magista scarpe da calcio Ke Sri Mariamman Temple, 4.000 Orang Berjalan di Atas Api


Ke Sri Mariamman Temple, 4.000 Orang Berjalan di Atas Api


MALANG POST - Selama mengikuti reuni Asia Journalism Fellowship (AJF) di Orchard Hotel di Singapura, Pemimpin Redaksi Malang Post Dewi Yuhana menyempatkan diri untuk melihat Fire Walking Festival di Kuil Sri Mariamman. Ribuan umat Hindu rela antre berjam-jam demi untuk dapat berjalan di atas api.
Awalnya, saya tidak tahu akan ada Fire Walking Festival pada 8 Oktober 2017 itu. Namun, saat berjalan sore di Mosque Street di Chinatown untuk mencari Ya Kun kaya toast di dekat area itu, saya melihat jalan South Bridge ditutup sebagian. Penasaran dong, saya pun menanyakan kepada petugas yang menutup jalan di sana. “Barikade ini dibuat untuk peserta fire walking festival, acaranya nanti malam ya,” katanya.
Ok, masih ada waktu untuk berjalan-jalan. Saya kala itu bersama Anggi Oktarinda dari Indonesia dan Kay Watchiranont Singh Kum-Tongtep dari Thailand. Nah, teman saya yang terakhir inilah yang sangat menyukai Ya Kun kaya toast, roti panggang dengan selai kelapa dan butter. Enak dimakan ditemani kopi atau teh. Saya yang bukan penggemar roti panggang, langsung ikut jatuh cinta dengan menu ini, saat mencicipi pertama kali.
Ya Kun kaya toast sangat populer di Singapura, bahkan franchise-nya menyebar di beberapa negara termasuk Indonesia, yang sudah memiliki 24 cabang tersebar di Jakarta, Bandung, Bali, Medan, dan Palembang. Keren ya, dari roti panggang bisa mendunia. Tentu saja, menu yang disajikan sekarang sudah sangat bervariasi.  
Fire Walking festival dilaksanakan seminggu sebelum perayaan Deepavali (Diwali), yang merupakan ritual bentuk penebusan atau rasa syukur, untuk menghormati Dewi dalam agama Hindu, Sri Drowpathai Amman. Ritual berjalan di atas api itu dimulai pukul 9 malam. Namun sebelumnya, ribuan umat Hindu lebih dulu berjalan kaki dari Kuil Sri Srinivasa di Serangoon Road menuju Kuil Sri Mariamman. Mereka berjalan kaki sekitar 5 kilometer. Nah, setiba di South Bridge Road menuju Kuil Sri Mariamman, ribuan orang itu harus bersabar menunggu di barikade besi yang sudah disiapkan. Ada sesi buka tutup gerbang.
Meski ribuan orang ada di jalanan, namun pengaturan lalu lintas berjalan sangat mulus. Aktivitas itu sama sekali tidak menggangu pengguna jalan. Mobil dan bus masih bisa lewat dengan sangat leluasa. Jawabannya ada dalam barikade besi dan sistem buka tutup pintu barikade.
Di perempatan jalan misalnya, tidak ada barikade besi, supaya petugas tidak harus menutup jalan dan memerlukan pengalihan arus. Ribuan orang yang antre menuju Kuil Sri Mariamman distop dulu di sisi jalan satunya, dan baru diperbolehkan berjalan ketika lampu merah menyala. Lalu pintu barikade ditutup lagi. Begitu seterusnya. Mereka tidak bisa seenaknya menyebar dan memenuhi jalanan.
Menurut petugas, ada 4.000 umat Hindu pria yang ikut festival berjalan di atas api itu. Disaksikan oleh sekitar 1.500an wisatawan, termasuk saya. Di luar kuil, ada layar raksasa yang menyiarkan secara langsung aktivitas di dalam kuil. Tayangan selama lebih dari empat jam itu juga diposting di Youtube. Namun karena baru pertama kali melihat Fire Walking Festival, saya dan teman-teman memutuskan untuk ikut dalam antrian pengunjung yang memang diperbolehkan untuk menyaksikan ritual tersebut.
Awalnya, kami antre di pintu samping kuil. Cukup lama. Membaur bersama ratusan umat Hindu yang hendak masuk ke dalam. Namun setelah berdiri selama sekitar 30 menit, ada perempuan keturunan  India yang mendatangi kami dan menanyakan tujuan kami antre.
“Kalian ingin mengikuti festival ini sampai tengah malam atau hanya ingin melihat fire walking saja?,” tanyanya.
“Cuma melihat sih,” jawab kami kompak.
“Kalau begitu, antrean ini salah. Jika kalian antre di sini, kalian nanti harus duduk berjam-jam di sekitar area fire walking. Kalau hanya ingin melihat, ayo masuk lewat pintu depan kuil,” ujarnya. Wah, kami pun langsung keluar dari antrean panjang itu. Meski penasaran, rasanya kami nggak mau duduk berjam-jam di dalam, hehehe.
Setiap pengunjung harus melepas alas kaki sebelum masuk kuil. Begitu juga dengan kami. Di dalam kuil, dibuat rute jalan sedemikian rupa dengan pagar besi di sekeliling, yang melewati samping area bara api yang harus dilewati umat Hindu. Kami harus berjalan dengan cepat, tidak boleh berhenti dalam jangka waktu lama.
Namun, malam itu saya rupanya cukup beruntung. Di tengah jalan, saya sampaikan kepada petugas, bahwa saya ingin mengambil foto dan video ritual fire walking. Saya lalu diberi spot di pojok jalan dan bisa berada di posisi itu dalam sepersekian detik dan menit. Cukup singkat sih. Tapi dua teman saya yang lain bahkan tidak bisa berhenti, hehehe.
Nah, di area fire walking itu, para pria dengan telanjang kaki berlari dengan cepat di atas lubang bara api sepanjang sekitar empat meter, yang di ujungnya ada lubang kecil berisi air. Jadi, kaki kena api langsung didinginkan dengan air. Sebelum mengikuti ritual ini, kabarnya, para pria itu harus mematuhi diet vegetarian ketat. Setidaknya selama tiga hari.
Hanya pria yang boleh berjalan di atas api. Sementara umat Hindu perempuan akan berjalan mengelilingi lubang bara api itu setelah ritual selesai keesokan harinya. Maka, mereka yang ingin melakukan ritual itu, harus menunggu sampai Senin dinihari. “Tahun lalu, saya baru bisa berjalan mengelilingi bara api itu setelah jam dua dinihari,” ucap perempuan India.
“Kami ingin mendapatkan berkah dari Dewi kami,” tambahnya. Saat saya tanyakan doa apa yang hendak ia sampaikan, perempuan tengah baya itu hanya tersenyum. “Rahasia,” ujarnya.
Keluar dari kuil, kami harus berjalan memutar lagi untuk mengambil sepatu. Bertelanjang kaki, penuh keringat dan aroma rempah khas India. Tapi malam itu, kami pun merasakan semangat dan kekhusyukan umat Hindu dalam melakukan ritualnya.(han) 

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang