Ningsih Menikah Bulan Depan, Sarmini dan Ani Sepakat Pergi ke Taman

 
MALANG - Petaka yang menimpa pekerja home industry di Karangbesuki menyisakan kisah duka. Dua di antaranya adalah kisah Ningsih, yang seharusnya menikah bulan depan. Selain Ningsih, korban berstatus ibu dan anak, Sarmini dan Ani, juga tak kalah pedih. Sebelum peristiwa itu, Sarmini sempat berkelakar mengajak Ani jalan-jalan, ke lokasi yang indah seperti taman.
Usai bercerai dari suaminya beberapa tahun lalu, Ningsih, 40 tahun, hendak memulai hidup baru dan menikah dengan lelaki dambaannya Taufik Nur Hidayat (27 tahun) bulan depan. Akan tetapi, keinginan ini harus kandas di tengah jalan. Ningsih menjadi salah satu dari lima korban tewas dalam peristiwa kebakaran di sebuah rumah industri Jalan Raya Candi V no 247 RT 05 RW 05 Kelurahan Karangbesuki Kecamatan Sukun Kota Malang, Rabu (4/10).
Tewasnya Ningsih benar-benar mengagetkan keluarga yang ditinggalkan. Ningsih pergi meninggalkan tiga anaknya yang masih bersekolah. Adapun, Taufik Nur Hidayat teman kerjanya selamat.
Saat ditemui di rumah duka, Jalan Raya Candi 2 No. 143 RT 1 RW 2 Kelurahan Karangbesuki tepatnya di Kampung Klaseman, isak tangis keluarga begitu terdengar jelas. Anik Hidayani, salah seorang kerabat Ningsih menjelaskan firasat yang ia dapat terhadap kejadian nahas yang menimpa Ningsih.
“Kalau tidak salah tiga hari sebelum kejadian ini ibu dan kakak saya mimpi yang sama. Mimpi rumah Ningsih ramai sekali dikunjungi orang,” ungkap wanita yang berkediaman tepat di sebelah rumah Ningsih.
Ia menceritakan kembali bahwa firasat ini tidak dipedulikan keluarganya dan kemudian baru menyadari saat kejadian ini terjadi. 
Anik juga menceritakan bahwa Ningsih tidak lama lagi akan melangsungkan pernikahannya dengan teman kerjanya bernama Taufik. Bahkan beberapa minggu lalu, Ningsih dan Taufik sudah berkonsultasi dengan keluarga untuk menentukan tanggal pernikahan.
“Ningsih dulu punya suami dan tinggal di Ambon. Setelah bercerai mantan suaminya kerja di Jakarta lalu Ningsih kembali ke Malang. Saya lupa kayaknya sekitar tiga sampai lima tahun yang lalu,” ungkap Anik. 
Ia kembali menceritakan bahwa Ningsih pun setelah bercerai menghidupi sendiri tiga anaknya yang ia bawa. Akan tetapi satu anaknya, belum lama ini pergi ke Jakarta untuk mencari kerja. Tinggalah Ningsih dengan dua anaknya di Malang.
Anik mengatakan bahwa Ningsih merupakan sosok ibu yang bekerja keras demi anak-anaknya. Di rumah industri tersebut, Ningsih bekerja sebagai pengantar produk kripik-kripik ke swalayan-swalayan atau toko langganan. 
Ia mengatakan bahwa Ningsih sempat menawarinya pekerjaan di rumah industri nahas tersebut akan tetapi Anik menolak karena sudah mendapatkan pekerjaan. 
Ningsih pun dikatakannya sangat ramah dan baik kepada semua orang sekitarnya. Pagi hari sebelum kejadian nahas terjadi pada Ningsih, Anik sempat ditegur Ningsih karena memarahi anak Anik sendiri.
“Saya ditegur Ningsih waktu pagi dia mau berangkat kerja. Saya lagi marah-marah sama anak saya dia bilang jangan seperti itu. Katanya ‘pagi-pagi kok wes marah-marah,” kenang Anik.
Ia melanjutkan, pagi hari itulah waktu terakhir Anik melihat Ningsih. Raut ekspresi muka Ningsih memang terlihat berbeda dari biasanya, lanjut Anik.
“Tidak seperti biasa ceria. Pagi itu dia seperti gusar dan memendam sesuatu. Saya ga tahu itu pertemuan terakhir saya dengan dia,” ucapnya.
