magista scarpe da calcio Ketika Kid Zaman Now Menghibur Generasi Deep Purple


Ketika Kid Zaman Now Menghibur Generasi Deep Purple


MALANG - Anggapan saya ternyata benar, bahwa datang ke acara anak-anak muda tidak pernah lepas dari musik ingar bingar. Saat pembukaan Malang Post School Competition di Graha Cakrawala UM, aroma musik keras itu sudah terasa sebelum menginjak ke pintu masuk. Itulah musik yang disukai kid zaman now. Mungkin bagi mereka itulah lagu terenak, padahal di telinga orang tua seperti saya, agak sulit mencerna.
Meskipun pada masa muda menyukai Deep Purple, Led Zeppelin, Queen, Guns N Roses, Bon Jovi dan lain-lain, tapi mendengar musik kekinian memang agak sulit. Tapi tetap saja harus dinikmati. Berbeda dengan anak-anak SMP dan SMA yang mendominasi gedung megah itu, mereka begitu menikmati lagu. Bisa jadi karena yang main adalah band sekolahnya, tapi secara umum lagu-lagu yang dimainkan band yang tengah berlaga itu akrab di telinga pengunjung.
 Rupanya tidak semua peserta ‘’egois’’ dengan kiblat musiknya, ada beberapa band yang tampil dengan lagu yang easy listening dan membuat kaki bergoyang. Apalagi beberapa penyanyinya tampil komunikatif, mendekati penonton. Dan yang tak kalah penting, di bawah panggung sudah menunggu puluhan fotografer sekolah yang lagaknya tak kalah dengan fotografer professional. Ketika penyanyi itu mendekati pengunjung, anak-anak penenteng Canon dan Nikon itu berebut mengarahkan lensanya ke sasaran. Gayanya tak mau kalah dengan fotografer sungguhan.
 Maka semakin semangatlah para penyanyi itu saat ratusan lensa mengarah padanya. Puluhan punggung fotografer yang membelakangi tamu VIP itu menjadi pemandangan tersendiri di antara suara para penyanyi. Rupanya di antara peserta itu ada band yang paham dengan audiens, bahwa tidak semuanya anak-anak SMP dan SMA, tapi di antaranya ada para guru dan generasi asam urat dan kolesterol – sebutan untuk generasi 50 ke atas.
Ketika salah satu band mengumandangkan lagu Masih, yang dipopulerkan oleh Dedi Dukun dan Dian Pramana Putra, sambutan bergemuruh. Sambutan itu bukan hanya datang dari anak-anak muda, tapi juga undangan tua. Saya pun ikut bertepuk tangan, apalagi penyanyi dan band mengaransemen ulang dengan apik. Padahal saat lagu ini popular mereka masih belum lahir. Bukan hanya saya, doktor Djuni Farhan dan Universitas Gajayana, Bu Ratna dari Diknas dan teman-teman dari 101 Hotel, ikut bersenandung. Tepuk tangan panjang bergema saat lagu ini berakhir.  
Para penonton sepuh mulai terhibur setelah sebelumnya agak gerah disuguhi musik keras dengan ritme yang sangat cepat. Berikutnya ada lagi sajian yang agak akrab di telinga kid old, meskipun iramanya tetap saja rock yang keras. Lagu Cobalah Mengerti dari Peterpan, lumayan akrab di telinga generasi 40 an. Mereka ikut menyanyi mengikuti suara penyanyi di atas panggung.  Penampilan musik yang akomodatif, tahu menyenangkan audiens yang sebagian berusia sepantaran orang tua atau bahkan eyangnya.
Penampilan anak-anak muda itu harus berhenti sebentar karena Wali Kota Malang Moch Anton sudah datang untuk membuka acara ini dengan resmi. Tidak banyak seremoni, sedikit sambutan, lepas balon di atas panggung yang menjadi atraksi yang megah. Setelah peresmian, wali kota yang akrab disapa Abah itu dikerubuti puluhan wartawan dadakan yang ikut lomba jurnalistik. Layaknya wartawan sungguhan, mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. Abah pun dengan sabar melayani pertanyaan wartawan muda tersebut.
Sambil melayani wawancara, Abah berkeliling melihat booth produk unggulan sekolah dan majalah dinding (mading) tiga dimensi. Puluhan peserta mading ini tampil all out menampilkan kreasi terbaiknya untuk memikat dewan juri agar menobatkan mereka menjadi jawara. Hampir semuanya menarik dan  inovatif, tapi perhatian saya tertuju pada salah satu mading yang semua penjaganya mengenakan kain batik. Sebenarnya madingnya sama dengan yang lain, cuma product knowledge mereka cukup baik. Dari tema kebinekaan yang mereka usung, ada satu tulisan yang menarik. ‘’Ini kami tulis dengan bahasa Jawa,’’ kata salah seorang siswa.
Aha, menarik ini. Kalau begitu saya mau tanya mereka pakai bahasa Jawa. Barulah mereka kelabakan, tapi segera tanggap dan menunjuk salah seorang rekannya. ‘’Kalau tanya pakai bahasa Jawa sama dia saja.’’  Saya pun tanya pakai bahasa Jawa  yang dijawab dengan lancar. Tapi saat saya tanya pakai bahasa Jawa kromo, gadis berhijab itu mulai kikuk, meskipun terjawab juga.
Sebelum meninggalkan boothnya, mereka minta saya untuk foto bareng. ‘Jangan lupa diupload ke instagram dengan hastag #smpmodernalrifaie ya.’’ (nun/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top