Perajin Miniatur dari Batang Korek Api

MALANG - Batang kayu korek api di tangan Khilmi Ardiansah, bisa menjadi karya bagus dan bernilai jual tinggi. Salah satunya adalah miniatur Taj Mahal, yang dibanderol dengan harga Rp 10 juta.
Jari kedua tangan Khilmi Ardiansah, sangat cekatan dalam menyusun batang demi batang kayu korek api. Tangan kirinya memegang batang kayu korek api, sedangkan tangan kanannya memegang lem. Pria berusia 35 tahun ini, terlihat serius saat membuat miniatur di teras rumahnya Perum Mutiara Asri F4 Blok Asabri, Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir, siang itu.
“Saya sedang menyelesaikan miniatur bangunan Colosseum Roma. Masih baru tahap penyusunan pembuatan dinding,” ujar Khilmi, sembari menunjukkan contoh bangunan Colosseum Roma di handphone miliknya. “Seperti ini contoh bangunannya,” katanya.
Beberapa tahun silam, ia sebenarnya pernah membuat miniatur Colosseum Roma. Namun karena terkena air dan tidak dirawat, akhirnya rusak. Kini ia kembali membuat untuk melengkapi koleksinya. “Paling butuh waktu sekitar dua minggu untuk menyelesaikannya,” tutur Khilmi, sembari memotong batang korek dengan menggunakan gunting kuku. Sesekali dia juga membubuhkan lem pada batang korek, lalu menempelkan pada bagian miniatur yang dibuatnya.
Dian, itulah nama sapaan akrab Khilmi Ardiansah di tempat tinggalnya. Meskipun hasil karya miniatur dari batang kayu korek api, belum begitu terkenal namun ia cukup dikenal oleh warganya sebagai perajin miniatur. Apalagi dalam waktu dekat, Dian juga mengaku akan diundang salah satu TV nasional untuk datang ke Jakarta.
“saya dihubungi dari Jakarta untuk diundang. Tetapi kapan waktunya masih belum tahu, masih tahap konfirmasi via telepon saja,” ungkap Dian.
Membuat kerajinan dari batang kayu korek api, memang menjadi hobinya selama ini. Sudah ada puluhan miniatur yang telah dihasilkan untuk koleksi. Selain Taj Mahal yang dibanderol dengan harga Rp 10 juta, ada juga miniatur White House yang merupakan istana kepresidenan Amerika Serikat di Washington DC.
Ada juga Menara Eiffel Paris, Tower Royal Clock Makkah, Petronas Tower Malaysia, Gedung Parlemen Inggris serta Masjid Biru Turki. Termasuk Alun-alun Tugu Kota Malang dan juga Balai Kota Malang. Ada juga miniatur pesawat tempur dan robot. Semuanya berbahan batang kayu korek api.
Orang yang tidak memiliki keterampilan, pasti akan susah untuk menyusun batang kayu korek api menjadi sebuah miniatur. Meskipun kelihatannya sangat mudah. Hanya ketelatenan serta keseriusan yang dibutuhkan untuk membuat miniatur tersebut.
Bahan yang digunakan juga tidak banyak, hanya batang kayu korek api serta lem saja. Alatnya hanya gunting kuku, cutter, kaca datar untuk penyusunan batang korek api, serta papan kayu untuk dasar miniatur yang dibuat. “Kalau menyerupai persis bangunan aslinya jelas tidak mungkin, tetapi miniatur saya ada kemiripan sekitar 85 persen,” jelas bapak dua anak ini.
Dian bercerita, bahwa hobi membuat miniatur dari batang korek api ini, sejak masih kelas VIII SMP. Waktu itu ia membuat kerajinan seni bebas di sekolah. Meski membuat rumah kecil-kecilan, namun cukup bagus hingga membuatnya ketagihan untuk terus membuat kerajinan.
Setelah lulus SMA tahun 2001, sembari menunggu datangnya pekerjaan ia mencoba membuat miniatur yang lebih besar. Saat itu ia membuat Gedung Parlemen Inggris. Butuh waktu tiga minggu untuk menyelesaikannya dan menghabiskan 300 pak korek api.
“Dari situ saya terus berkreasi dan mencoba mencari tehnik pembuatan miniatur yang simpel dan mudah. Semua hasil karya waktu itu hanya untuk koleksi,” urainya.
Pada 2005 sampai 2010, ia merantau keluar kota. Otomatis semua kerajinannya tidak ada yang merawat dan rusak. Oleh keluarganya, sebagian karya itu diberikan kepada tetangga. Ia baru aktif lagi membuat miniatur sekitar dua tahun lalu. Itupun tidak setiap hari, tetapi pada waktu senggang saat tidak kerja.
Selama ini, puluhan miniatur yang dibuatnya tidak untuk dijual. Hanya koleksi saja dan terpajang di ruang tamu. Pernah ada tetangga atau orang yang ingin membeli, namun ia tidak memberikannya. 
Namun karena begitu banyak yang menginginkan karyanya, ia mulai berpikir untuk menjadikan kerajinan miniatur batang kayu korek api ini bisa menjadi usaha yang menjanjikan. “Sebelumnya saya memang berpikir untuk koleksi saja. Tetapi karena ada yang berminat, ya sekalian saja saya jadikan bisnis,” bebernya.
“Untuk miniatur Taj Mahal, saya banderol dengan harga Rp 10 juta. Karena ukurannya cukup besar, pembuatannya ribet dan butuh waktu tiga bulan untuk menyelesaikannya. Selain itu butuh 800 pak batang korek api serta 3 kilogram lem,” sambungnya.
Sedangkan miniatur ukuran kecil seperti robot dan pesawat, ia jual dengan harga sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Sebagai langkah awal menjadikan kerajinan miniatur sebagai bisnis usaha, Khilmi mencoba mengunggah karyanya lewat facebook (FB). Sambutan netizen atas kerajinan miniaturnya sangat bagus. Sampai siang , hampir 5.000 netizen memberikan komentar.
“Untuk bahan batang kayu korek api, saya biasanya membeli satu pres (bal) dengan harga Rp 17.000 untuk satu pres,” paparnya.(agung priyo/han)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :