Peraih Emas di SEA Games 2017, Atjong Tyo Purwanto


MALANG POST - Atjong Tyo Purwanto, 25, tak pernah membayangkan mimpi-mimpinya untuk membanggakan kedua orangtuanya bakal terwujud. Berkat prestasinya itu, anak keenam dari delapan bersaudara ini bisa menyelasaikan pendidikannya hingga bangku SMA. Sementara ketujuh saudaranya harus putus sekolah.
Laki-laki kelahiran Malang 17 Oktober 1991 ini lahir di keluarga dengan ekonomi yang serba kekurangan. Sehingga, adalah sebuah kemewahan jika ia bisa menikmati bangku sekolah dibanding saudara-saudaranya. Meski semuanya tidak diperoleh dengan mudah. Untuk memenuhi uang sekolah dan jajan sehari-hari, ia harus rela berlarian di pematang sawah setelah pulang sekolah hingga sore hari, demi mendapatkan rupiah untuk biaya sekolah. Pelepas burung merpati, itulah pekerjaan yang digelutinya setiap pulang sekolah.
Dari kerja itu, ia bisa mendapat uang Rp 1.500 setiap hari dengan hanya berlari bolak-balik untuk melepas burung merpati. “Kalau mengingat masa kecil saya, rasanya ingin meneteskan air mata. Bagiamana tidak, ketika saya bisa bersekolah, saudara saya banyak yang putus sekolah. Kedua orangtua kerja sebagai penjual sate keliling. Jadi untuk bayar biaya sekolah seluruh anaknya tidak memungkinkan,” kenang Atjong.
Ia tidak ingin putus sekolah, maka bekerja adalah pilihan satu-satunya untuk dapat keluar dari keadaan ekonomi yang menjerat keluarga. “Sejak kelas III SD saya sudah bekerja. Dengan melepas burung merpati sepulang sekolah. Nah, dari uang hasil lari-lari di pematang sawah dengan terik matahari itu, setidaknya saya masih bisa bersekolah,” ujar Atjong dengan tertawa riang sembari mengenang.
Hingga saat memasuki kelas V SD, ada suatu perlombaan Pekan Olah Raga dan Seni (Porseni) tingkat SD. Dari perlombaan itulah, perubahan jalan hidupnya dimulai. “Waktu itu, ada perlombaan Porseni SD cabor lari. Saya salah satu siswa yang diikutkan oleh sekolah. Tidak diduga saya berhasil finish di posisi pertama dan mengalahkan atlet-atlet yang sudah profesional,” ceritanya. Rupanya, aktivitas berlarian sebagai pelepas merpati secara tidak langsung menjadi latihan intensif bagi Atjong. Berlari di pematang sawah dalam kondisi panas, yang dilakukan hampir tiap hari menguatkan fisiknya. Ia mempunyai energi lebih saat berlari.
Setelah lulus SD dan mengetahui bakat yang dimiliknya, Atjong memberanikan diri untuk datang ke stadion Gajayana untuk bergabung latihan. “Saking kepinginnya ikut latihan, saya nekat berangkat ke stadion tanpa alas kaki. Melihat kondisi tersebut, mungkin ibu merasa kasihan dan membelikan saya sepatu lari,” bebernya.
Saat masuk SMP, iapun tidak menyia-nyiakan bakatnya dan memberanikan diri menghadap Kepala Sekolah untuk meminta keringanan biaya yang ditukar melalui prestasinya. “Saya beranikan menghadap kepala sekolah untuk menyampaikan, jika saya bisa berhasil juara lari di tingkat kota diberi gratis SPP dua bulan, tingkat provinsi gratis tiga bulan dan tingkat nasional gratis lima bulan,” tantangnya.
Atjong berani menawarkan tantangan itu sebab ia punya kepentingan. Ia percaya diri bisa memenangi perlombaaan dan berharap dapat meringankan biaya sekolah ketika dapat keringanan. Ia kala itu masih bermimpi untuk tetap dapat bersekolah.
Setelah lulus SMP, Atjong melanjutkan pendidikan di SMA. Namun cerita berjalan tidak menanjak. Ia sempat berhenti berlari dan memabntu kedua orangtuanya berjualan sate. Namun karena tidak tega melihat orangtuanya berjualan sate terus menerus, Atjong pun kembali ke lapangan hijau untuk kembali ikut berbagai lomba lari. Beberapa prestasipun mulai kembali diraihnya. Hingga setelah lulus SMA dan berkat prestasinya, ia diterima sebagai anggota TNI.
Sebagai anggota anggota TNI Angkatan Darat berpangkat sersan satu di Yonif Mekanis 521 Kodam Brawijaya, gelontoran prestasi masih juga diraihnya, mulai dari SEA Games 2017 dengan meraih emas di 3000 M stc, Sea Games 2015 meraih perunggu di 3000 M stc, Pon Jabar 2016 meraih emas di 3000 M stc, Kejurnas senior dari 2013-2016 meriah emas di 3000 M stc, dan masih banyak lagi.
“Dari berbagai prestasi yang saya dapat, saya berterimakasih kepada semua orang yang selalu mendukung saya dalam berbagai keadaan. Utamanya pelatih, komandan dan rekan-rekan. Mereka selalu memberikan semangat dan itu menjadi tenaga baru bagi saya," ungkapnya.
Atjong tidak ingin dengan segala prestasi yang telah diraih membuatnya sombong dan berpuas diri. Kini, setidaknya ia bisa membahagiakan saudara-saudaranya dan tentu mengharumkan nama Indonesia melalui olahraga. “Keinginan saya saat ini hanya untuk membahagiakan semua orang yang ada di dekat saya. Karena saya sadar, hasil yang saya peroleh adalah jerih payah dari orang-orang terdekat saya,” pungkasnya. (eri/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :