Perjuangan Drs Rusdi M.Si Menyelamatkan SMA Nasional Malang


MALANG - Perlu melakukan perubahan besar untuk mewujudkan impian yang besar. Itulah yang dilakukan oleh Drs. Rusdi, M.Si, Kepala SMA Nasional Malang. Rusdi berhasil mengubah sekolah yang hampir ditutup pada 2012 karena hanya mempunyai segelintir siswa, hingga kini memiliki 490 siswa.
Keberhasilannya itu membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemendikbud) memberikan penghargaan lencana emas kategori “Program Bimbingan Terbaik”. Dia dianggap mampu memberikan bimbingan kepada guru dan karyawan agar sekolah yang dipimpinnya berkembang dan tidak mati begitu saja. Ia menerima penghargaan itu pada 29 September di hotel Aston Piority Jakarta.
Setiap pemimpin mempunyai cara berbeda dalam memimpin bawahannya. Rusdi misalnya, setelah diangkat menjadi kepala sekolah 2012 lalu, ia langsung melakukan gebrakan ekstrem. Sehari pasca dipercaya mengemban tugas itu, ia mengumpulkan para guru untuk mendukungnya mengubah pola sekolah yang menurutnya konvensional untuk sekolah swasta. Kala itu Rusdi menyampaikan, bahwa sistem menunggu siswa harus dihapus dari budaya SMA Nasional sejak saat itu juga.
Hanya bermodalkan keyakinan, percaya diri, serta prinsip “Eksklusif itu Expensive” ia pun melakukan langkah perbaikan. Kebijakan pertama yang dia buat adalah menaikkan iuran SPP dari awalnya Rp 65 ribu menjadi Rp 200 ribu per bulan. Sebab untuk dapat menyajikan pembelajaran terbaik dan berkualitas memang membutuhkan biaya mahal, salah satu pemasukan ya diperoleh dari iuran SPP siswa.  
Iuran dinaikkan, Rusli malah membuat kebijakan baru. Cukup kontroversial. Ia menaikkan kualifikasi siswa yang diterima. Dia malah memperketat standar. Siswa yang mendaftar ke SMA Nasional harus yang mempunyai peringkat 10 besar di sekolah asal. Padahal target dari semua kebijakan tersebut adalah menaikkan jumlah siswa yang mendaftar ke sekolah tersebut.
“Perubahannya memang sangat drastis. Tapi itu harus saya lakukan jika sekolah ini tidak mau tetap berada dalam kondisi kekurangan murid,” urainya.  
Ia juga menambah tenaga pengajar muda dengan kualifikasi IPK minimal 3,5 untuk lulusan sarjana demi memperbaiki kualitas. “Bukannya guru lama tidak berkualitas, tapi saya butuh tenaga muda yang inovatif untuk membantu saya. Mereka yang muda kebanyakan punya semangat tinggi,” kata Rusdi.
Ia menyampaikan keinginan itu kepada yayasan. Jawabannya, yayasan tidak menyetujuinya!. Tapi Rusdi tak mau menyerah begitu saja dengan jawaban itu. Ia mempertahankan idenya itu dan berani memberikan janji. Jika caranya tidak berhasil, Rusdi akan mengundurkan diri dari yayasan, menutup sekolah dengan membayarkan ganti ruginya. Dengan keyakinan dan terus memohon kepada yayasan, beberapa hari kemudian ia diberi kesempatan untuk melakukan semua perubahan itu.
Setelah mendapatkan lampu hijau menjalankan gebrakannya tersebut, Rusdi menyampaikan kebijakan baru itu kepada para guru di sekolahnya. Seperti yang ia duga, para guru tidak Setuju. Dari 20 guru, 12 mengundurkan diri dari SMA Nasional dan hanya menyisakan delapan guru yang masih mau mengikuti sistem baru yang ia buat. Tahun 2012, SMA Nasional hanya mempunyai delapan guru dengan 14 siswa. Namun proses pembelajaran tetap berjalan.
 “Wah, pikiran sebenarnya ya campur aduk. Membayangkan, tidak punya guru, sedangkan saya harus mencari siswa dengan target menapai jumlah 100 untuk tahun ajaran depan,” katanya.
Dalam kondisi itu, Rusdi tetap meyakinkan kepada delapan guru yang tersisa untuk tetap optimis dan yakin. Jika ingin mendapatkan hal besar harus berani melakukan perubahan dan langkah besar. Ia memasang spanduk dan banner di depan sekolah yang berbunyi, “Sekolah kita hanya menerima peringkat 10 besar. Bagi yang tidak memenuhi kualifikasi jangan mendaftarkan ke sini”.
“Saya memang tidak menggunakan brosur untuk disebar. Saya bermodalkan banner bertuliskan itu di depan sekolah. Selebihnya, saya berburu siswa menjemput bola ke sekolah-sekolah negeri,” kata dia sambil berkaca-kaca mengenang perjuangan berat kala itu.
Pria berusia 51 tahun itu berburu siswa di beberapa SMP Negeri. “Sudah seperti yang saya duga, mereka tidak menerima saya dengan baik. Artinya, awalnya saya ditolak. Mereka tidak memberikan waktu kepada saya. Tapi saya memohon diberikan kesempatan walau hanya beberapa menit saja,” terangnya.
Setelah mendapatkan waktu, ia mempresentasikan program sekolah yang ia pimpin. Tak tanggung-tanggung ia hanya meminta siswa peringkat sepuluh besar saja yang mendengarkan presentasinya. “Ini pola yang sama, Waka Kesiswaan yang menemui saya mempunyai ekspresinya sama. Tertawa kecil, sambil seperti menghina atau meremehkan. Ya saya tetap PD saja,” cerita pria yang menempuh studi Magister di Jurusan Sosiologi itu.
Untuk lebih meyakinkan, Rusdi memberikan kesempatan tes gratis kepada siswa SMP yang ingin mendaftar. “Saya rayu mereka untuk mengikuti tes, dengan soal yang saya buat. Saya memuat jaminan soal UN tersebut tembus. Karena saya buat berpacu pada kisi-kisi UN. Saya suruh mereka bawa pulang. Pas UN, mereka puas karena soal sama seperti yang saya berikan waktu tes,” paparnya.
Rusdi tidak tahu, apakah yang terjadi adalah keajaiban atau buah dari keyakinan dan kerja kerasnya. Tahun ajaran baru 2013/2014 ada 57 siswa mendaftar. Lalu di tahun berikutnya naik menjadi 96 siswa. Kemudian kenaikan besar terjadi di tahun ajaran baru 2015/2016 dengan 186 siswa. Hingga tahun ajaran baru ini sudah menembus 490 siswa. Keberhasilan lainnya, dari delapan guru yang tersisa dulu, saat ini SMA Nasional mempunyai 33 guru pengajar. (sin/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :