Jualan Urap-urap di Papua, Laku Rp 1,5 Miliar


MALANG POST - Sesuatu yang dipandang remeh, rupanya menjadi peluang usaha yang besar bagi H. Kholil  (57 tahun). Bahkan berkat kejelian warga Dusun Banaran, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji ini, sesuatu yang sepele ini memberikan kesejahteraan untuk orang banyak. Kholil adalah orang Batu yang terpikir mengirim urap-urap ke Papua. Dan menghasilkan duit miliaran rupiah.
Di pasar tradisional, harga urap-urap harganya hanya beberapa ribu saja. Sayur khas Jawa yang dicampur parutan kelapa yang sudah dibumbui untuk menambah cita rasa ini, bisa bernilai tinggi di tangan Kholil. Jebolan Pondok Pesantren Salafiyah Lirboyo, Kediri ini, sudah membuktikan hasil jerih payah menjual urap-urap.
Setiap tiga bulan sekali, ia harus memenuhi purchasing order (PO) berbagai sayuran termasuk urap-urap senilai Rp 1,5 milyar. Dalam satu kali pengiriman, biasanya Kholil menyediakan kurang lebih 12 ton urap-urap untuk dikirim ke PT Freeport di Papua.
"Tergantung pilihan menu yang diminta oleh Freeport, urap-urap pasti selalu diminta bersama beberapa sayuran seperti Kluwih, Pepaya Gantung. Beberapa hari yang lalu, barusan kita kirim ke sana," ujar Kholil.
Urap-urap yang dikirim dalam kemasan ini mampu bertahan kurang lebih satu tahun. Kholil menggunakan sistem pengolahan makanan dari Jepang yang dipelajarinya, yakni melalui sistem frozen. 
"Produknya frozen tapi bumbunya keriuk-keriuk, unik kan," celetuknya sambil tersenyum.
Dalam satu kemasan seberat 6 kilogram urap-urap berisi sayuran berbagai jenis, mulai dari pepaya gantung, daun pepaya, daun singkong, tauge kedelai serta beberapa sayuran yang disesuaikan permintaannya dengan Freeport.    
Mulai 1998 hingga saat ini, Urap-urap Putra Fajar Mandiri, Bumiaji yang selalu dikonsumsi oleh ribuan karyawan PT Freeport. Kejayaan yang ada saat ini semuanya dirintis oleh Santri Lirboyo yang lulus tahun 1980 lewat jalan berliku dan penuh kerja keras.
"Kalau gagal berulangkali tidak terhitung, tapi kalau rugi tidak pernah, semua itu atas izin Allah SWT," aku Kholil yang tidak pernah menyebut kebangkrutan sebagai kerugian ini.
Saat usaha pertanian apel yang dirintisnya, bangkrut pada tahun 1989, ia mempertahankan satu-satunya truk engkel yang dimilikinya. Lewat truk ini, ia berharap bisa mendapatkan rejeki untuk menghidupi istri dan anaknya yang masih bayi.
Kebangkrutan yang dialami, ia anggap sebagai sebuah pemicu semangat untuk menghidupkan kembali perekonomiannya. Tidak hanya mengantar barang di dalam Provinsi Jatim saja, ia pun sering mengantar barang ke Jakarta atau ke Bali, tergantung pemesan.
Hingga suatu saat ada salah seorang pedagang yang meminta mengantarkan barang ke Jakarta. Meski pun jika dikalkulasi pengiriman ini, Kholil hanya mendapatkan keuntungan minim, ia pun akhirnya bersedia.
"Ternyata barang yang saya kirim itu milik PT Inti Daya Agrolestari, milik Bob Sadino, dari perkenalan itu banyak pengiriman barang yang akhirnya menggunakan pengiriman saya," terangnya.
Dari proses pengangkutan barang ini, Kholil banyak mempelajari perlakuan pengemasan sayuran atau produk bumi lainnya agar tidak rusak atau tidak busuk. Ia mencontohkan pengiriman sayur ke luar pulau, bisa dipastikan proses pengangkutan mengakibatkan kerusakan sayuran atau buah hingga mencapai 30 persen.
