Zhaenal Fanani, Novelis Asli Dampit

Dunia literasi Malang boleh berbangga memiliki novelis Zhaenal Fanani asal Dampit. Dia telah menelurkan 30 novel bersama penerbit besar macam Diva Press atau Tiga Serangkai sejak 2009 lalu. Kontribusi literasinya untuk Malang dan Indonesia tak terbantahkan. Bahkan, Zhaenal masih aktif menulis sampai sekarang dan sedang memproduksi novel ke-31 bersama Pustaka Al-Kautsar Jakarta.
Suara renyah yang meluncur dari Zhaenal Fanani menyambut Malang Post yang mewawancarai pria berkumis itu. Dengan gaya bicara yang santun dan tenang, novelis asal Dampit tersebut antusias menceritakan buku terbarunya yang kini sedang digarap dengan Pustaka Al-Kautsar, penerbit buku asal ibukota.
“Benar, sekarang sedang mengerjakan naskah untuk novel baru. Saya baru kali pertama garap genre ini, yaitu novel bergambar. Saya menulis novel tentang kisah Nabi Muhammad. Totalnya lima jilid. Insyallah, novel komik jilid pertama bakal terbit akhir tahun 2017 ini,” kata Zhaenal kepada Malang Post. 
Karya ke-31 dari pria kelahiran 7 Maret 1963 tersebut adalah ranah baru setelah sebelumnya terjun di berbagai genre. Menurut Zhaenal, latar belakang karya anyar ini tak lepas dari sedikitnya literatur bergaya novel yang menceritakan soal Muhammad. Selama ini, karya-karya yang dibacanya, lebih banyak menceritakan soal sahabat Nabi.
“Latar belakangnya karena memang literatur dengan cara penulisan novel soal Nabi Muhammad terhitung sedikit. Malah, cerita tentang sahabat Nabi yang lebih banyak. Karena itu, kami bermaksud memperluas khazanah cerita Nabi dalam novel komik,” ungkap Zhaenal, sembari menyebut novel anyar ini diperuntukkan bagi kalangan anak-anak hingga dewasa.
Selain menggarap karya novel komik, alumnus SDN Dampit 1 ini juga sedang mempersiapkan naskah untuk buku setebal 1000 halaman. Jika tidak ada halangan, maka dia akan mengerjakan naskah berjudul Muhammad, History, Culture and Politic. Zhaenal juga menggarap buku ini bersama penerbit Pustaka Al-Kautsar.
Dengan karya-karyanya sekarang, Zhaenal adalah satu dari sedikit novelis asli Malang yang bisa bertahan dalam kerasnya industri penerbitan Indonesia. Sejak 2009 sampai sekarang, dia memproduksi total 30 novel. Mulai dari Bulan Di Langit Athena yang menyabet predikat My Book Award 2012 dari Unsa Press.
Atau, Senja Di Alexandria dari Diva Press yang meraih kesuksesan besar sehingga telah cetak ulang empat kali. Ada pula judul populer macam Debu-Debu Rahim serta Sunset Terakhir di Teheran yang muncul dari buah kreativitas literasi Zhaenal. Alumnus MAN 1 Malang tersebut juga tak segan menggarap genre novel lainnya.
Untuk genre thriller, dia menulis novel Gerbang Dunia Ketiga dan Hamaroch. Novel fiksi sejarahnya, Ken Arok ; Cinta dan Takhta, Damarwulan ; Retaknya Mahkota Majapahit, hingga Dewi Kencana Wungu. Santri ponpes Raudalatul Muta’allimien serta ponpes Salafiyah Shirotul Fuqoha’ itu juga menulis soal tokoh sejarah dunia.
Genghis Khan, Troy hingga Karbala yang dicetak ulang tiga kali. “Saya juga tulis soal buku genre teori konspirasi, seperti House of Lord, The Eye of Horus, Trilogi Tabut Menorah, serta Solomon Temple,” tandas bungsu tiga bersaudara ini. Meskipun sudah mencapai level novelis veteran dengan puluhan bukunya, perjalanan Zhaenal dalam industri literasi Indonesia tak selancar kelihatannya.
Zhaenal muda, sudah menyukai mengarang sejak SD. Dia pernah menjadi juara lomba menulis sekolah dasar, mulai dari tingkat sekolah hingga Kabupaten Malang. Meskipun juara, putra dari pasangan almarhum Solikhin dan Hj. Raudah ini tak segera menekuni bidang yang kini menghidupinya.
Hingga lulus SMA, bakat menulis Zhaenal lebih banyak dipakai untuk bikin surat cinta. Bahkan, ketika menuntut ilmu di Universitas Islam Malang (Unisma), Zhaenal tak jua mengasah bakat literasinya. Lulus dari kampus, Zhaenal mencoba peruntungannya sesuai bidang yang dipelajarinya, yaitu guru.
Dia merantau ke Jakarta. Tapi, nasib berkata lain. Dia tak segera menemukan lowongan untuk pekerjaan guru setelah lulus. Akhirnya, dia menemukan lowongan untuk jadi penulis di sebuah koran. Tidak ada yang menyangka, desakan kondisi ekonomi di Jakarta, memicu emas yang selama ini tersimpan dalam dirinya.
Zhaenal kembali tenggelam dalam dunia literasi dan menulis cerita silat berjudul Pendekar Mata Keranjang sebanyak 12 episode. Novelnya digemari dan laris. Setelah itu, dia menulis Pendekar Seribu Bayangan sejumlah 18 episode, sebelum akhirnya sukses dengan novel Joko Sableng yang mencapai 58 episode.
Tahun 1993, Zhaenal melahirkan serial silat Joko Sableng yang kemudian dibeli oleh SCTV pada 1997. “Akhirnya novel saya dijadikan serial televisi,” tambahnya. Hanya saja, setelah ledakan karyanya lewat Joko Sableng, Zhaenal kembali menghilang dari dunia literasi Indonesia. Kevakuman ini terjadi selama kurang lebih 10 tahun.
Akhirnya, pada tahun 2008, Zhaenal turun gunung untuk menulis novel yang jadi pekerjaannya sampai sekarang. Tahun 2009, Zhaenal menelurkan Madame Kalinyamat bersama Diva Press. Setelah itu, karya-karyanya muncul secara beruntun, seperti Tsu Zhi, Kantata Ababil, Troy, The Chronicle of Gengis Khan, Aeromatical, Sujudlah Cintamu, Gerbang Dunia Ketiga, Hamaroch, Ark of Covenant, Anak-Anak Langit, Shema Whirling Dervish Dance, Senja di Alexandria, Menorah, Karbala, Bulan di Langit Athena, Sunset Terakhir di Teheran, Sepenggal Bulan Untukmu hingga Rondenvus di Selat Hormuz.
“Pada tahun 2011, saya pernah membuat rekor, 8 novel saya terbit secara beruntun dalam satu tahun. Itu karena setelah naskah selesai, saya tidak tunggu penerbit untuk tahu apakah tulisan saya diterima. Selesai nulis satu novel, saya langsung mulai lainnya. Gak nyangka, terbit semua,” sambung Zhaenal.
Dia menyadari, sulit untuk eksis sebagai penulis dengan tuntutan ekonomi yang seperti sekarang. Namun, Zhaenal menyebut selama konsisten, penulis manapun bisa hidup dari industri literasi. “Tipsnya ada tiga, Satu, banyak membaca. Tanpa membaca tak akan bisa menulis. Dua, konsisten dan kontinyu dalam berkarya. Tiga, berani memulai naskah, dan berani mengakhiri,” tutup Zhaenal.(fino yudistira/ary)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...