Kena AMS di Pegunungan Himalaya, Terobos Lampu Merah Didenda Rp 2 Juta



MALANG - Arek Malang yang menjelajahi jalanan di berbagai belahan dunia sejauh 10.000 kilometer dengan sepeda motor, bisa dihitung dengan jari. Heri Cahyono (41 tahun), Arek Malang asli Kasembon adalah salah satu orang langka dari Malang yang hobi berpetualang. Ia bahkan sudah pernah menaklukkan jalan raya tertinggi di dunia, Khardung La di Pegunungan Himalaya dengan ketinggian sekitar 5.610 meter di atas permukaan laut!
Pemilik HRA Group ini, mengalami berbagai suka duka dalam perjalanannya. Pernah ia terpisah dari rombongannya, bahkan sakit di negeri orang. Pria yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta ini mengaku, perjalanan ke berbagai belahan dunia, bermula sekitar bulan Januari 2017 lalu.
Ketika itu, ia bersama ke sembilan orang temannya yang lain berbondong-bondong untuk menyusuri jalanan ke beberapa negara, di antaranya Belanda, Luxemburg, Swiss, Jerman hingga Belgia.
“Awalnya, kami berangkat dari Indonesia menggunakan pesawat terbang. Kemudian, sampai di sana, saya menyewa sepeda motor untuk touring bersama-sama,” ujar dia ketika dihubungi Malang Post.
Heri menjelaskan, ketika di benua biru tersebut, ada sebuah regulasi yang mengharuskan pengendara sepeda motor menaiki kendaraan 1000cc, agar bisa melewati jalan tol. Ketika itu, Heri yang memulai perjalannya dari negeri kincir angin tersebut, akhirnya menyewa motor sejenis trail yang bernama Honda Africa Twin. Ia menyewa seharga Rp 20 juta dengan unlimited miles!
“Dalam melakukan perjalanan ke beberapa negara tersebut, saya menempuh jarak 2.600 km dan memakan waktu sekitar 10 hari. Perjalanannya sangat menyenangkan sekali,” ujar pria yang mengaku memiliki pekerjaan ngetrail dan hobi bekerja ini.
Dalam perjalanannya tersebut, warga asli Kasembon, Kabupaten Malang tersebut membawa bendera untuk memperkenalkan suatu ciri khas yang berbeda ketika melakukan perjalanan, yaitu ‘OngisNade Dirt Bike’.
“Beberapa orang yang melakukan perjalanan jauh, biasanya memiliki keunikan tersendiri. Nah, saya membawa jargon tersebut ingin mewarnai perjalanan dan ingin seluruh dunia tahu kalau Indonesia punya ongis nade,” ujar dia bangga.
Dalam perjalanan ke Eropa tersebut, Heri sempat mengalami kendala. Pada beberapa negara, dia sempat melanggar peraturan yang membuat dirinya ditilang oleh kepolisian setempat. Pertama, dia mengaku terkena tilang di sekitar Tunnel, Swiss. Ketika itu, Heri dan rombongannya ketika hendak berjalan menuju ke terowongan terpanjang di dunia, Gotthard Base Tunnel (GBT).
“Ketika itu, hujan salju luar biasa. Untuk safety, pemerintah memasang lampu merah dan hijau. Akibatnya, banyak motor yang antri dan macet. Salah satu teman dari Italia mengatakan, kami bisa berjalan di jalur kanan, karena dia kira jalurnya seperti di Indonesia, akhirnya ketangkap,” terang pria yang sudah menekuni trail jenis enduro sejak tahun 2007 tersebut.
Akibatnya, dia dan ke sembilan orang temannya yang lain harus merogoh kocok dalam-dalam. Pasalnya, harga denda satu motor berkisar sebesar Rp 2 juta.
“Di negara Eropa, kita tidak bisa sembarangan berkendara. Mulai dari baju dan perlengkapan yang dipakai, harus sesuai standar mereka. Kalau tidak, ya ditilang,” lanjut dia.

Berita Terkait

Berita Lainnya :