Bahkan ia pernah terpaksa harus mengganti kentang sebanyak satu truk yang dikirim dari daerah Bandung menuju ke Kalimantan, karena saat masuk ke pelabuhan, seluruh kentang rusak.
Belajar dari pengalaman itu ia pun mencari cara pengemasan agar sayuran yang bisa bertahan lebih lama. Hingga satu saat ia mendapatkan kesempatan diundang oleh Mitra Tani Jember untuk mengikuti pelatihan pengemasan makanan menggunakan frozen.
Saat itu Mitra Tani memang sedang ada kerjasama dengan Jepang untuk pengemasan Edamame (kedelai Jepang) dengan menggunakan sistem frozen.  Jaringan pasar yang diketahuinya dari proses pengangkutan dan pengetahuannya tentang proses pengangkutan dan pengemasan dipadukannya.
Lantas, pada tahun 1998, salah satu Chief dari PT Freeport datang ke Kota Batu untuk mencari beberapa produk makanan yang bisa disajikan di perusahaan tambang di Papua ini. Hingga akhirnya ia pun mencoba mengajukan menu makanan ke PT Freeport.
"Saat itu saya kirim 22 menu makanan agar bisa diterima di PT Freeport, namun tujuh kali pengajuan saya tidak pernah sampai di PT Freeport, karena 22 menu yang saya kirim itu nyasar ke Pontianak, karena sabotase atau karena apa saya tidak tahu," paparnya.
Untungnya, PT Freeport yang sudah beberapa kali sudah menerima pengajuan tertulis darinya menghubunginya, hingga akhirnya ia pun berangkat ke Papua. Saat itu di sana ternyata sudah ada beberapa pengusaha makanan yang mengajukan menu. Namun melewati beberapa uji, hingga akhirnya akhirnya makanan buatan Kholil diterima oleh PT Freeport.
Untuk membuat urap-urap yang tidak rusak ini, dibutuhkan perjuangan yang keras. Karena beberapa kali uji cobanya gagal. Ia mencontohkan perlakukan untuk Laos dan Sirih, awalnya kedua sayuran ini digiling, saat pengolahan hasil bumi ini memang mengeluarkan aroma harum, namun saat dimakan rasanya pahit.
"Ibu saya yang memberikan saran sebaiknya laos dan sirih jangan digiling, hanya diremukkan sedikit. Sebagai anak saya mematuhinya, ternyata benar cara itu lebih baik tidak membuat makanan menjadi pahit," paparnya sambil tersenyum.
Ia merasa semua ilmu itu tidak akan didapatkan kalau tidak ada izin dari Allah SWT. Karena itu setiap uji coba makanan berhasil, ia selalu lari ke tengah lapangan atau alun-alun untuk mengucapkan syukur atas karunia Allah SWT.
Untuk merintis usaha pun ia mulai dari nol, mulai dari ia menyewa cold storage di Sidoarjo, namun itu pun ia gagal karena hanya satu komoditas pertanian saja yang bisa masuk cold storage. Hingga akhirnya lambat laun ia bisa membeli cold storage seharga Rp 400 juta.
Teknologi ini menurut Kholil sebenarnya menjadi solusi dari permasalahan petani Kota Batu. Karena seringkali ketika terjadi over produksi harga hasil bumi turun drastis, teknologi ini bisa menjadi solusinya.
"Kelemahan kita adalah kita punya produk, orang lain disuruh membeli, sementara kita tidak mau memakainya. Bagaimana kita mau disayang oleh Allah SWT, kalau malah orang lain yang memakai manfaatnya," papar Kholil menggugah pelaku usaha dan pertanian di Kota Batu.
Kota Batu tidak hanya kaya akan potensi, kota Batu memiliki karunia alam yang luar biasa berupa air yang kualitasnya tidak dimiliki oleh daerah lainnya. "Contohnya seperti ini, sama-sama kita menerapkan teknologi frozen, sama-sama menggunakan air, kualitas frozen kita dengan frozen di Jember,lebih baik kita," tegasnya.(dan/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :