Produksi di Bali, Gandeng Enam Perusahaan Eropa



MALANG - Mau makan ulat?. Euh, mungkin Anda pun enggan membayangkannya. Tapi bagaimana jika ulat-ulat itu diolah sedemikian rupa hingga menjadi minyak goreng, Anda tidak akan pernah tahu perbedaannya dengan minyak goreng dari bahan tumbuhan. Adalah Mushad Nursantio dan Ifdhol Syawkoni, yang memproduksi minyak goreng dari ulat jerman.
Keduanya merupakan alumni jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya. Mereka tidak sedang melakukan penelitian. Produk ini juga bukan sekadar hasil penelitian yang kemudian menghilang pasca dipublikasikan. Minyak goreng dari ulat jerman ini sedang dalam tahap pengembangan menuju indutrialisasi. Tak tanggung-tanggung, dua anak muda itu menggandeng enam perusahaan di Eropa.
Mushad mengaku awalnya hanya membuat sebuah proyek untuk mengikuti lomba pangan di Swiss. Ketertarikannya pada ulat jerman didasarkan pada kecintaannya pada serangga dan konsen yang tinggi pada lingkungan.
“Selama kuliah, saya aktif di organisasi pecinta alam, dan menyadari bahwa yang menjadi salah satu penyebab kerusakan hutan adalah pada industri pertaniannya. Selain itu saya juga ternak ulat dan jangkrik di kos,” ujarnya kepada Malang Post.
Dari suatu data di PBB, Mushad mengatakan ada satu jenis ulat yang edible (dapat dimakan). Kecintaannya pada serangga membawanya pada penelitian untuk mencari fungsi alternatif dari serangga, yakni ulat jerman, yang ternyata dapat diekstrak kandungan minyaknya dengan tingkat efisiensi tinggi. Menurutnya, minyak ini dapat digunakan untuk minyak goreng, mentega, atau minyak alkohol sebagai bahan baku kosmetik dan sabun.
“Bila dibandingkan dengan minyak sawit, minyak dari ulat jerman memiliki tingkat asam lemak tidak jenuh dan asam lemak omega tiga yang lebih tinggi,” imbuhnya.
Penelitian ini menjadi juara kedua dalam perlombaan tersebut, yang kemudian membawa keduanya dalam tahapan yang lebih tinggi lagi, yakni sebuah business plan. Mushad kemudian memutuskan untuk tinggal selama beberapa waktu di Eropa untuk mengikuti lomba akselerator program di Itali, dalam bidang start up teknologi pangan.
“Dari hasil lomba itu kemudian juara dan dapat dana untuk investasi lagi, meningkatkan koneksi, juga kerjasama dengan beberapa industri,” sambungnya.
Sekarang, minyak goreng dari ulat jerman sedang dikembangkan ke arah industri. Bulan depan akan dilakukan rekonstruksi pilot plan, di mana rencananya pabrik akan ditempatkan di Bali. Selain itu, sekarang juga ia sedang dalam proses pengembangan program research and development skala besar.
“Saya berenacana dua tahun lagi, akan dapat pendanaan lagi sehingga perusahaan kami akan lebih berkembang. Sampai saat ini masih konsentrasi dalam produksi skala laboratorium dan pengembangan bisnis,” ujarnya.
Untuk pasokan bahan baku, Mushad mengatakan, sekarang ini telah banyak berkembang ternak ulat tersebut di Indonesia, sehingga dapat mencukupi pasokan industri. Untuk pemeliharaannya pun sangat mudah dan murah, serta dapat membuka peluang usaha. “Tapi nantinya kami juga akan ternak sendiri,”  imbuhnya.
Dengan teknologi proses yang dikembangkannya saat ini, minyak goreng dari ulat bulu secara umum memiliki rasa, bau dan warna yang sama dengan minyak goreng dari kelapa sawit. Minyak ini juga kemudian diolah menjadi mentega, dan lemak alkohol untuk kosmetik.
“Sekarang kami telah bekerja sama dengan enam perusahaan di Eropa, di antaranya perusahaan makanan kemasan, sabun, kosmetik, dan parfum yang menjadi konsumen kami,” sambungnya.
Perusahaan itu, kini beranggotakan tujuh orang termasuk Mushad dan Ifdhol, dua orang lagi warga Indonesia, dua lagi dari Amerika Serikat dan satu dari Jerman.
Melalui penelitian di Oktober 2015, Mushad mengaku minyak goreng ini benar-benar menjadi bisnis pada April 2016 lalu, dan kini benar-benar akan menjadi sebuah perusahaan. (ras/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :