Juara Make-Up Fantasy, Belajar Effect dari Tim Pengabdi Setan



MALANG - Boomingnya satu judul film horor, membuat make-up effect, menjadi tren, akhir-akhir ini.Tampilan wajah mengerikan, membuat seniman make-up effect pun laris manis mendapat orderan. Salah satunya adalah Hafsah Ananda Taufasari.  Gadis 20 tahun asal Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang pawai mengubah wajah menjadi tampak mengerikan.
Ditemui Malang Post di salah satu kafe di Kota Malang, Hafsah terlihat cantik dalam balutan jilbab warna hitam dipadu blues warna cokelat. Hafsah pun antusias saat berbincang tentang make-up effect yang digelutinya.
"Belajarnya otodidak," kata Hafsah mengawali ceritanya.
Hafsah mengaku memulai berkecimpung di dunia make-up tahun 2013 lalu. Saat itu, dia duduk di kelas 2 SMA Al Rifaie. Pertama yang dipelajarinya adalah make-up beauty.
"Saat belajar, teman sebagai medianya, alias untuk praktik, beruntung teman-teman saya sangat mendukung," katanya.
Seiring waktu, Hafsah  tertarik dengan make-up effect. Dia pun belajar. Sebagai media, Hafsah “meminjam” wajah saudara kembarnya yaitu Saska Ananda Taufasari. Dengan alat make-up seadanya Hafsah melakukan makeover wajah dengan maksimal.
"Saya buat make-up effect sosok zombie. Di sudut wajahnya ada lebam dan luka gores yang besar. Ada darah belepotan di area luka dan mulutnya," ucap anak pertama dari pasangan Taufikur Rahman dan Hanifah Umisari ini.
Untuk membuat darah di wajah sang adik, Hafsah menggunakan susu kental cokelat. Agar warnanya sesuai dengan darah dia menggunakan pewarna makanan.
"Pertama melakukan make-up effect jelas tidak puas. Tapi setidaknya dari hasil tersebut, saya kian semangat belajar," tambahnya.
Kegigihannya dalam belajar kian tinggi seiring dengan banyaknya event yang membutuhkan make-up effect. Dia memoles wajah mediator untuk ajang kreasinya. Tidak sekadar membuat luka dengan darah di seluruh bagian lukanya. Tapi  dia juga membuat benjolan di wajah mediator, di mana saat benjolan tersebut ditusuk keluar darah.
"Kalau dulu susu kental, tapi sekarang menggunakan cairan make-up mirip darah," ucapnya.
Kepiawaiannya dalam merubah wajah seseorang pun membuat nama Hafsah sedikit terkenal. Terutama di kalangan para make-up artist. Dia pun kerap mendapatkan job untuk event-event yang menghadirkan sosok-sosok dengan wajah menyeramkan.
Tentu saja ia tak puas dengan raihannya di situ, ia ingin menggapai lebih. Untuk make-up effect, dia tidak hanya mengandalkan wajah orang lain sebagai medianya. Tapi dia mulai belajar me-make-up wajahnya sendiri. Karena sudah memiliki pengalaman, Hafsah pun tidak kesulitan.
"Sebetulnya mudah sih make-up effect itu. Tinggal kita mau jadikan apa dulu, selanjutnya memainkan warna layaknya sungguhan. Itu yang butuh konsentrasi," urainya.
Dibandingkan dengan make-up beauty, make-up effect lebih mudah, karena tak butuh kerapian.
"Beda dengan make-up fantasy. Di mana kita wajib memadu padankan warna, membuat effect sehingga bentuk wajah pun akan terlihat betul-betul berbeda," urainya.
Untuk make-up fantasy ini, pernah Hafsah me-make over wajahnya dengan resleting di tengahnya. Di mana pada bagian dengan resleting terbuka warnanya berbeda dengan di samping kiri dan kanan. Dan make-up fantasy yang dibuatnya itu pun mengantarkan dirinya sebagai juara I lomba Make-up Fantasy 2017 beberapa waktu lalu.
"Ada juga make-up karakter. Sekarang juga masih belajar untuk yang ini," urai alumni SDN Kasin I ini.
Dia mengatakan dibanding dengan make-up effect dan make-up fantasy, yang karakter ini sedikit lebih sulit. Karena dia harus membuat wajah seseorang mirip dengan karakter yang dibuat. Contohnya  membuat karakter kucing. Semua terori make-up pun dipakai untuk mendapat hasil memuaskan.
Selain pernah ikut lomba, make-up karakter juga pernah dipraktikkan Hafsah saat event karnaval bulan Agustus lalu di Kecamatan Wagir. Di mana untuk peserta di kampungnya, dia memoles wajah peserta dengan karakter yang sama. Bahkan, jika orang tersebut tak bersuara, maka satu sama lainnya pun tak mengenal, karena make-up yang sama.
"Setelah otodidak kemudian saya kursus juga. Untuk mendalami ilmu make-up, terutama make-up beauty," ucapnya.
Dengan pengalaman yang dimiliki mahasiswa jurusan Pariwisata, Vokasi, Universitas Brawijaya ini, ia kian dipercaya. Banyak orang juga memakai jasanya untuk make-up pengantin. Bahkan di bulan-bulan tertentu, job riasnya dalam satu hari bisa empat kali.
"Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur karena memiliki kelebihan ini," katanya.
Tapi demikian, alumni SMP Al Rifaie ini tetap ingin belajar. Dia mengaku belum puas dengan hasil yang sudah diperolehnya. Lantaran itulah, Hafsah pun getol ikut workshop ataupun seminar tentang make-up. Bahkan, dia juga tak segan ke Jakarta untuk memburu ilmu.
"September lalu ke Jakarta, untuk ikut workshop. Disitu juga ada stan seniman make-up untuk film pengabdi setan. Saya banyak belajar juga disitu," ucapnya.
Hafsah juga mengaku suka dengan dunia make-up karena dia bisa merubah wajah seseorang lebih cantik, bahkan lebih jelek sekalipun. "Kalau ditanya cita-cita, sekarang saya ingin menjadi wedding planner," katanya.
Alasannya, jelas selain dia bisa merancang pernikahan, juga memberdayakan orang lain di dalamnya. Sejauh ini pada usianya yang masih muda, Hafsah juga telah banyak memberdayakan tenaga orang lain. Itu seiring dengan job make-up yang terus menerus dan tak berhenti.
"Kalau ditangani sendiri jelas tidak kuat. Jadi begitu ada job seperti pernikahan, minimal untuk satu tempat saya dibantu oleh empat orang. Untuk menyiapkan semuanya, make-up dan lain-lainnya," tandasnya.(ira ravika/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...