Awal Seleksi Tidak Memiliki Sepatu, Dapat Lungsuran Dari Benny Wahyudi

MALANG - Namanya memang belum setenar seperti Dendi Santoso, Sunarto ataupun Dedik Setiawan. Namun perjuangan April Riyandi, pemuda asal Kecamatan Bantur ini untuk menjadi pesepakbola profesional, patut diacungi jempol. Dari pemain kampungan yang berlaga antar kecamatan, April sukses melenggang sebagai pemain profesional. Sekalipun hanya bermain untuk Liga 2 Indonesia, dengan bergabung Persekam Metro FC.
Di tim Macan Kumbang, julukan Persekam Metro FC, Andik sapaan akrab April Riyandi merupakan salah satu pemain muda. Usianya baru 20 tahun. Bahkan pemuda kelahiran 6 April 1997, baru tahun ini bergabung sebagai pemain profesional.
Namanya masuk dalam daftar pemain Persekam Metro FC, yang berlaga di Liga 2 Indonesia. Ia lolos seleksi tim asuhan Siswantoro, saat perekrutan pemain sebelum berlaga di kasta dua kompetisi. Sebelumnya, Andik hanya pemain Korcam yang bermain untuk tim Kecamatan Bantur.
"Saya baru tahun ini, bisa merasakan sebagai pemain profesional. Sebelumnya saya bermain untuk tim Korcam Bantur," ucap Andik.
Untuk menjadi pemain profesional, butuh perjuangan dan kerja keras. Sebelum masuk dalam bagian tim Metro FC, Andik mengikuti seleksi pemain Porprov Kabupaten Malang. Seleksi pemain dilakukan oleh Siswantoro.
Sebagai pemain yang berposisi bek kiri dan kanan ini, Andik terpilih untuk masuk dalam tim Porprov. "Tetapi saat itu gagal mengikuti Porprov, karena pelaksanaannya ditunda," kata warga Dusun Gampingan, Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur ini.
Impian untuk mewujudkan sebagai pemain profesional pun, waktu itu sempat terputus. Namun beberapa pekan kemudian, ia mengaku dihubungi oleh Siswantoro. Anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Mukiyat dan Sumakyah ini, diminta untuk ikut seleksi Persekam Metro FC.
Saat itulah, ambisinya untuk menjadi pemain profesional kembali memuncak. Tanpa pikir panjang Andik menerima tawaran tersebut. Namun yang dipikirkan saat itu, ia tidak memiliki sepatu bola untuk mengikuti seleksi.
Karena selama ini, ketika bermain untuk Korcam Andik meminjam sepatu temannya. Ada sepatu miliknya, namun kondisinya sudah jebol. Beruntung ada Cak Sube, penjahit sepatu asal Desa Wonokerto yang peduli dengannya. Andik diberi sepatu bekas untuk mengikuti seleksi.
Dari sepatu bekas tersebut, ternyata membawa keberuntungan. Andik lolos seleksi dan masuk dalam bagian pemain Persekam Metro FC. Perasaannya pun berbunga. Apalagi secara otomatis iapun sudah menjadi pemain profesional.
Bahkan agar terlihat lebih bergaya dan sama dengan pemain lain, gaji pertama yang didapat dari Metro FC, langsung dibelikan sepatu baru merek specs warna hitam. Namun untuk sepatu kets, diakui masih bekas. Ia mendapat lungsuran sepatu dari pemain Arema FC, Benny Wahyudi.
"Cita-cita saya dari kecil memang ingin menjadi pemain sepakbola profesional. Dulu saat ikut Korcam Bantur, gaji saya paling besar hanya Rp 25 ribu saja," tuturnya sembari tertawa lepas.
Meski tergolong sebagai wajah baru di tim Persekam Metro FC, namun Andik tidak minder. Sekalipun sering menjadi bahan gojlokan, tetapi ia tidak sedikitpun sakit hati. Karena dengan begitu, ia justru bisa cepat lebih akrab. Iapun juga mendapat ilmu tambahan dari pemain senior, seperti Khusnul Yuli dan Hermawan.
Andik yang menggunakan nomor 10 ini, mengaku ingin terus meningkatkan skillnya sebagai pemain sepakbola profesional. Impiannya, tidak hanya sekadar bermain untuk tim Liga 2 Indonesia. Tetapi pemain bertubuh mungil ini, ingin bisa bergabung dengan tim besar seperti Arema FC.
"Siapa yang tidak mau menjadi pemain Arema FC. Kalau ada kesempatan, pasti tidak akan saya sia-siakan," ungkap Andik yang mengidolakan Johan Ahmad Farizi.
Saat ini, kompetisi Liga 2 Indonesia sudah masuk babak delapan besar. Persekam Metro FC yang tidak lolos, sudah tidak ada lagi pertandingan. Seluruh pemain pun sudah bubar dan kembali kepada keluarganya, termasuk April Riyandi alias Andik.
Selama menunggu kompetisi bergulir lagi, pemain akan menganggur. Tak terkecuali Andik, yang memilih membantu orangtuanya mencari rumput untuk pakan ternak. "Karena saya sudah tidak bisa gabung lagi pada tim Korcam Bantur. Persyaratan pertandingan Korcam, tidak boleh ada pemain profesional. Ya, terpaksa cari kerja sampingan bantu bapak cari rumput," bebernya, sembari berharap pada kompetisi mendatang namamya masih terpanggil untuk menjadi pemain profesional.(agung priyo)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...