Wujud Simpati dan Dedikasi pada Pegolf Muda sebagai Generasi Penerus


RATUSAN piala dan terpajang apik di sejumlah  lemari,  menghiasi rumah asri di Jalan Diponegoro nomor 11 A Malang. Itulah bukti  prestasi tinggi sang pemilik rumah, Ny. Egnie Sugijono, selama puluhan tahun   berkecimpung dalam cabang olahraga golf.

Pada dekade tahun 1980-an hingga 1990-an silam,sosok Ny.Egnie Sugijono memang dikenal sebagai  pegolf berprestasi. Tidak saja di tingkat nasional tetapi juga skala internasional. Istri ebese arek Malang Sugijono (almarhum)  yang pernah menjabat Wali Kota Malang dan Wakil Gubernur Irian Jaya (sekarang Papua,red) ini juga pernah menyabet prestasi spektakuler. Yaitu, sekaligus menjadi juara dalam  tiga  turnamen paling bergengsi di tanah air.
“Tiga turnamen tersebut adalah Piala  Ibu Tien Soeharto, Piala Srikandi dan Piala Kartini di Jakarta.  Saya senang sekali dapat menjadi juara dalam sekaligus tiga turnamen tersebut. Memori   indah itu tidak pernah saya lupakan sampai sekarang,” kenangnya kepada Malang Post kemarin.
Wanita ramah ini mengungkapkan, keaktifannya dalam cabang golf sebenarnya bermula dari iseng. Bahkan,sama sekali tidak pernah berlatih kepada pelatih profesional.
“Kali pertama yang melatih saya adalah pak kebun di Padang Golf Abd  Saleh Singosari (Pegas). Saya kemudian terus telaten berlatih. Jika selesai rapat Dharma Wanita biasanya saya buru-buru berangkat ke Pegas untuk  berlatih. Kemudian mulai ikut turnamen dan dapat menjadi juara. Sampai sekarang,saya masih menjadi anggota Pegas. Sudah puluhan tahun. Bahkan merupakan anggota tertua di Pegas,” paparnya sembari tersenyum.
Sebagai pegolf paling senior, Ny Egnie Sugijono  punya  keinginan mulia. Yaitu,ingin agar pembinaan golf di  Malang Raya  terus berjalan dengan maksimal, ditandai dengan lahirnya pegolf-pegolf muda berprestasi. Sehingga, wanita kelahiran Minahasa Sulawesi Utara ini mempunyai  gagasan untuk menyelenggarakan turnamen golf terbuka dalam rangka memperingati HUT ke-77 yang jatuh pada 12 Oktober lalu.
“Melalui turnamen  ini, saya ingin  pembinaan golf di Jatim khususnya Malang Raya semakin semarak. Muaranya adalah Malang Raya terus melahirkan pegolf-pegolf yang handal dan berprestasi,” paparnya mengenai pelaksanaan turnamen golf Egnie Sugijono di Padang Golf Abd Saleh Singosari (Pegas) pada hari Sabtu (21 Oktober) ini.
Gayung bersambut. Keinginan Ny.Egnie Sugijono  tersebut disambut gembira dan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Mulai dari  Lanud Abd Saleh, Persatuan Golf Indonesia (PGI) Malang, Persatuan Pegolf Senior Indonesia (PERPESI) Malang, KONI Kota Malang, Harian Malang Post, Pegas sendiri dan berbagai pihak lainnya yang sejak awal antusias menyukseskan turnamen selama satu hari ini.
“Saya sangat senang dan berterima kasih sekali kepada semua pihak yang begitu kompak membantu  saya mewujudkan keinginan menggelar turnamen ini akhirnya hingga dapat menjadi kenyataan,” tegasnya.
Rasa terima kasih dihaturkan kepada  Danlanud Abd Saleh Marsma (TNI) Julexi Tambayong, Arifudin Sahabu yang berkenan didapuk menjadi ketua panitia. Serta Ketua KONI Kota Malang Bambang DH Suyono selaku pelindung panitia, Totok Sukadariswanto, H.Edy Wahyono, Tjipto Rahadi.
“Tak lupa Bapak  Sasmito, Bapak Sahid, Bapak Abd Wachid, Bapak Suprapto, Ibu Rita Rochajati Indiani, Ibu Ivone, Ibu Wiwik, Ibu  Budi Kusumaningdiah dan seluruh pihak, sahabat dan kerabat lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu,’’ urainya.
Ketua Rukun  Kawanua Jawa  Timur ini memaparkan bahwa yang  akan diselenggarakan secara rutin setiap tahun ini  juga dimaksudkan sebagai ungkapkan terima kasih kepada keluarga besar Pegas.
“Saya  lahir dan dibesarkan oleh Pegas. Karena itu,saya ingin berbagi suka cita,berbagi ilmu dan pengalaman golf melalui turnamen ini,” urainya.
Ny Egnie   Sugijono mengakui turnamen ini bukan turnamen prestisus yang bertabur bonus. Bukan pula farewell party untuk sebuah bingkai kenangan terakhir, karena  dirinya bersama para sahabat dan kerabat masih  ingin terus bermain golf  untuk menjaga kesehatannya di  lapangan Pegas.
Karena itu, dia  juga sengaja mendedikasikan turnamen ini untuk semua pihak di lapangan Pegas yang selama ini telah berjasa dan berkontribusi besar dalam membangun dan merawat lapangan Pegas sejak awal hingga kini. Baik manajemen, para instruktur, caddies,  para pegolf muda dan sebagainya.
“Mereka  itu saya juluki tunas-tunas muda, generasi penerus yang akan membuat Pegas ini lebih disegani dan dikagumi di masa-masa mendatang.  Turnamen ini, saya haturkan sebagai simpati dan cinta kasih saya kepada tunas-tunas muda yaitu para pegolf muda sebagai generasi penerus tersebut,”  seru sesepuh warga asal Sulawesi Utara  di Malang Raya ini.
Didampingi beberapa panitia lainnya, Ny.Egnie Sugijono  juga menyatakan golf memang bukan  cabang olahraga yang semata-mata mengejar prestasi, membangun karakter kepribadian yang tangguh dan memelihara hidup yang sehat.Tapi jauh lebih penting dari itu, bahwa di padang golf ini juga membangun tali silaturahmi, memupuk rasa persahabatan dan persaudaraan  tanpa melihat latar belakang masing-masing individu.
Serta, tidak kalah pentingnya, mengedepankan kejujuran dan kecerdasan olah pikir. Pejabat negara, pengusaha, buruh, pekerja sosial dan siapapun yang berminat mengayun stik di bawah terik matahari memiliki hak dan kedudukan yang sama ketika bergabung dalam komunitas golf.
“Semoga turnamen ini dapat kita jadikan simpul tali persahabatan dan persaudaraan dari masing-masing individu yang tangguh,sehat jasmani dan rohani. Selalu berpikir jernih, jujur sehingga layak disebut sebagai insan-insan Pancasialis sejati,” demikian terang Ny.Egnie Sugijono yang tetap enerjik dan fit di usia 77 tahun  ini.(nugroho/red)

Berita Terkait

Berita Lainnya :