Drs Sutikno, Kepala Sekolah yang Juga Petani

MALANG - Jarum jam menunjukkan pukul 13.30, sudah tidak terdengar lagi suara riuh rendah para siswa. Kepala MI Ihyaul Ulum Drs Sutikno pun mengangkat tas kerjanya kemudian pulang ke rumah menggunakan motor Honda Impressa keluaran tahun 1997. 
Sama sekali tidak terlihat raut muka capek diwajahnya, sebaliknya ia terlihat begitu sumringah, menyapa istri dan keluarga yang kebetulan kemarin siang berada di rumah. Setelah makan siang, ia pun mengganti baju seragam batiknya lalu mengenakan topi warna biru bertuliskan namanya, Drs Sutikno. Sebuah topi yang didapatkan saat mendampingi anak didiknya mengikuti Pekan Olahraga MI tingkat kota yang digelar beberapa waktu lalu. 
Hanya saja, ia mengenakan topi itu dalam posisi terbalik, lalu menindih topi biru itu dengan caping milik pak tani. Tanpa ragu, Sutikno memanggul cangkul di pundak kanannya, kemudian kembali naik motor menuju ke sawah.
Bagi warga Kelurahan Temas, pemandangan ini bukan hal yang aneh. Warga mengenal Sutikno bukan hanya seorang Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Ihya’ul Ulum yang berada di Jl Wukir Gg IV, Kelurahan Temas, namun juga seorang petani.
Di Kota Batu, hanya Sutikno, kepala sekolah yang masih mencangkul di sawah. Laki-laki yang menjadi Ketua Kelompok Kerja Madrasah (KKM) Ibtidaiyah se-Kota Batu ini tidak malu ketika diketahui orang lain dia petani yang setiap hari mencangkul di sawahnya, yang seluas kurang lebih 1.800 meter persegi.
“Dulu banyak yang mencemooh saya, bahkan ada yang mengatakan seperti ini, laopo sekolah duwur-duwur gak wurung yo macul  (kenapa sekolah tinggi-tinggi, ujungnya tetap mencangkul-red),” ujar Sutikno.
 Mendengar ejekan tersebut, Sutikno hanya terdiam dan tersenyum, jika yang mengejek itu adalah orang yang lebih tua ketimbang dirinya. Namun, ketika yang mengejek adalah orang sebaya, ia memberikan penjelasan kenapa ia tetap memilih bertani meskipun sudah menjadi kepala sekolah.
“Saya tidak bisa meninggalkan tani, itu hidup saya, dulu saya bisa mendapatkan ilmu, bisa sekolah sampai lulus perguruan tinggi juga dari pertanian,” ujar Sutikno yang lahir tahun 1965 ini. 
Karena itu, selain mengajar dan menjadi kepala sekolah, ia setiap hari tetap mencangkul di sawah. Ia mulai belajar bertani sejak masih SMP, saat itu ia menanam apel. Ketika SMA ia tetap menjadi petani, namun mulai menanam sayuran. Begitu juga saat perguruan tinggi, Sutikno yang kuliah di Fakultas Tarbiyah, jurusan Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Malang ini juga bertani dengan menanam padi.
“Waktu kuliah kalau tidak punya uang untuk bayar SPP atau beli buku, saya utang dulu kepada pegawai tata usaha Unisma, begitu panen langsung saya bayar,” ujarnya. 
Di dunia pendidikan, ia juga sudah mengajar sejak usia muda. Selepas menempuh Sekolah Persiapan Institut Agama Islam Negeri (SPIAIN), sekarang MAN, ia juga mengajar di SMP Ahmad Yani Temas. Saat itu ia menjadi guru Olahraga dan guru Fisika. “Menjadi guru sudah menjadi cita-cita saya, saya ingin berjuang mengamalkan ilmu agama, saya juga ingin berdakwah di kampung saya sendiri, bukan di luar kampung,” ujarnya. 
Karena itulah ia bersama beberapa tokoh masyarakat, pada 10 Juli 2000 merintis MI Ihyaul Ulum untuk membantu warga agar sekolah mereka lebih dekat lagi. “Dulu ada sekolah MI, tapi jauh, warga ingin membuat sendiri yang lebih dekat, akhirnya terwujud saat ini,” ujarnya.
Oleh ayahnya Marsidi, 86 dan Daiyah, 87, memang tidak ada anjuran agar anak sulungnya ini menjadi petani maupun guru. Namun sejak kecil ia sudah belajar bertani juga menjadi pendidik.
“Bagi petani, untung dan rugi adalah biasa, tapi kalau tidak mau macul, nanti sawahnya akan dijual. Kata Kyai Muzakki, hidup seorang petani itu barokah meski tidak punya uang. Karena itu berapa pun penghasilan, saya tidak pernah melihat nominal, tapi keberkahan yang saya harapkan,” ujarnya.
Karena itu, pukul 05.00, ia sudah berangkat ke sawah untuk melihat kondisi sawah, ketika waktu menunjukkan pukul 06.00, ia bergegas untuk pulang membersihkan diri dan bersiap berangkat sekolah. Aktivitas di sawah dilakukan lagi sepulang dari sekolah.
Dahulu, ia pernah meminta izin kepada pengurus sekolah untuk tidak masuk pada hari Sabtu dan Ahad, karena pada hari itu ia ingin menghabiskan waktunya di sawah. “Ternyata ditegur sama salah satu murid yang mengira saya bolos, saya terangkan ke dia kalau izin tidak sekolah karena harus merawat sawah, sejak saat itu saya tidak lagi libur hari Sabtu,” ujarnya. 
Ia tetap memegang dua pekerjaan ini hingga sekarang, karena ia beranggapan istiqomah lebih mulia ketimbang seribu karomah. “Saya tidak akan melepas dua-duanya (guru dan tani-red),” ujarnya sambil tersenyum. 
Selain itu, ada keinginan lain yang harus dilakukannya hingga ia tetap istiqomah. Yakni tidak lain ia merasa ada ancaman kepunahan pertanian di negeri ini. Dimana saat ini kawula muda sudah enggan bertani, salah satu indikatornya adalah generasi muda lebih suka menjadi buruh di pabrik atau di toko modern ketimbang menjadi petani. Saat ini para petani juga kebingungan mencari tenaga kerja lepas untuk pertanian, meskipun seringkali pendapatan yang diperoleh petani lebih besar daripada buruh pabrik. 
“Jangan sampai nanti warga Indonesia makan beras plastik, karena tidak ada lagi yang bersedia menjadi petani, lahan pertanian tinggal sedikit karena pertanian terus merugi,” ujarnya. (dan/han)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :