Kisah Rika Wijayanti, Anak Petani Juara Dunia Paragliding


MALANG - Ratusan parasut warna warni menghiasi Kobariddi, Slovenia 21 - 23 September 2017. 89 pilot dari 21 negara di dunia ini berjibaku berebut posisi di Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) seri ke-IV atau  seri terakhir. Di antara parasut yang bertebaran di langit Slovenia itu, salah satunya dikendalikan Rika Wijayanti. Gadis asal Kota Batu itu yang akhirnya merebut juara, di negeri orang.
Alumnus SMK 17 Agustus Kota Batu ini berjibaku dengan  pilot paralayang dari berbagai negara di belahan dunia. Seperti Ceska, Slovenia, Lithuania, Republik Ceko, Serbia, Bulgaria, Albania, Romania, Rusia, Hungaria, Britania Raya, Kosovo, Turki, Perancis, Estonia, Hongkong, Kroasia, Kanada, Polandia, Latvia, Indonesia dan Azerbaijan.
Dengan menggunakan parasut merek Skywalk seharga Rp 40 juta, Rika berusaha mengharumkan nama bangsa dengan parasut yang pinjaman milik KONI Kota Batu. Sementara pilot lainnya, menurut Rika menggunakan parasut yang harganya ratusan juta yang kualitasnya jauh di atas yang digunakan.
 Meski demikian, akhirnya Rika berhasil menggondol gelar juara 1 pada seri terakhir PGAWC dan menasbihkannya sebagai juara dunia. Sebelumnya, Rika merebut juara 1 PGAWC seri 2 di Serbia dan  juara 2 PGAWC seri 3 di Canada.
"Saya dedikasikan kemenangan saya ini untuk Indonesia," ujarnya kepada Malang Post sambil matanya berkaca-kaca.
Melihat pilot luar negeri memiliki skill yang hebat dan parasut yang lebih berkualitas, tidak membuat arek kelahiran Jl Trunojoyo Gg 4, Kelurahan Songgokerto itu gentar.
"Enggak gentar mas, soalnya bukan alat semua tergantung pilotnya, percuma juga kalau alat bagus tapi pilotnya tidak bisa menggendalikan. Skill lawan mereka hebat-hebat, tapi Alhamdulillah saya bisa lebih dari mereka," ujar Rika optimis.
Bahkan dalam kejuaraan ini, Rika sempat bertemu  pilot paralayang idolanya Marketa dari Cheko. "Orangnya itu (Marketa) santai, kalau  main juga santai prestasinya juga keren," ujar Rika menceritakan pilot paralayang yang dikaguminya itu.
Uniknya, dalam kejuaraan dunia, Rika bisa bertemu dengan pilot idolanya itu. Di darat  ia berfoto bersama idolanya itu, namun ketika di angkasa, Rika harus berhadapan dengan idolanya itu. Berebut point penuh, hingga akhirnya memenangkan kejuaraan dunia tersebut.
Selain skill dan peralatan pilot asing yang luar biasa, satu tantangan saat berlomba adalah cuaca yang sangat dingin hingga empat derajat. Saat meluncur awal badannya sempat menggigil, namun setelah berada di angkasa, badannya sudah bisa menyesuaikan.
Dari Kota Batu untuk dunia, begitu kalimat yang diberikan oleh KONI Kota Batu untuk Rika. Keberadaan Rika dalam Timnas memang membuat tim Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) berhasil merebut juara dunia. 
”Ini merupakan pertama dalam sejarah paralayang dunia, di mana satu negara membawa pulang seluruh gelar juara yang dipertandingkan dalam satu tahun.” ujar Wahyu Yudha sebagai manajer Timnas Paralayang dalam situs website FASI.
Atas prestasinya ini beberapa waktu lalu, BRI memberikan penghargaan untuk Rika yang diberikan oleh Wapres RI, Jusuf Kalla sebagai atlet muda berprestasi. KONI Kota Batu juga memberikan penghargaan berupa bonus untuk Rika Wijayanto atas kemenangannya di kancah internasional.
Rika merupakan ragil dari empat bersaudara anak pasangan suami istri Ali dan Bawon, seorang petani warga Kelurahan Songgokerto. Tiga saudara laki-laki Rika adalah atlet paralayang, Rudi Wijayanto, Ikhwan Hadi dan Joni Effendi. Dari tiga saudaranya ini Rika tertarik menjadi atlet paralayang.
Rumah di mana Rika tinggal memang berdekatan dengan landing paralayang. "Waktu kecil sering bermain di situ, lama-lama saya tertarik juga. Dan semua keluarga mendukung, terutama kakak saya.Dulu mikirnya ikut paralayang selain mengejar berprestasi juga bisa keliling Indonesia, ternyata bisa sampai luar negeri, Alhamdulillah semua keturutan," urai Rika.
Bahkan semasa kecil, Rika pernah menjadi pelipat parasut. Saat diingatkan tentang pengalaman itu, Rika tertawa lepas. "Iya waktu kecil, kan selalu main di landing paralayang, kalau tandem dapat ongkos Rp 5000 kalau solo Rp 3000," urainya sambil tersenyum.
Saat itu Rika kecil, jika ramai orang paralayang ia bisa mengantongi uang Rp 100 ribu dalam sehari. Kalau sepi bisa mendapatkan Rp 20 ribu. Ketika masuk SMK, Rika didorong oleh kakaknya untuk belajar paralayang.
"Kakak saya yang berjasa mendorong saya ikut paralayang," akunya.
Meski menjadi atlet paralayang teman-temannya tidak banyak yang tahu aktifitasnya ini. Karena ia memilih menikmati masa sekolah dulu, pulang sekolah ia lebih memilih bermain dengan teman-temannya SMA.
"Baru setelah lulus SMK, tiap hari latihan," selorohnya.
Ia pun mulai latihan dengan parasut pinjaman dari KONI Batu, saat itu parasut sangat terbatas, hingga harus bersabar gantian dengan yang lain. "Kadang suka kasihan sama parasutnya, yang lain dipakai sekali, yang saya pakai tiga kali, soalnya gantian. Jadi kalau yang lain tiga kali yang saya pakai sampai sembilan kali," tuturnya.
Dari parasut pinjaman itu, ternyata mengantarkannya mengharumkan nama bangsa, hingga disegani negara lain. Sama sekali tidak terbayang ia akan menjadi juara dunia, karena ia bercita-cita akan menjadi pegawai bank, karena itu ia memilih jurusan akuntansi. Namun cita-cita itu berubah saat menjadi atlet.
"Cita-cita jadi pegawai bank tinggal sedikit, enak jadi atlit," ungkapnya sambil tertawa tergelak.
Ia sangat menyukai menjadi atlet paralayang, karena setiap hari ia bisa bertemu dengan banyak orang hebat. Kini ia masuk dalam Timnas FASI untuk persiapan Asean Games 2018 bersama empat cewek pilot paralayang lainnya.
Saat ini, ia mengikuti pemusatan latihan di Puncak Bogor, beberapa waktu lalu juga ikut TC di Bali. Kepada Malang Post, Rika menitipkan pesan kepada masyarakat Batu agar mendoakannya hingga bisa menjuarai Asean Games 2018 dan kembali mengharumkan nama bangsa.(dan/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :