magista scarpe da calcio Abaikan Pekerjaan Bergaji Tinggi Demi Pelayanan Publik


Abaikan Pekerjaan Bergaji Tinggi Demi Pelayanan Publik


MALANG - Mereka meninggalkan pekerjaan berpenghasilan besar demi pelayanan publik. Tugasnya membuat gambar denah rumah secara gratis bagi warga yang mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Ditawari pekerjaan lain dengan iming-iming gaji besar, tapi enggan meninggalkan panggilan pelayanan publik. Kepuasan jiwa dan ingin mengabdi yang melatarbelakangi mereka.
Itulah pengabdian Trias Handayani, Naila Zairoh, Dessy Amalia, Agung Saputra dan Tri Wahyuni. Lima karib itu adalah orang-orang di balik program gambar denah rumah gratis dalam mengurus IMB. Program ini merupakan inovasi Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Malang. Mereka merupakan orang-orang profesional yang memilih mengabdi kepada negara untuk melayani masyarakat.
"Ada kepuasan tersendiri saat dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat," ucap Trias, sapaan akrab Trias Handayani. Alumni Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini dan empat rekannya itu  bukanlah orang baru di dunia artisektur. Selain sekolah di bidang tersebut, beberapa juga pernah bekerja di perusahaan pengembang perumahan. Termasuk Trias, sebelum masuk DPMPTSP dia pernah bekerja di sebuah pengembang perumahan dengan gaji lebih dari cukup.
"Tidak semata-mata materi yang kami cari, tapi kami ingin mengabdi kepada negara," tambah Trias. Ia masuk DPMPTSP melalui rekrutmen yang dibuka dinas tersebut awal tahun 2017. Trias yang sudah bekerja merasa terpanggil untuk ikut seleksi walau dalam hatinya ada pergulatan batin. Setelah meminta pendapat orang tuanya, alumni SDN Tunjung Sekar 2 ini  akhirnya memutuskan untuk daftar.
Begitu juga empat rekannya. Mereka ikut seleksi saat DPMPTSP membuka rekrutmen. "Kalau tidak salah yang daftar lebih dari 50 orang waktu itu," kata Trias.
Hingga sepekan setelah pendaftaran, dia mendapat panggilan. Saat itu hanya 10 orang  saja dari total yang mendaftar dipanggil. Trias tak menyangka dari 10 orang itu ada tiga orang teman satu kelasnya saat kuliah. Yaitu Naila Zairoh, Dessy Amalia dan Agung Saputra. Yang menarik, di seleksi tahap dua dia dan tiga teman satu kelasnya itu masuk dan diterima. Sedangkan Tri Wahyuni merupakan alumni Unmer.
Awalnya program gambar denah rumah gratis  tak langsung diterima masyarakat. Butuh beberapa waktu Trias dan teman-temannya mensosialisasikan. Hingga akhirnya, ada warga datang dan mengajukan IMB, dan mau gambar gratis.
Namun demikian, orang pertama yang mengajukan gambar gratis untuk permohonan IMB terpaksa ditolak. Alasannya jelas, yaitu tak sesuai syarat.
Dijelaskan Trias, bahwa yang berhak mendapatkan gambar denah rumah gratis adalah rumah atau bangunan yang luasnya tidak lebih dari 100 meter persegi. "Kalau ada yang mengajukan gambar gratis dengan luas bangunanya lebih dari 100 meter persegi jelas ditolak," katanya. Program ini sejatinya diperuntukkan kepada warga tidak mampu. Dimana untuk gambar denah rumah mereka harus membayar jutaan rupiah. ”Gambar denah bangunan atau rumah merupakan syarat untuk pengajuan IMB. Umumnya warga harus membayar jutaan rupiah untuk mendapatkan gambar ini. Tapi di sini diberikan secara gratis, tanpa ada pungutan apapun, asal luas bangunan atau ramah tidak lebih dari 100 meter persegi,’’ kata dia.
Kini program ini cukup diminati. Terbukti, rata-rata setiap bulan ada 10 warga datang untuk mengurus IMB, dan mendapatkan gambar denah rumah secara gratis.
Sementara Naila Zairoh kepada Malang Post mengaku jika gambar gratis ini sempat diragukan oleh masyarakat. Mulai dari tidak percaya ada gambar gratis, sampai dengan kualitas gambarnya. Tapi demikian, Naila menjelaskan kepada warga, jika gambar denah rumah dikerjakan sangat serius, dan betul-betul gratis. ”Namanya warga, mereka kan butuh bukti dulu,’’ katanya.
Dalam bekerja, Naila dan kawan-kawan menerima dan menggambar secara bergilir. Contohnya minggu pertama ada warga datang dan memohon gambar gratis diterima Trias, hari berikutnya jika ada warga datang lagi memohon gambar gratis maka Naila yang mengerjakan, begitu juga dengan tiga teman lainnya.
Seperti arsitek pada umumnya, Naila dan rekan-rekannya akan mendatangi rumah atau bangunan yang akan digambar. Disitulah dia melakukan pengukuran secara rinci. Lalu mulai  menggambar. Waktu menggambar pun tidak lama, yakni maksimal tiga hari. Begitu gambar selesai pihaknya langsung menghubungi warga yang mengajukan. ”Kami menyerahkan gambar melalui file. Kemudian warga itulah yang mencetak,’’ katanya.
Sementara Agung dan Dessy mengaku tidak jarang keduanya kerap diiming-imingi imbalan oleh warga yang mengajukan gambar gratis. Namun  mereka langsung menolak. Ya, meskipun bukan sebagai aparatur sipil negara (ASN), tapi dia tetap memegang teguh kode etik pegawai. Dimana tak boleh menerima imbalan apapun dari warga.
Agung pun sempat ditawarin perusahaan pengembang perumahan saat setelah dia menggambar rumah warga. Namun demikian, Agung menolak, dia memilih di DPMPTSP. ”Saya nyaman disini, seperti yang teman-teman bilang, ada kepuasan tersendiri saat kita bisa memberikan layanan terbaik kepada masyarakat,’’ tandasnya.(ira ravika/vandri battu)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang