Siti Muzainah, Biker Sekaligus Wonder Woman Asal Jabung


MALANG - Menelusuri aspal dengan jarak tempuh yang jauh, hal biasa yang dilakukan oleh para laki-laki. Bagaimana jika bikernya perempuan? Ya, Siti Muzainah adalah wonder woman. Biker yang akrab disapa Mouzza Zee ini, sudah berkeliling Indonesia. Wanita berusia 26 tahun ini naik sepeda motor pink sendirian ke seantero negeri!
Mouza Zee menamai touringnya dengan  ‘Ekspedisi Kartini’. Ini dilakukan Mouzza untuk menunjukkan emansipasi wanita. Selain itu, wanita berambut pendek ini mengaku juga turut mempromosikan, sekaligus memperkenalkan berbagai macam budaya Malang ke seluruh penjuru tanah air.
Ketika dtemui Malang Post pada suatu kesempatan, Mouzza sempat bercerita tentang kisah masa kecilnya. Sosok Mouzza Zee yang ramah dan supel sempat menangis ketika mengingat kejadian tersebut.
“Dulu, ketika saya kecil, ayah saja bekerja sebagai salah satu pegawai di Dinas Kebersihan dan Pertamanan (dulu DKP, sekarang Disperkim). Beliau bukan pegawai negeri dan pulang bawa rongsokan demi kebutuhan hidup keluarga. Tapi, ayah saya mampu menyekolahkan saya hingga menjadi sarjana hukum,” cerita Mouzza sambil menangis.
Mouzza kecil, juga sering mendapat hinaan dari teman-temannya. Seringkali, dia dipanggil ‘Anak Omplong’ karena pekerjaan yang dimiliki sang ayah. Namun, hal tersebut tidak dijadikan sebagai bahan hinaan oleh Mouzza. Hal tersebut yang membuat dirinya termotivasi agar bisa memberikan banyak inspirasi bagi orang banyak.
“Hal itulah yang terngiang-ngiang di kepala saya. Sejak itu, saya berpikir untuk melakukan sesuatu. Tapi, saya hanya bisa naik motor. Sejak itulah saya memutuskan untuk membuat beberapa ekspedisi,” aku Mouzza.
Gadis asal Jabung, Kabupaten Malang tersebut akhirnya mulai tancap gas pada 2015 lalu. Sekitar bulan April, ia melakukan ekspedisi pertamanya dengan berkeliling Pulau Jawa selama 28 hari seorang diri dan menelan budget hingga Rp 5 juta, lengkap dari bensin hingga penginapan. Kemudian, ia pun kembali melanjutkan perjalanannya, keliling Pulau Sumatera pada tahun 2016 selama 49 hari dan menghabiskan budget sebesar Rp 8 juta.
“Tahun ini, pada bulan April juga, saya melakukan ekspedisi berkeliling daerah Nusa Tenggara hingga perbatasan Timor Leste selama 39 hari dengan budget Rp 2 juta. selama berkeliling, saya juga melakukan berbagai macam misi. Mulai dari sosial hingga pendidikan,” beber anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Wanita yang saat ini juga memiliki usaha toko online tersebut mengatakan, ada berbagai macam persiapan yang dilakukannya sebelum melakukan perjalanan jauh. Mulai dari perlengkapan untuk berkendara dan perbekalan lainnya.
“Selain itu, saya juga punya aturan sendiri. Setelah jam empat sore, saya pantang melakukan perjalanan. Pasalnya, saya perempuan dan kondisi di jalan tersebut cenderung berbahaya,” tukas dia.
Ketika istirahat, Mouzza mengaku tidak melulu menyewa hotel ketika beristirahat. Dia mengaku, beberapa kali, dia juga tidur di POM bensin hingga kantor polisi. “Rasanya seru banget. Ketika itu, saya juga sempat tidur di kantor polisi karena dikejar begal di daerah Sungai Bengkal, Jambi,” kata dia santai.
Dia menceritakan, ketika itu, sekitar tengah malam, Mouzza mengaku nekat melakukan perjalanan, kemudian ketika melintas di sekitar daerah Sungai Bengkal, Jambi, dia mengaku dikejar begal dalam radius beberapa meter.
