Angkatan 2014 Jadi Kontingen Terlengkap


MALANG POST - Setiap tahun, ada 16-18 jurnalis dari berbagai negara di Asia mendapat kesempatan untuk tinggal dan belajar selama tiga bulan di Singapura, dalam program Asia Journalism Fellowship (AJF). 5-8 Oktober lalu, Temasek Foundation mengundang semua jurnalis dari angkatan pertama 2009 untuk reuni akbar. Pemimpin Redaksi Malang Post Dewi Yuhana, yang merupakan alumni tahun 2014 hadir dalam kegiatan ini.
Heboh. Suasana Orchard Hotel yang menjadi lokasi reuni benar-benar ramai dengan celoteh para jurnalis. Semua melepas kangen. Tak sedikit juga yang saling berkenalan dengan jurnalis alumni AJF lintas angkatan, yang selama ini hanya bisa melihat profil mereka di grup Facebook. Aksi swafoto dan wefie mengiringi acara dari awal sampai akhir. Semua peserta tak mau ketinggalan untuk mengabadikan momen penuh bahagia itu.
Setiap angkatan AJF memiliki jumlah perwakilan berbeda dalam reuni kali ini. Ada delapan jurnalis dari satu angkatan, ada yang 10 jurnalis, dan terbanyak 14 jurnalis dari angkatan 2014. Total ada 73 alumni yang hadir bertemu dengan 15 jurnalis yang lolos AJF tahun ini.
Bisa dikatakan, kontingen dari angkatan 2014 lah yang paling komplit. Hanya ada dua orang yang tidak bisa hadir, yaitu Fazal Khaliq dari Pakistan yang dalam waktu bersamaan sedang ada acara di Jepang dan satu wartawan dari Afghanistan. “Bahkan sebelum reuni, kami sudah ramai heboh di grup. Masing-masing memaksa yang lain untuk datang. Maklum, kami sudah tidak bertemu tiga tahun sejak menjadi alumni AJF 2014,” kata Hana, panggilan akrab Dewi Yuhana.
Maka, teriakan gembira dan pelukan mewarnai pertemuan hari pertama. “Wah, akhirnya. Senang sekali bisa ketemu lagi ya” menjadi kalimat yang disampaikan oleh hampir semua fellow. Masing-masing bertanya kabar dan melihat perubahan teman yang dulu sempat hidup bersama di apartemen. Teknologi memang menyambungkan komunikasi dan memangkas jarak, namun bertemu muka tetaplah yang terbaik.
“Lihat, angkatan kita menjadi yang terbanyak hadir dalam reuni. Sepertinya kita jadi kontingen terbesar kali ini,” kata Sundar Bandar, alumni AJF 2014 dari India yang seringkali dipanggil ‘Tuan Takur’ oleh jurnalis dari Indonesia. Tuan Takur adalah nama yang seringkali disematkan pada tokoh kaya raya dalam film-film India. Sundar pun nampaknya tak berkeberatan ketika Hana dan Anggi Oktarinda dari Bisnis Indonesia memanggilnya dengan Tuan Takur.  
Kedekatan sesama jurnalis seangkatan begitu terlihat dari semangat mereka untuk datang. Reuni ini bagaikan pulang kampung. “Iya, bener banget. Reuni keluarga besar AJF seperti pulang ke rumah. Sebuah kesempatan yang bagus bagi setiap fellow untuk datang dan membangun network, terima kasih AJF dan Temasek Foundation karena sudah membuat kisah tentang jurnalis di Asia,” kata Sonam Pelden, jurnalis dari Bhutan.
Lebih lanjut ia menceritakan, saat naik pesawat menuju Singapura, perempuan yang duduk di sampingnya bertanya “Mau pulang ke rumah?”.  “Nah, siapa yang tidak tertawa mendengar pertanyaan itu. Saya dengan senyum lebar menjawab ‘Oh Yeah’,” ujarnya sembari tertawa.
Namanya saja reuni jurnalis. Maka acara pun diisi dengan talkshow dan presentasi berkaitan dengan jurnalisme. Tentang bagaimana kondisi media massa saat ini di Asia dan juga Amerika Serikat, sampai tentang tantangan yang harus dihadapi pelaku media saat ini berhadapan dengan gempuran media sosial.
“Kondisi dan tantangan pelaku media di Indonesia dan negara di Asia hampir sama. Bagaimana kita harus dapat menyajikan berita sesuai kebutuhan pembaca sembari bersaing dengan media sosial dan fake news,” tambah Hana.(*/bersambung)

Berita Lainnya :

loading...