Sore sekitar pukul 15.00 WIB, ia baru mendapatkan kabar mengenaskan tersebut. Anik menjelaskan bahwa ibunda Ningsih langsung jatuh pingsan ketika mendengar kabar tersebut. Kedua anak Ningsih dan saudara Ningsih kemudian langsung menuju RSSA karena mendapatkan panggilan untuk identifikasi jenazah Ningsih.
“Ini makanya agak sepi di rumah. Karena semuanya ke RSSA katanya mau ambil DNA untuk identifikasi. Yang saya dengar Taufik selamat dan dirawat di rumah sakit karena hanya luka bakar di kakinya,” pungkas Anik. 
Sementara itu, Anifatu Jahroh dari Sarmini adalah ibu dan anak yang menjadi korban kebakaran di pabrik tempat mereka bekerja. Ani bekerja sudah lebih dari dua tahun sebagai penggoreng tempe telah berpulang meninggalkan anak laki-laki semata wayangnya yang berusia empat tahun dan suaminya Eko Ermawanto.
Sehari sebelum musibah itu, Ani ngotot mengajak pulang ke rumah ibunya di Kucur. Sehari-hari, pasangan Ani dan Eko tinggal di Petungsewu.
“Saya juga sempat menggodanya, menyuruh untuk menginap di rumah kawasan Kucur saja karena sudah malam, dan agar suaminya bisa bergabung nongkrong dan ronda kampung Kucur” jelas Darwoto selaku Ketua RT. Namun ia tidak menyangka kalau itu adalah kali terakhir ia bertemu dengan Ani.
“Sebelumnya kami memang biasa datang ke rumah di Kucur setiap dua sampai tiga minggu sekali, namun saya tidak tahu kenapa dia (Ani/red) tiba-tiba ingin pulang ke Kucur” ungkap Eko saat diwawancarai Malang Post. 
Ia pun tidak mencurigai gelagat Ani sehari sebelum ia mengalami musibah ini. Eko sangat terpukul atas kejadian yang menimpa istrinya. “Di rumah, istri saya juga tidak mengatakan hal yang tidak-tidak. Namun tidak biasanya ia mengungkapkan rasa sayang secara langsung kepada saya” terang Eko. 
Kini Eko hanya terduduk lesu meratapi kepergian istrinya. Begitu pula dengan Sarmini. Malam sebelum kejadian peristiwa kebakaran itu ia sangat sumringah dengan kedatangan Ani yang datang mengunjunginya. 
“Sebelumnya Sarmini sempat membicarakan tentang  keinginannya untuk pergi jalan-jalan berdua dengan Ani. Ani pun menanggapinya dengan antusias karena ia juga sempat berpikiran bahwa akan mengajak ibunya saja untuk jalan-jalan” ungkap Damin yang merupakan kakak Sarmini.
Menurutnya, kepergian yang dibicarakan oleh Ani dan Sarmini lebih mengacu kepada taman yang banyak tumbuh dengan bunga dan buah yang siap dipanen. Ia juga membicarakan kekurangan dari planet Bumi yang mayoritas penduduknya sangat suka membuang sampah sehingga ia merasa lelah dengan ulah manusia. 
Anggota keluarga besar juga tidak menanggapi pernyataan mereka berdua karena memang Ani dan Sarmini tidak pernah pergi bermain atau rekreasi. Sehingga semua menyetujui keputusan Ani dan Sarmini untuk pergi rekreasi.
Hingga saat terjadinya kebakaran, terdapat korban yang keadaannya sedang berhimpitan seperti sedang berpelukan. Dan setelah diketahui identitasnya, ternyata korban yang berpelukan tersebut adalah jenazah Sarmini dan anaknya. Kini Damin hanya menghela nafas dan tidak menyangka bahwa pembicaraan mereka berdua ternyata mengacu pada kepergiannya dari dunia untuk selamanya. 
“Saya hanya berharap mereka tenang di alam sana, kami sekeluarga sudah ikhlas atas kepergiannya” pungkasnya.(ica/mg1/ary)

Berita Lainnya :

loading...