Sahawood, Kreasi Mantan Pecandu Narkoba


MALANG - Jangan memandang remeh atau negatif seseorang yang pernah menjadi pecandu narkotika. Bila mereka memiliki niat untuk berhenti dan mengerjakan hal yang positif, hasilnya pun bisa membanggakan. Bahkan bisa menghasilkan karya, yang pasarnya disukai tidak hanya di Indonesia, melainkan sampai ke luar negeri.
Hal tersebut tampaknya pas bila disematkan pada para perajin kacamata kayu dengan brand Sahawood. Brand yang diproduksi di Malang ini, memiliki pasar utama ke luar negeri. Sahawood, memproduksi kacamata pesanan dan dikirim ke Inggris, Swiss dan Australia. Menariknya, yang memproduksi kacamata kayu ini adalah mantan pecandu narkoba, yang pernah pula menjadi penghuni lapas dan panti rehabilitasi narkoba.
Sahawood merupakan singkatan dari Sadar Hati Wood. Sadar Hati adalah nama LSM yang bergerak di bidang rehabilitasi narkotika. Tidak ingin hanya melakukan rehabilitasi, yayasan tersebut juga melakukan pendampingan, agar setelah rehab, korban narkotika ini bisa memiliki pekerjaan. Sahawood pun memiliki rumah produksi di dua lokasi, yakni di kawasan Bandunrejosari, Sukun, Kota Malang dan di Dampit, Kabupaten Malang.
"Kalau ngomong pendampingan mantan pecandu, kita juga harus mencarikan solusi buat mereka setelah itu. Makanya, salah satu yang kami lakukan dengan memberikan kegiatan pasca rehab melalui produksi kerajinan seperti ini," ujar Direktur Sahawood, M. Theo Zainuri.
Dia mengatakan, setelah proses rehab selesai, fase kembali ke masyarakat sangat krusial. Jika mantan pecandu kembali ke lingkungannya dan tidak memiliki pekerjaan, potensi untuk menjadi pecandu lagi sangat besar. Sementara, sebagai mantan penghuni rumah tahanan, stigma negatif kadang juga diterima.
"Makanya mereka harus ada kesibukan atau pekerjaan. Agar tidak lagi terhubung dengan pengguna narkoba. Alhamdulillah, lebih dari setahun ini Sahawood bisa menjadi tempat untuk mereka yang benar-benar ingin berhenti," papar dia kepada Malang Post.
Ia mengakui, tidak banyak yang memiliki niat untuk benar-benar berhenti, setelah pernah menjadi pecandu narkoba. Namun, saat ini di Sahawood, ada 10 orang yang total sudah berhenti mengonsumsi narkoba. "Syarat untuk bekerja di sini juga memang bukan lagi pemakai narkoba. Kalau mereka menjadi pemakai lagi, ya kami tidak menerima," tegas dia.
Ketegasan itu membuahkan hasil. Mereka yang telah berhenti menjadi pengguna narkoba, kini setiap hari disibukkan dengan pembuatan produk fashion dari Sahawood. Setidaknya, dalam satu bulan, lebih dari 600 kacamata dari bahan kayu diproduksi oleh Sahawood.
"Selama setahun terakhir, produksi kami sudah di atas 600 kacamata per bulan. Sebenarnya, bisa mencapai 1.000, tetapi kami menyesuaikan permintaan. Sebagian besar produk dibuat karena ada pesanan. Kami tidak membuat stok kecuali untuk display," jelas dia panjang lebar.
Angka 600 kacamata memang terhitung sedikit. Akan tetapi, ketika melihat nilai fashion berpadu seni dari produk tersebut, maka jumlah itu menjadi sangat berharga dan besar. Apalagi, satu kacamata dari kayu ini, dibandrol mulai dari Rp 500 ribu. Bila dikalkulasi, minimal omzet dari Sahawood di kisaran Rp 300 juta per bulan.
"Produksi ini sudah jauh meningkat. Kami bisa memproduksi sebanyak itu karena sekarang juga sudah memiliki mesin laser untuk membantu pemotongan. Sebelumnya, yang bisa kami buat sekitar 100 frame per bulan," urai pria yang berdomisili di Sidoarjo tersebut.
Dia menjelaskan bagaimana Sahawood dikenal di luar negeri. Seorang pengusaha dari Inggris, sempat memberikan tantangan untuk membuat produksi tersebut. "Ya Sahawood ini pertama dikirim ke Inggris yang sekarang setiap bulan selalu ada pengiriman. Pengiriman lain seperti ke Swiss, yang dikenal sebagai salah satu pusat fashion juga," tambahnya.
Menurut dia, sempat ada permintaan ke Amerika Serikat. Akan tetapi, kini Sahawood masih mempertimbangkan untuk menerimanya atau tidak. "Ada beberapa poin yang kami tidak sepakat seperti permintaan untuk konsinyasi. Kami mintanya beli putus. Ya sekarang pasar yang ada dulu kami jalankan," ujar Theo.
Selain ke luar negeri, dia mengatakan pasar Sahawood juga ada di dalam negeri. Paling besar, pengiriman untuk tingkat lokal ke Pulau Bali. Kacamata tersebut dikirim ke Seminyak, Ubud, Denpasar dan Canggu. "Jakarta dan Surabaya juga ada. Selain itu dijual secara online melalui media sosial," imbuh dia.
Proses pembuatan frame kacamata, lanjutnya, diawali dengan pemilihan jenis kayu sono dan jati yang diambil dari bahan limbah atau sisa pakai. Kayu tersebut dioven dan dibentuk agar melengkung. Setelah melengkung, pemotongan kayu dengan bahan laser tadi. Sahawood juga memanfaatkan komponen rantai sepeda motor yang digunakan untuk pengait gagang kacamata.
"Tetapi sekarang kami juga memproduksi pengait gagang kacamata dengan engsel pir. Ini untuk meminimalisir engsel mudah patah," sebutnya.
Sementara itu, meski sekarang Sahawood kian meningkat dan dikenal di beberapa negara, dia menegaskan, bukan jumlah atau omzet sebenarnya yang ditekankan oleh Sahawood. Mereka siap jika memang respon pasar besar. Akan tetapi, dari produksi tersebut mereka juga menyelipkan pesan moral untuk tetap memberikan dukungan kepada para mantan pecandu narkoba.
"Kami sering berikan pesan seperti di media sosial dengan kata-kata seperti 'lawan dengan karya'. Kami berharap mantan pecandu narkoba ini berhenti dan mereka bisa membuktikan dengan karya mereka," tandasnya. (stenly rehardson/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...