Ciptakan Cool Brue, Minum Tiga Cangkir Tidak Pusing


Sebagai pakar kopi, Setiawan Subekti berusaha mengubah pandangan masyarakat tentang minuman eksotis itu. Selain tidak menggunakan air mendidih, dia juga menemukan salah satu cara membuat kopi yang diyakini membuat rasanya semakin enak.
Sore itu suasana desa Kemiren memang agak ramai. Masyarakat tengah menyiapkan acara menyambut para tamu yang akan datang ke desa dalam festival minum kopi. Seperti rumah yang lain, Sanggar Genjah Arum milik Iwan juga tengah menunggu event tersebut, meskipun tidak ada persiapan khusus karena memang sudah biasa menerima tamu.
Alam pedesaan masih sangat terasa. Sanggar itu terdiri dari beberapa bangunan rumah tradisional Osing yang tersebar di beberapa lokasi. Di samping kanan terhampar sawah yang luas dengan pohon kelapa di pematangnya. Di samping kanan dan belakang, pepohonan rimbun mengelilinginya. Suara belalang bersahutan bak simfoni mengiringi acara minum kopi di sanggar tersebut.
Setelah menyuguhkan kopi asli Osing dan kopi luwak, Iwan menunjukkan salah satu kreasinya yaitu kopi dingin yang dikemas dalam botol gelas. Prosesnya, kopi yang sudah disangrai kemudian dihaluskan dengan alat khusus. Bubuk kopi halus ini dicampur dengan air dingin. Berbeda dengan kopi panas yang bisa langsung diminum, kopi yang diberi nama Cool Brue ini harus menunggu sampai beberapa hari disimpan di tempat khusus sebelum dinikmati.
Sore itu menjadi pengalaman yang menarik, karena untuk kali pertama bisa minum kopi dalam suasana pedesaan yang asri. ‘’Coba ini, kopi dingin, tapi rasanya tetap enak,’’ kata Iwan. Karena memang tidak terbiasa minum kopi, kopi yang konon enak itu, rasanya ya sama seperti yang lain. Hanya saja saya punya pengalaman baru dalam minum kopi bersama Iwan, tidak pusing dan perut tidak mual. Padahal, minum satu sruput saja biasanya kepala pusing dan perut bergejolak.
Iwan punya jawaban yang masuk akal tentang masalah ini. Pusing dan mual terjadi karena kandungan kafein dalam kopi sangat tinggi.  Kandungan kafein yang tinggi ini ada pada kopi Robusta, sedangkan kopi Osing yang ditanam di sebagian besar kebun di Banyuwangi adalah kopi Arabica. Kopi jenis ini kandungan zat yang bisa bikin pusing itu lebih kecil. Kebiasaan pusing dan mual itulah yang terus terbawa saat akan minum kopi. Jangankan minum kopi, makan permen kopi saja sudah pusing.
Sugesti inilah yang menurut Iwan yang harus dihilangkan bila ingin menikmati kopi. Kali ini bukan hanya satu teguk, tapi sudah tiga cangkir kopi yang saya minum di sanggar Iwan, tapi tidak terasa pusing dan mual. Selain jenis kopinya, cara membuatnya juga berpengaruh. Kebanyakan kopi disangrai sampai gosong berwarna hitam. Itulah ciri khas kopi, hitam pekat karena berasal dari biji kopi yang gosong. Padahal kata Iwan, seharusnya kopi disangrai tidak sampai gosong, cukup matang seperti digoreng biasa dan masih berwarna coklat. Kalau diamati, kopi yang dihidangkan di sanggar ini tidak hitam pekat seperti biasanya, tapi cenderung coklat. Cara sangrai yang tidak sampai gosong ini juga memengaruhi rasa yang tidak sampai menimbulkan efek negatif. ‘’Setelah sampean minum kopi di sini, terasa pusing nggak,’’ tanyanya. Saya pun menggeleng kepala.
Kebanyakan kopi Osing diolah secara tradisional oleh masyarakat setempat. Proses sangrai masih menggunakan wajan di atas tungku yang apinya berasal dari kayu. Cara ini diyakini menjadikan kopi masih tetap dalam aroma dan rasa tradisional. Bagi penikmat kopi, rasa tradisional ini lebih nikmat dibanding kopi yang sudah diproses secara modern.
Iwan mengaku prihatin dengan banyaknya kopi instan yang beredar di masyarakat, apalagi dijual dengan harga murah. Dia maklum kalau kopi itu dijual dengan harga murah karena isinya bukan kopi asli tapi hanya essence yang berasa kopi kemudian dicampur dengan susu, krim dan lainnya. Itulah sebabnya kopi tersebut dijual dengan harga sangat murah. ‘’Hanya dengan beberapa ribu rupiah, beli satu dapat dua. Padahal konsumen tidak tahu, yang mereka minum itu sebenarnya bukan kopi,’’ ujarnya.
Sebagai negara penghasil kopi terbesar di dunia, bersama Brazil dan Vietnam, Indonesia termasuk negara dengan konsumsi kopi yang rendah. Sebagian besar kopi mentah Indonesia diekspor ke berbagai negara. Di negara-negara itu kopi Indonesia kemudian diolah dengan cara yang baik sehingga tercipta rasa yang nikmat dan tentu saja mahal. ‘’Sementara kita di sini minum kopi sisa yang kualitasnya tidak bagus,’’ pungkas Iwan. (husnun n djuraid/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :