Praka Yohanes Hilarius, Juara II Free Fall International Kasau Cup


MALANG - Prestasi membanggakan diraih prajurit Pleton Pandu Udara, Brigif Para Raider 18/ Trisula, Praka Yohanes Hilarius. Dia berhasil meraih juara dua Free Fall International Cup 2017. Dari tiga juara dalam nomor tersebut, dia satu-satunya prajurit Indonesia yang sukses naik podium.
Wajah sumringah terpancarkan dari seluruh atlet penerima penghargaan saat upacara pembukaan Outbond Ketenagakerjaan di Markas Brigif Pararaider/18 Trisula, Jabung, Jumat (20/10). Salah satu dari penerima penghargaan dari Direktur Operasional PTPN XII, Drs Anis Febriantomo, merupakan tentara dari Brigif Para Raider 18/Trisula, Praka Yohanes Hilarius.
Usai menerima penghargaan, prajurit berusia 28 tahun ini berbagai kesuksesan Juara II International Kasau Cup 2017 kepada Malang Post. Dengan suara tegas, dia menceritakan awal mula menggeluti olahraga menantang tersebut.
Awal karirnya menjadi prajurit, dia memang langsung bergabung dengan Brigif Para Raider 18/Trisula. Dia memang prajurit yang dibekali kemampuan untuk menyerang dari udara dengan cara terjun payung dari pesawat terbang jenis angkut.
“Selain menjalankan misi dan tugas sehari-hari, saya juga mendapat keprecayaan untuk mengikuti berbagai kejuaraan free fall atau terjun bebas,” ujar Praka Hilarius Yohanes kepada Malang Post. Mulanya, prajurit pemilik jam terbang terjun payung sebanyak 1.350 jam tersebut, mengikuti ajang Pra PON 2015 dan PON 2016.
“Saat PON 2016, saya berhasil meriah juara tiga,” ucapnya dengan penuh kebanggaan. Pria asal Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT ini mengikuti ajang Free Fall International Cup 2017. Saat mengikuti ajang bergengsi itu, dia harus bersaing dengan para prajurit dari berbagai negara yang lebih diunggulkan.
Meski begitu, dia tidak minder. Praka Yohanes memiliki komitmen untuk menampilkan yang terbaik. Apalagi dia membawa nama kesatuan dan menjadi wakil Indonesia. Sehingga, pantang baginya untuk tampil asal-asalan dan harus menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam kejuaraan tersebut.
“Saat itu, saya terjun dari ketinggian 10 ribu kaki dari udara. Pesawat yang membawa saya adalah pesawat angkut jenis Hercules,” terangnya.
Saat terjun itu, dia harus membuat formasi bagus yang diharapkan dapat memikat dewan juri. Di ketinggian 5.000 kaki, dia membentangkan parasutnya. Formasi bagus dan ketepatan saat mendarat, membuatnya meraih juara dua dalam ajang bergengsi itu. Sedangkan juara satu berasal dari Bahrain dan juara tiga dari Malaysia. “Tentu saya bangga dan tidak pernah menyangka sebelumnya,” kata dia.
Meski telah berulang kali terjun payung dari atas udara, dia tetap merasakan ketakutan. Karena risikonya sangat besar bila gagal mengembangkan parasut. Nyawa taruhannya. Apalagi dia pernah merasakan sekali gagal mengembangkan parasut. Saat itu, dia tidak panik. Namun, rasa ketakutannya amat sangat besar.
“Saat itu misinya terjun payung adalah latihan rutin. Ketika hendak mengembangkan parasut di udara, parasutnya tidak mengembang sempurna. Kemudian saya lepas parasutnya dan mengembangkan parasut cadangan,” paparnya.
Saat itu, selain merasa ketakutan, ia juga merasakan bahwa hidupnya akan berakhir saat itu. Sejak peristiwa itu, Praka Yohanes selalu mengecek berulang kali kondisi parasutnya hingga dipastikan benar-benar aman dan layak untuk digunakan. “Meski berulang kali terjun payung, tidak boleh sombong. Karena ketika di udara, tidak boleh ada kesalahan sedikitpun. Selain itu, juga tetap harus berdoa kepada Tuhan supaya diberi keselamatan,” terangnya.
Maka, ketika menjalani misi atau latihan terjun payung menggunakan pesawat angkut, dia selalu berdoa. Beberapa jenis pesawat angkut yang dia tumpangi untuk melakukan terjun payung itu seperti Hercules dan Casa. “Doa wajib dilakukan sebelum terjun payung. Ketika di udara dan menemui masalah, meski takut tidak boleh panik dan harus tetap tenang,” katanya.
Selain itu, dia mengajak seluruh prajurit Pleton Pandu Udara, Brigif Para Raider 18/ Trisula untuk meningkatkan skillnya. Terutama untuk terus mencoba tantangan olahraga yang memacu andrenalin.
“Mungkin kalau terjun payung saat latihan merupakan hal biasa. Tapi, rasanya berbeda ketika mengikuti kejuaraan semacam ini. Karena ada rasa tuntutan untuk menang, meraih juara dan harus memberikan terbaik,” paparnya.
Sementara itu, Danki Ton Pandu Kapten Inf Jayadi mengapresiasi kinerja prajuritnya tersebut. Menurutnya, Praka Yohanes Hilarius memang memiliki kualitas terjun payung di atas rata-rata. “Maka dari itu, dia kami siapkan untuk mengikuti berbagai kejuaraan free fall. Kesuksesan Praka Yohanes Hilarius harus ditiru oleh prajurit lain dalam meningkatkan keahliannya dan berupaya meraih banyak prestasi,” ucapnya. (binar gumilang/han) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :