Bima Amirul Hakim, Pemuda Donomulyo Juara 1 Duta Genre se Jawa Timur


MALANG POST - Tinggal di kawasan terpencil, tak menghalangi pemuda bernama Bima Amirul Hakim untuk mengukir prestasi. Pemuda asal Desa Donomulyo ini, baru saja dinobatkan sebagai Juara 1 Duta Genre se Provinsi Jawa Timur. Atas prestasi itu, dia mewakili Jawa Timur pada ajang Pemilihan Duta Genre tingkat Nasional.
Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke XXIV di lapangan Desa Sumberagung, Kecamatan Ngantang pada akhir pekan kemarin, merupakan hari istimewa bagi Bima Amirul Hakim. Lantaran pemuda berusia 22 tahun ini, salah satu dari 15 tokoh masyarakat yang penerima penghargaan dari Bupati Malang, Dr. H. Rendra Kresna.
Penghargaan itu diberikan bagi mereka yang selama ini menjadi pegiat program Keluarga Berencana (KB). Senyum sumringah terpancar dari wajah Bima Amirul Hakim, ketika gilirannya menerima penghargaan dari Bupati. Dia memegang erat plakat penghargaan yang diberikan langsung oleh orang nomor satu di Kabupaten Malang ini.
Tampak gurat bangga pada wajahnya ketika menerima penghargaan itu. Usai prosesi penerimaan penghargaan, dia bercerita tentang awal mula mengikuti pemilihan Duta Genre. Sebelumnya, anak pasangan dari Suprianto dan Lilik Puryati ini memang aktif menjadi Duta Genre, binaan  Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Malang.
Mulanya, mahasiswa Poltekkes Kemenkes Kota Malang ini memilih menjadi relawan Genre, lantaran prihatin tingginya angka pernikahan dini di tempat tinggalnya. Dia memutuskan untuk mensosialisasikan bahaya pernikahan usia dini kepada masyarakat dan pemuda. Awalnya, dia kesulitan mengawali sosialisasi tersebut.
“Belum banyak yang memperhatikan ketika saya melakukan sosialisasi bahaya pernikahan usia dini. Namun, saya tetap berusaha keras untuk melakukan sosialisasi tersebut,”ujar Bima kepada Malang Post.
Belum banyak masyarakat yang merespons sosialisasi tersebut, ia maklum. Lantaran masyarakat desa masih belum mengerti. Apalagi selama ini adat masyarakat desa yang telah menjodohkan anak sejak kecil. Hingga, terjalin pernikahan usia dini.
Biasanya, usia perempuan saat menikah dini desa itu di bawah 19 tahun dan usia pria di bawah 22 tahun. Padahal, kata dia, ideal usia pernikahan itu untuk perempuan di atas 21 tahun dan di atas 25 tahun bagi pria.
“Kalau pernikahan terlalu muda itu tidak bagus. Karena sama-sama masih belum dewasa. Sehingga, dikhawatirkan tidak mampu melewati masalah dalam kehidupan,” urainya.
Hal itulah yang ditekankan kepada masyarakat dan pemuda di desanya. Perlahan tapi pasti, masyarakat mulai banyak yang memperhatikan sosialisasi yang diberikannya. Apalagi masyarakat juga sadar bahwa pentingnya melakukan pernikahan pada usia matang, lantaran itu berpengaruh pada perencanaan yang baik bagi kehidupan.
Tidak hanya sosialisasi bahaya nikah usia dini, dia juga melakukan sosialisasi bahaya seks bebas, penyalahgunaan narkoba dan bahaya dari kenakalan remaja.
“Saya memberikan pembinaan kepada komunitas pemuda yang banyak tumbuh berkembang di Desa Donomulyo. Selain itu, saya juga membentuk komuntas-komunitas yang diikuti oleh pemuda dan melakukan kegiatan positif,” tuturnya.
Beberapa komunitas bentukannya itu sebut saja ada Komunitas Sepeda Ontel dan komunitas Mahasiswa. Selain itu, Bima juga aktif dalam pemberdayaan perpustakaan. Salah satunya dia membantu buku bacaan di MI Merah Putih di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo.
Dia menginginkan seluruh anak dan pemda se Kecamatan Donomulyo tersebut, semakin minat membaca buku, terutama buku ilmu pengetahuan. Aktifnya dia dalam berbagai kegiatan sosial dan sosialisasi tentang KB serta keremajaan, dilirik oleh DPPKB Kabupaten Malang. Atas binaan dari DPPKB Kabupaten Malang, dia mengikuti pemilihan Duta Genre tingkat Kabupaten. Diapun menjadi juara 1 dan melaju ke tingkat Provinsi Jawa Timur.
Saat perlombaan tingkat Jawa Timur, dia meraih hasil positif dengan mengalahkan 10 finalis lainnya dari kategori putra. Sehingga, dia berhak mewakili Jawa Timur untuk mengikuti Duta Genre tingkat Nasional. Prestasi yang diraihnya itu, memang merupakan tujuannya selama ini.
Dia ingin menunjukan, bahwa pemuda Kabupaten Malang, terutama dari daerah terpencil, bisa meraih prestasi tingkat provinsi hingga nasional. Apalagi dia ingin mengubah stigma negatif yang melekat kepada para pemuda pada era modern seperti sekarang, yang dianggap hanya bisa hura-hura, seks bebas, terlibat kejahatan dan narkoba.
“Saya berharap seluruh pemuda di Kabupaten Malang dapat terus meraih prestasi dari berbagai bidang. Meski dari daerah terpencil, jangan minder untuk dapat mengikuti berbagai perlombaan,” kata dia. Apalagi dia sudah memberikan contoh dan sukses meraih prestasi menjadi Juara 1 Duta Genre tingkat Provinsi Jawa Timur.(Binar Gumilang/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...