magista scarpe da calcio Varra Dinda Adha Shafiyah, Atlet Triathlon Muda Asal Lawang


Varra Dinda Adha Shafiyah, Atlet Triathlon Muda Asal Lawang


MALANG - Nama Varra Dinda kini menjadi buah bibir di kalangan pecinta triathlon Malang. Siswi SMA PGRI 1 Lawang itu sukses mencetak raihan prestasi yang membanggakan di olahraga esktrem ketahanan tubuh itu. Baru-baru ini, Varra mencatatkan namanya di podium Jepara Central Java Triathlon, merebut satu perak dan satu perunggu.
 Varra Dinda Adha Shafiyah adalah siswi SMA pada umumnya. Saat tak ada kegiatan atlet, dia belajar dan berteman sembari menikmati masa remajanya di SMA 1 PGRI Lawang. Namun, rutinitas santai itu berubah saat negara memanggilnya untuk mewakili Indonesia di ajang olahraga internasional.
Kendati masih berusia 17 tahun, Varra Dinda sudah menjadi atlet triathlon berbakat Indonesia yang mengharumkan Malang. Triathlon adalah olarahraga yang melibatkan tiga jenis olahraga berbeda dan  harus diselesaikan secara berurutan. Tiga olahraga dalam triathlon umumnya adalah berenang, bersepeda, dan berlari dengan jarak yang bervariasi.Tergabung sebagai atlet binaan Jasalindo Sport Lawang, Varra Dinda baru saja mencetak prestasi gemilang di ajang Jepara Central Java Triathlon bersama tim Jawa Timur.
Varra meraih medali perak pada nomor Standar Distance kategori 16 tahun ke atas, serta merebut medali perunggu di kategori mix relay. Dia menjadi bagian dari capaian dua perak dan dua perunggu Kejurnas yang diraih tim Jawa Timur di Pantai Bandengan Jepara ini. Pada Bali International Triathlon 2017 di Pantai Mertasari, Varra menyabet podium ketiga pada kategori overall female olympic distance, dan peringkat dua best Indonesia female olympic distance.
Varra pernah pula bersaing dengan ratusan atlet triathlon dari 23 negara Asia. Dia bahkan perkasa di level Asia, dengan merebut juara 1 kategori umur 16 ASTC Asian Championships di Palembang, pada 21-23 Juli 2017. Rentetan gelar juara 1 seperti Bintan Triathlon Batam 2017, juara 2 Bali Triathlon International tahun 2016 hingga juara 3 Renang Laut Kering di Bintan 2015.
Untuk gelar juara 3 di Bintan tahun 2015, dia harus berenang menyeberangi selat di Batam yang memiliki trek renang sepanjang 9,2 kilometer. Dia bersaing dengan 38 regu perenang, 111 peserta dan berenang dari Tanjungsengkuang menuju pantai Palm Spring Nongsa Batubesar. Mengingat usia Varra yang masih belia, ketahanan tubuhnya serta stamina mengarungi trek triathlon sangat luar biasa.
Olahraga ini menggabungkan berenang, bersepeda dan lari marathon. Varra, sering mengikuti standard distance. Kategori ini, menuntut dara yang lahir 30 Mei 2000 itu, untuk menempuh trek berenang sejauh 0,75 kilometer, bersepeda 20 kilometer, lalu berlanjut dengan lari marathon 5 kilometer.
“Catatan rekor tercepat saya adalah 1 jam 26 menit, berenang 1,5 kilometer, mengayuh sepeda 40 kilometer lalu lari 10 kilometer,” kata Varra.
Kendati mencetak prestasi di berbagai ajang, dia menyebut capaiannya tidak diraih dengan berpangku tangan. Varra melewati banyak ujian dan latihan berat untuk merebut kegemilangan di pentas triathlon.
Berawal dari kecintaannya terhadap renang, Varra mulai serius menekuni olahraga ini sejak SMP. Dia awalnya tidak tertarik dengan olahraga lari atau bersepeda yang dikombinasikan dengan renang. Namun, karena dia mengintip potensi prestasi yang bisa diraih dari olahraga ini, Varra mempertaruhkan energi dan waktunya dengan latihan triathlon bersama Jasalindo Sport Aquatic Lawang.
Dia digembleng dengan begitu banyak model latihan, untuk memperkuat pondasinya dalam renang, bersepeda maupun lari marathon. Dia harus melahap sesi latihan kecepatan, endurance atau ketahanan fisik serta peningkatan stamina. Latihan dua kali sehari adalah makanan rutinnya. Dia berlatih tiap subuh dan sore hari.
Bahkan, porsi latihannya akan semakin bertambah bila dia persiapan bertanding di kompetisi triathlon. “Subuh sama sore hari, kalau ada kompetisi malah satu minggu full latihan terus dan minta izin sekolah untuk absen pelajaran. Pihak sekolah memberi izin, karena Varra sudah membuktikan bahwa dia adalah atlet kaliber internasional yang bisa ikut mengharumkan Malang Raya.
Selain latihan, Varra juga tak bisa jajan sembarangan. Dia harus menjaga ketahanan fisik dengan mengonsumi makanan atlet. Yakni, makanan berprotein dan mengandung karbohidrat kompleks. Suplemen multivitamin juga dilahap agar kondisinya tetap terjaga hingga kompetisi berjalan.
Dia tidak bisa makan gorengan maupun minum air es. Selain itu, Varra juga harus ngempet kangen dengan kedua orangtuanya, karena dia selalu dikarantina jelang persiapan kompetisi. Dia tinggal di asrama atlet Jaslindo Sport Lawang demi menjaga kualitas atlet menuju gelanggang pertandingan.
Dia hanya bisa pulang satu minggu sekali ke Singosari, rumah orangtuanya, apabila sedang menjalani pemusatan latihan.
Walaupun sudah mengoleksi banyak prestasi, perjalanan Varra tak selalu mulus. Cedera juga sempat dialami oleh putri pasangan E. Adha Anjarnarko dan Suyanti itu. Dia pernah mengalami kecelakaan latihan berupa pergeseran sendi tulang lutut ketika pemusatan latihan jelang kompetisi.
Semua darah dan keringat yang dikeluarkan untuk menjaga pondasinya di olahraga triathlon, mendapat hadangan lain. Beberapa kali, anak pertama dari empat bersaudara itu mengaku minder menghadapi atlet luar negeri maupun tanah air. Misalnya saja, atlet Korea Selatan, Cina dan Jepang. “Atlet nasional pun banyak yang hebat. Tapi, yang penting bismillah saja,” tambah Varra.
Dengan semua perjuangan itu, Varra kini mulai meniti karir dengan pondasi kuat di bidang olahraga triathlon. Namun, Varra menyadari perjuangannya masih sangat panjang. Dia masih memiliki ambisi menjadi atlet internasional, dan ingin tampil di ajang triathlon terekstrem, yakni kategori Ironman.
Triathlon Ironman, menuntut atlet untuk berenang, bersepeda dan berlari mulai subuh hingga maghrib sebelum mencapai finish. Varra harus berusia 18 tahun untuk bisa terjun di kategori ini.(fino yudistira/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top