magista scarpe da calcio Mengenal Agus Mardiyanto, Pimpinan Padepokan Seni Manggala Aji


Mengenal Agus Mardiyanto, Pimpinan Padepokan Seni Manggala Aji

Candi Badut malam itu terlihat lebih elok ketimbang biasanya. Sorot lampu warna warni di badan candi. Sorot ini senada dengan arti nama dalam bahasa Sansekerta, Bha-dyut yang berarti sorot bintang canopus atau sorot Agastya. Di antara sorot warna, terlihat Barong menari, meliuk-liuk mengikuti iringan musik.  Tiba-tiba dari kepala Barong keluar semburan api.

Ya, pertunjukan seni Barong menyemburkan api ini, sesuatu yang baru. Ini menunjukkan bahwa Barong tengah mengeluarkan kesaktiannya. Wahana api dari Barong dalam sebuah pertunjukan seni sungguh luar biasa. Maka ketika semburan api mengarah ke langit ini terlihat indah, singkatnya keren!
 Penonton pun terhenyak, terkejut, terkesima, tidak menyangka barong ini menyemburkan api, di tengah tarian dan liak liuk badannya. Tepuk tangan penonton pun membahana mengiringi permainan menakjubkan yang dibawakan padepokan seni Manggolo Aji, pimpinan Agus Mardiyanto.
Sejauh ini, hanya padepokan seni ini yang memiliki tarian Barong Sembur Geni ini, tak heran karya padepokan ini tidak hanya digandrungi anak negeri, namun juga disukai orang asing.
Pertunjukan ini tidak terlepas dari tangan dingin Agus Mardiyanto. Laki-laki ini lahir dari lingkungan keluarga seni. Ayahnya adalah Ki Iswandi, sesepuh sekaligus guru besar Padepokan Gunung Ukir, Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Ibunya adalah Nyi Sumarni, penari, pesinden sekaligus penata rias busana. Darah seni kedua pasangan ini nampaknya menurun ke Agus Mardiyanto.
 “Mulai kecil saya sudah berkecimpung dengan berbagai aktifitas seni, bahkan bisa dikatakan mulai masih di dalam perut ibu, saya sudah dikudang dengan irama seni, khususnya seni tradisi, “ ujar Agus Mardiyanto.
Sejak kecil. Agus sudah terbiasa melihat gerakan-gerakan seni, telinganya pun setiap hari mendengar suara musik tradisional. Tanpa sekolah seni atau memperdalam seni di perguruan tertentu,  Agus belajar seni secara otodidak. Ia hanya mendapatkan bimbingan dari bapaknya Iswandi.
 “Mulai dari kecil, saya dididik untuk selalu mengenal, mencintai, mempelajari semua unsur seni, baik seni tradisi, kreasi, kontemporer hingga modern, “ ujar bapak lima anak ini.
Ia belajar mulai dari seni gerak tari, musik, drama teater, lukis dan vokal. Mulai dari situ, ia pun akhirnya menjadi pribadi yang begitu mencintai kekayaan seni dan budaya leluhur.
Hingga ketika masih sekolah, ia berpikir bagaimana terus memajukan seni budaya nusantara. Ia pun tidak hanya berpikir bagaimana melestarikan budaya, tapi juga bagaimana mengembangkan seni melalui inovasi dan kreativitas baru.
“Saya bercita-cita, budaya kita dikenal negeri orang lain dengan cara Go International, “ tegas seniman berusia 33 tahun.
Barong sembur geni adalah salah satu inovasi seni baru yang dibuatnya. Agus mengatakan bahwa penciptaan barong sembur geni ini terinspirasi dari teman-temannya dari Sanggar Seni Turonggo Madyo, Desa Oro-Oro Ombo pimpinan Bu Titin. Ia melihat sanggar seni tetangga desa ini memiliki potensi luar biasa, hingga akhirnya ia sering datang untuk sinau bareng.
“Dari situ, akhirnya saya coba untuk mengolah lagi, menata, meracik barong sembur geni, agar lebih tertata lagi secara artistik, secara musikal, dan secara gerak tari, “ ujarnya.
Setiap hari mereka melakukan latihan, karena dalam penari sembur geni, jangan bermain api, jika takut terbakar. Artinya terbakar saat latihan adalah hal yang biasa.
Saat latihan maupun saat pertunjukan, sering terjadi kendala, namun semua itu dipersiapkan dengan baik, hingga dari sebuah kesalahan dan kekurangan akan muncul kesempurnaan.
 “Karena itu, saya selalu memotivasi, semua murid saya, bahwa orang sukses itu adalah orang yang selalu menghargai proses, “ bebernya.       
Selain itu, ia mengatakan bahwa lebih baik mandi darah saat latihan daripada mandi keringat karena malu saat pertunjukkan. Ia mengajak seluruh anak didiknya untuk memegang prinsip ilmu padi, selalu berdoa, bekerja keras, bekerja cerdas, tuntas dan ikhlas.
 Awalnya ia menjadi penanggung jawab produksi Padepokan Gunung Ukir selain sebagai wakil pimpinan. Namun sejak tahun 2016, ia dipercaya oleh ayahnya untuk menjalankan padepokan seni sendiri. 
Hal ini juga sendiri juga berguna untuk pengkaderan keturunan Padepokan Gunung Ukir. Meskipun sudah mendirikan padepokan sendiri, Agus mampu terus berkreasi, hingga karya-karya membumi.
Barong sembur geni dibuat dan disiapkan untuk pertunjukan di Amerika Serikat tahun 2018. Hampir setiap tahun ia dan padepokannya pergi keluar negeri, tahun 2009 ia bermain di Singapura, tahun 2012 di Thailand, tahun 2013 di Chungju Korea Selatan. Lalu tahun 2014 ke Jerman dan tahun 2015 ia menggelar pertunjukkan di Melbourne Australia. Serta tahun 2016 ke Belanda dan tahun 2017 di Kuala Lumpur Malaysia. Semua itu dilakukannya untuk memperkenalkan kesenian Indonesia di negeri orang lain. (M. Dhani Rahman/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top