melempar senyum kepada istrinya, Dian. Selama bekerja itu, mereka sudah tidak lagi bertemu. Komunikasi lewat handphone, tidak bisa karena sinyal yang sulit terjangkau. Kalaupun ada sinyal, hanya bisa mengirim pesan (SMS).
“Tadi malam (Kamis malam, red) masih sempat kirim SMS. Katanya lampu mati tidak bisa menghubungi. Setelah itu, sudah tidak bisa tersambung lagi,” ujarnya.
Dian tidak menduga kalau SMS yang dikirim itu, adalah yang terakhir dari suaminya. Sebab ia sama sekali tidak menyangka suaminya tewas. Apalagi, hari ini (Sabtu, red) suaminya sudah berjanji pulang tepat waktu, untuk memperingati selapan hari pernikahan mereka.
“Hari Rabu (27/9) lalu, dia (Diono, red) sempat menghubungi. Saya diminta pulang membantu memasak untuk selapan pernikahan. Sekarang saya pulang, ternyata mendapat kabar ini (kematian Diono, red),” sambung Ngatminah, kakak kandung Diono.
Yang membuat Dian, semakin terguncang dan terpukul, karena Jumadi, kakak kandungnya juga ikut menjadi korban. Sebab selama ini, Jumadi yang selalu sayang dan peduli terhadap dirinya.
Malang Post juga merekam kesedihan di keluarga Jumiati, istri Nurokhim korban gas di Desa Ngadas. Tatapan matanya terlihat hampa. Ia nampak shock dengan kabar kematian suaminya. Di dalam sebuah kamar di rumahnya, Jumiati ditenangkan oleh dua orang perempuan. Salah satunya Sumakiyah, ibu Nurokhim.
Jumiati terus menangis. Beberapa kali terus menyebut nama suaminya. Ia masih belum bisa menerima kejadian tragis yang dialami suami serta enam korban lainnya.
Dari penuturannya, Jumiati kali terakhir bertemu dengan suaminya hari Senin (25/9) pagi. Saat itu, Nurokhim berpamitan berangkat kerja ke Ngadas. Nurokhim berangkat dengan sepupunya, Moch. Imam Safii, (19 tahun) yang juga salah satu dari tujuh korban meninggal dunia.
“Berangkatnya pukul 06.00, membawa sepeda motor. Sejak saat itu, saya sama sekali tidak pernah komunikasi,” tutur Jumiati, sembari berpesan kepada salah satu saudaranya agar jenazah suaminya disucikan di rumah.
Sudah tiga pekan ini, Nurokhim bekerja bangunan di Ngadas. Biasanya pulang setiap hari Sabtu. Namun kali ini, suaminya pulang sudah menjadi mayat.
“Sejak dua hari perasaan saya tidak enak. Selalu terbayang wajah suami. Tetapi beberapa kali mencoba menghubungi, selalu gagal karena tidak ada sinyal,” paparnya.
Sementara itu, korban Moch Imam Safii, adalah anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Jumad dan (alm) Suliati. Selama ini, Imam tinggal di rumah Nurokhim. Antara Nurokhim dengan Ahmad Syaifudin alias Diono, juga masih ada hubungan saudara.
“Saya jarang sekali bertemu dengannya (Imam, red). Ketika bertemu pun juga jarang ngobrol. Saya menyesal karena selama ini tidak tinggal dengannya,” ucap Jumad.
Sedangkan Bambang Irawan, adalah asli warga Desa Pandansari, Poncokusumo yang menikah dengan Faricha Masruroh, warga Desa Wonorejo. Mereka tinggal satu RT dengan Diono dan dikaruniai seorang anak.
Musonif, salah satu tokoh masyarakat, mengatakan bahwa jenazah keempat korban yakni Ahmad Syaifudin alias Diono, Nurokhim, Bambang Irawan dan Moch. Imam Safii, akan dimakamkan berdampingan. Sedangkan jenazah Jumadi kaka ipar Diono, dimakamkan di Turen.
“Pemakaman dilakukan hari ini (kemarin, red). Meskipun jenazah datangnya malam tetap akan langsung dimakamkan,” jelas mantan Sekdes Wonorejo.
Sementara itu, ketika keluarga sibuk mengurusi jenazah para korban di instalasi kedokteran forensik (kamar mayat) Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), warga sekitar membantu mempersiapkan kebutuhan pemakaman. Sedangkan ibu-ibu, terlihat datang berziarah sembari berusaha menenangkan istri dan keluarga korban. “Yang sabar dan ihklas ya,” kata beberapa warga.(agung priyo/ary)

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top