“Saya juga sempat balapan dengan begal itu. Kemudian, saya nemu kantor polisi. Saya lupa nama Polseknya, saya berlindung dan tidur di situ hingga pagi, eh nggak tahunya begalnya pergi dan tidak kejar saya lagi,” jelas dia sambil tertawa.
Dalam melakukan perjalanannya, bukan berarti selama ini Mouzza Zee tidak memiliki kendala. Beberapa kali, dia sempat mengalami kecelakaan dan sempat membuat motornya bengkok. Sehingga, dia harus meminta bala bantuan dengan memanggil montir dan komunitas motor untuk membantunya.
“Ketika di Palembang, saya sempat jatuh karena menghindari lubang. Tapi, hanya luka kecil saja. Kemudian, ketika sampai di wilayah Jambi, lagi-lagi saya jatuh dan membuat motor saya bengkok,” papar dia.
Ketika itu, Mouzza yang mengendarai motornya tersebut lagi-lagi sedang menghindari lubang. Kemudian, tubuh Mouzza terjungkal hingga menyebabkan stang motornya bengkok. “Setelah itu, saya naiki motor saya dengan keadaan stang bengkok dan badan saya sakit. Tak jauh dari sana, ada orang yang menolong dan akhirnya mereka bantu saya untuk memanggil montir. Motor saya akhirnya dibenahi di sana,” lanjutdia.
Selama perjalanannya tersebut, Mouzza awalnya memang sendirian dan juga melakukan berbagai aksi sosial. Belakangan, aksinya tersebt juga sudah mulai dilirik oleh beberapa komunitas motor dan juga sponsor yang juga turut mendukung aksinya tersebut.
“Ada berbagai macam kegaiatan yang saya lakukan, mulai dari ngajar ke sekolah-sekolah terpencil, memberikan bantuan berupa alat tulis hingga bangku dan banyak lagi,” kisah Mouzza.
Selain itu, wanita yang juga bekerja di salah satu konsultan pariwisata ini, kerap menceritakan tentang kota asalnya, yaitu Malang. Di setiap tempat yang dia pijaki, dia selalu menceritakan keindahan alam dan budaya yang dimiliki.
“Secara tidak langsung, mereka jadi penasaran dan pengin datang ke Malang,” ujar dia singkat.
Tak hanya itu, berbekal dari pengalaman ngalasnya tersebut, Mouzza juga mengibarkan semangat pendidikan di desanya dengan nama bertajuk ‘Pejuang Merdeka’. Di sana, dia mendirikan warung edukasi bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Warung yang dibangunnya tersebut merangkap menjadi sebuah sanggar tari dan teras baca gratis bagi anak-anak desa Jabung. Setiap Minggu, warung yang dinamai Kartini tersebut beralih fungsi menjadi sanggar tari. Mouzza yang dibantu seorang kawannya, mengajarkan latihan tari topeng gratis kepada anak-anak yang mau belajar di sanggarnya. “Latihannya hari Minggu, yang ikut latihan itu anak-anak usia 4-15 tahun. Pelatih tarinya adalah kepala sekolah guru PAUD di Jabung, dan orangnya tidak dibayar,” sambung Mouzza.
Selain sanggar tari, ada juga teras baca Kartini yang berada tepat di depan warungnya, menjadi salah satu cara yang dilakukan Mouzza untuk menarik minat baca anak-anak di desanya. Buku yang dikumpulkannya dari sumbangan beberapa teman, serta buku yang dikumpulkannya saat masih duduk di bangku kuliah.
Menariknya, selain menjadi sanggar dan teras baca, warung Mouzza Zee seringkali menjadi persinggahan orang-orang yang disebut Mouzza sebagai orang-orang yang terlupakan. Mouzza menjelaskan, orang-orang terlupakan yang ia maksud merupakan orang-orang dengan cacat mental maupun gelandangan yang keberadaannya terlupakan masyarakat sekitarnya.
"Saya ingin jadi orang sukses dan bermanfaat di Malang. Saya juga ingin membuktikan bahwa seorang perempuan juga bisa membuat perubahan,” pungkas dia bersemangat.(tea/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :