Mpu Fanani, Perajin dan Kolektor Keris asal Singosari


MALANG POST - Di dunia yang serba modern ini, hanya sedikit orang yang masih mau melestarikan dan mengoleksi senjata tradisional atau yang biasa disebut orang jawa tosan aji. Bahkan perajin tosan aji saat ini bisa dikatakan hanya tinggal hitungan jari, khususnya Malang.
Zainal Fanani (51) asal Jalan Tumapel Kecamatan Singosari Kabupaten Malang merupakan salah satu empu (pembuat keris) yang masih aktif hingga saat ini. Meski bisa dibilang masih baru berkecimpung di dunia tosan aji, namun sudah banyak keris yang dibuatnya. Tidak hanya menjadi perajin, namun ia juga kolektor dan pelastari benda pusaka. Seperti tombak dan pedang warisan kerajaan nusantara sejak tahun 1992.
Empu Fanani punya alasan dalam membuat senjata warisan budaya kerajaan nusantara ini. Menurutnya, peninggalan sejarah dapat menjadi alat untuk mengetahui dan mempelajari sejarah hingga berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lalu dapat digali melalui benda sejarah. Itulah salah satu alasan laki-laki bergelar  KRT (Kanjeng Raden Tumenggung) dari keraton Surakarta ini masuk dalam dunia tosan aji.
Meskipun baru setengah abad ia menggeluti dunia tosan aji, orang yang masuk ke dalam rumahnya pasti akan terperangah. Pasalnya di dalam rumah sederhananya, ada 100 lebih pusaka yang telah dikoleksinya. Bahkan dari koleksinya, ada beberapa pusaka yang telah berumur ribuan tahun. Jangan heran jika tosan aji yang dikoleksinya merupakan peninggalan kerajaan Singosari, Majapahit, Jenggolo, Tuban hingga Mataram. Benda-benda itu didapatkan saat berkunjung ke kota-kota lain seperti Jogajakarta dan Solo.
“Saat ini sudah jarang orang yang suka dengan tosan aji. Meski ada, pasti sulit dicari. Untuk itu, salah satu cara untuk melestarikan keris ialah dengan membuatnya. Kemudian melakukan aktifitas jual beli,” ujar Fanani kepada Malang Post.
Mpu Fanani mengungkapkan, tosan aji pernah sempat booming pada tahun 90 hingga 2000an. Namun memasuki tahun 2000an mulai meredup. Sehingga banyak pula perajin keris yang beralih profesi dan keluar dari Malang untuk mencari pasar yang lebih menggairahkan.
Dijelaskan Fanani, dalam pembuatan benda pusaka keris tidak bisa sembarangan.  Karena harus melalui beberapa ritual. Mulai dari selamatan, persiapan, pemilihan pamor dan menentukan tanggal.  “Contoh, dalam prosesnya dibutuhkan air yang diambil dari sumber Biru yang ada Desa Gunungrejo Kecamatan Singosari Kabupaten Malang hingga air zam-zam,” terangnya.
Setalah semuanya siap, lanjut dia, barulah dilakukan penempaan. Saat penempaan juga diiringi dengan bacaan doa. Harapannya agar keris yang telah selesai dibuat memiliki isian sesuai dengan permintaan pemesan. “Waktu yang dibutuhkan untuk membuat keris pesanan pribadi bisa mencapai 40 hari,” imbuh laki-laki kelahiran 3 Februari 1965 ini.
Untuk harga sebuah keris yang dibuatnya bervariasi. Mulai dari Rp 1 juta hingga puluhan juta. Baik ukuran sedang maupun besar. Sementara untuk jenis keris yang telah dibuat di antaranya, keris dapur brojol, tilam upih, tilam sari, jalak nguri, jalak sungu tumpeng, jalak nyucup hingga banyak lagi. Sedang untuk keris yang paling terkenal dan terbilang mahal adalah keris naga sasra. Karena bahan bakunya bercampur dengan emas.
Selain itu, keris hasil buatannya tidak hanya dipesan oleh pecinta ataupun kolektor keris. Namun beberapa pengusaha dan pejabat telah banyak yang memesan kepadanya. Namun ia menjelaskan jika hal itu tidak boleh disalah artikan.
“Keris seharusnya tidak lagi dianggap sebagai benda yang keramat. Keris adalah sebuah karya seni, sehingga dengan cara pandang seperti itu akan semakin banyak kalangan muda yang  akan belajar mengenal, mencintai dan kemudian melestarikan keris sebagai warisan budaya bangsa,’’ pungkasnya.(eri/lim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...