Menang Eco Tech, Siswa SMKN 8 Malang Goes to USA


MALANG - Inovasi karya anak Malang kembali mendapat apresiasi di mata internasional. Inovasi yang berawal dari lingkungan gersang di sekolah ini membawa siswa SMKN 8 Malang untuk mengikuti study tour ke Amerika Serikat.
Siswa SMKN 8 Malang, Achmad Arif Bryantono bersama ketiga temannya membuat alat penyiram tanaman otomatis yang ramah lingkungan. Alat yang disebut Automatic Plant Treatment System (APTS) dan dipamerkan di Gelaran Eco Tech American Corner Universitas Muhammadiyah Malang belum lama ini mendapatkan juara II dalam kompetisi inovasi ramah lingkungan.
Hal ini membuat Arif dibawa pergi ke Amerika dalam waktu dekat untuk mengikuti study tour dari pusat lembaga American Corner. Yang outputnya menjadi pembelajaran soal teknologi mutakhir. Arif menjelaskan, alat yang dibuatnya secara otomatis akan bereaksi dan mengeluarkan air ketika tanah di sekitar lingkungannya kekurangan air.
Kepada Malang Post, siswa kelas XII ini menjelaskan, alat yang ia ciptakan memiliki sensor-sensor yang dihubungkan ke dalam sebuah panel ke dalam tanah. Dimana akan bereaksi ketika nilai hambatan tanah menunjukkan angka besar atau kecil. "Kalau nilai hambatan tanahnya kecil maka tanah sedang dalam kelembaban yang baik, tetapi ketika nilai hambatannya besar tanah tersebut terbilang kurang air," papar Arif.
Setelah mengetahui kondisi tanah, alat ini akan secara otomatis memompa air melalui selang yang sudah dihubungkan ke sumber air. Arif menuturkan, di sinilah proses ramah lingkungan bisa terjadi. Pasalnya air yang dipakai untuk menyiram tanah dapat didapatkan melalui sumber air apapun.
Saat mempresentasikan cara kerjanya, Arif memakai sumber air dari dalam kolam sekolahnya sendiri. Ia mengatakan, biasanya air dalam kolam ketika sudah kotor dikuras kemudian dibuang. Tetapi setelah menggunakan alat ini, air dalam kolam yang kotor akan dialirkan dan disiramkan ke tanah gersang sekitar lingkungan sekolahnya.
Dengan alat ini, air dalam kolam yang sudah kotor tersebut bisa dipakai kembali dan dimanfaatkan tanpa harus dibuang. Tidak hanya itu saja, alat ini juga memiliki saluran air yang dapat dihubungkan dengan sumber air bersih, misalkan kran air PDAM, dan mengalirkan air bersih ke dalam kolam yang sudah kosong. Maka, air kolam akan terisi dengan air bersih kembali.
"Jadi kita hanya membersihkan kolam sesudah air habis," jelas siswa kelahiran 1999 ini.
Arif membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk membuat alat ini, namun dia melakukan percobaan setiap hari. Bukan sekali dua kali ia gagal dalam mencoba kelembapan serta mengatur panel. Beruntung, dengan dibantu teman-temannya, Arif dapat membuat alat ini bekerja dengan sempurna.
Sebenarnya ada satu hal yang ingin dikembangkan lebih jauh oleh Arif dalam pengembangan prototipe mesinnya tersebut.  Yaitu, menggunakan daya solar cell tenaga matahari untuk mengoperasikan alat tersebut, sehingga lebih ramah lingkungan. Sebab, APTS sekarang ini masih menggunakan listrik.
"Kapan hari tidak bisa pakai solar cell karena biaya terbatas, tapi ke depan saya akan upayakan lagi," harapnya.
Dalam gelar Eco Tech American Corner UMM yang diselenggarakan pada 7 September lalu, Arif tidak sendirian. Ia ditemani ketiga temannya yaitu Elang Pangeran Kevin, Bunayya Zulfikar Rahmatullah dan Dendhy Yonidha Riswanto. "Gagal berkali-kali, tetapi atas bantuan teman dan guru pembimbing jadi bisa," ungkapnya.
Terkait program berbasis teknologi tidak hanya terbatas di mesin APTS saja. Di kelas 11 Arif membuatkan sistem kunci ruangan otomatis di ruang guru Jurusan Mekatronika SMKN 8 dengan sistem Radio Frequency Identification (RFID).
Perlu diketahui, sistem ini biasanya dipakai pada sistem penguncian di kamar-kamar hotel saat ini. Sistem ini biasanya dipakai untuk mencegah adanya pembobolan kamar dan lebih praktis. "Sebenarnya ide ini muncul karena saya disuruh buat tugas akhir semester. Tetapi saya pikir ruangan guru butuh sistem itu karena perlu dijaga," tandas siswa asli Malang ini.
Ia kemudian mengatakan, inovasi yang ia buat tidak semata-mata hanya untuk kepuasannya belaka. Arif merasa puas jika hasil karyanya dapat bermanfaat bagi banyak orang, khususnya orang-orang sekitarnya.
Saat berkunjung ke Amerika nanti, dia hendak belajar lebih banyak lagi khususnya  bidang teknologi terkini. Karena Amerika baginya menjadi negara percontohan dimana aplikasi teknologi modern diterapkan untuk membantu pekerjaan manusia lebih mudah.
"Saat ini memang tidak ada gambaran mau buat apa lagi, tetapi harapannya saat di Amerika saya bisa belajar banyak dan membuat lebih banyak lagi hasil karya yang bermanfaat," tutupnya. (Sisca Angelina/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :