Bripka Sanda Prasetyo, Bintara Peduli Difabel

BRIPKA Sanda Prasetyo, sempat menjadi viral di media sosial (Medsos) beberapa minggu terakhir. Kepedulian anggota Polsek Sumberpucung ini terhadap kaum difabel, mendapat pujian dari masyarakat. Di tengah kesibukannya sebagai anggota Polri, Bintara satu ini masih menyempatkan untuk peduli dengan masyarakat penyandang difabel. Ia bahkan menjadi orangtua asuh ratusan penyandang cacat di wilayah Kecamatan Sumberpucung.
Pagi hari, setelah lepas apel pagi di halaman Mapolsek Sumberpucung, Bripka Sandra Prasetyo, langsung bergegas mengambil motornya. Selanjutnya dengan terburu-buru ia berangkat menuju ke Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung. Jarak dari Mapolsek Sumberpucung ke Desa Karangkates sekitar 5 kilometer.
Di Desa Karangkates tersebut, selain karena wilayah tugasnya sebagai Bhabinkamtibmas, ia menuju ke sebuah rumah yang selama menjadi base camp kaum difabel. Namun sebelum ke tempat tujuan, Bripka Sanda, mampir di sebuah rumah di Jalan Rambutan, Desa Karangkates. Ia menghampiri Oktavian Ramadhani.
Vian panggilan Oktavian Ramadhani, adalah salah satu penyandang cacat. Bocah berusia 9 tahun ini, tidak bisa berjalan. Kedua kakinya diamputasi, setelah mengalami kecelakaan pada 28 Mei 2015 silam. Sebuah bus saat itu tiba-tiba nyelonong masuk ke teras rumahnya dan menabrak Vian.
Dengan menggunakan motor buntutnya, Bripka Sanda mengantarkan Via ke tempat sekolahnya yang berjarak sekitar 500 meter. “Tidak setiap hari saya mengantarkan Vian sekolah. Kalau pas ada waktu luang saja. Termasuk ketika pulang sekolah, saat saya sedang longgar dan melintas depan sekolahnya juga saya jemput untuk diantarkan pulang,” ungkap Bripka Sanda Prasetyo ini.
Tidak ada pamrih atau maksud tujuan lain dari Bripka Sanda. Ia melakukannya dengan ikhlas serta panggilan hatinya yang paling dalam. Bercanda dan berkumpul dengan kaum difabel, sudah menjadi kebiasaannya setiap hari.
Kepeduliannya terhadap kaum difabel ini, diawali pada 28 November 2014 lalu. Ketika itu, Eka Wulandari, salah satu penyandang difabel warga Desa Karangkates ini, mengadakan acara pertemuan penyandang disabilitas se-Kecamatan Sumberpucung dengan mengundang Muspika. Kebetulan, saat itu Kapolsek Sumberpucung tidak bisa hadir, akhirnya meminta Bripka Sanda selaku anggota Bhabinkamtibmas Desa Karangkates, untuk hadir mewakilinya.
Dari pertemuan itu, hati Bripka Sanda terketuk. Ia melihat semangat dari para difabel yang luar biasa. Meski dalam kondisi cacat fisik, tetapi tetap semangat hingga banyak yang menjadi orang sukses. Akhirnya bersama dengan Eka Wulandari, mahasiswi semester 9 Program Pendidikan Sosiologi Universitas Brawijaya ini, Bripka Sanda bertekad bersama-sama melakukan giat sosial dengan memberi pendampingan terhadap para penyandang disabilitas.
“Tidak ada di dunia ini, yang ingin menjadi penyandang disabilitas. Difabel itu bukan pilihan, siapa yang mau seperti itu,” kata pria kelahiran 9 November 1981 ini.
Pendampingan advokasi awal diberikan kepada Oktavian Ramadhani, cucu Ponimah (60 tahun). Pada saat itu, karena keterbatasan fisik setelah kedua kakinya diamputasi, Vian ditolak masuk sekolah. Lewat pendekatan dan perjuangan Bripka Sanda bersama dengan kaum difabel lainnya, akhirnya Vian bisa diterima di sebuah sekolah dasar.
“Bahkan Vian yang sebelumnya disepelekan di sekolah, malah menjadi siswa yang berprestasi. Ia beberapa kali menjadi juara di kelasnya,” ucap bapak satu anak ini.
Dari situlah, akhirnya Bripka Sanda terus melakukan pendampingan kepada kaum difabel. Bahkan bersama dengan kaum difabel lainnya, membuat komunitas yang bernama Difabel Ganesha Indonesia. Komunitas ini untuk memudahkan pendampingan dan advokasi serta pelatihan kepada penyandang disabilitas. Sampai saat ini, berdasarkan data ada sekitar 330 orang penyandang disabilitas di Kecamatan Sumberpucung, yang tergabung.
Bagi pria bertubuh tambun ini, untuk bisa bergaul dan bergabung dengan kaum difabel tidak mudah. Karena keterbatasan fisik, membuat kaum difabel lebih banyak tertutup. Perlu kesabaran tingkat tinggi. Sebab, mereka yang merasa asing dengannya, awalnya ada penolakan yang keras.
Tetapi dengan telaten dan sabar, Sanda tidak mau berhenti untuk melakukan pendekatan. Setelah mereka mau menerimanya, ia lalu membangkitkan kepercayaan diri mereka hingga akhirnya mereka mau bergabung. “Intinya harus bersabar dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap mereka,” tuturnya.
Dari sekian banyak kaum difabel tersebut, lanjut Bripka Sanda, sudah dua kaum difabel yang tergabung dalam Difabel Ganesha Indonesia yang dikirim ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelatihan Kerja milik Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, di Bangil. “Mereka yang kami kirim yang sudah tidak sekolah dan ingin mendapat keterampilan kerja sesuai bakatnya. Tentunya juga bantuan dari Dinas Sosial Kabupaten Malang,” bebernya.
Tetapi, untuk mengirim ke UPT Pelatihan Kerja tidak semudah yang dibayangkan. Sebab orangtua dan keluarga masih menjadi kendala, lantaran khawatir jika melepaskan anak atau keluarganya yang difabel. Namun setelah diberikan pengertian dan pendekatan, akhirnya mereka bisa menerimanya. “Sebab pelatihan kerja itu nanti juga untuk masa depan mereka,” ucap pria pemalu ini.
Dengan kepedulian sosialnya terhadap kaum difabel ini, Bripka Sanda sempat mendapat protes dari keluarganya. Terutama istri dan anaknya. Mereka protes karena waktu Bripka Sanda, tidak banyak untuk mereka. Waktunya lebih banyak habis untuk tugas dinas serta kepeduliannya terhadap kaum difabel.
Namun setelah dijelaskan dan diberi pengertian, akhirnya istri serta anaknya ikut mendukung. Malahan setiap ada kegiatan kaum difabel, istrinya ikut dilibatkan. Dan dengan kepeduliannya itu, beberapa bulan lalu Bripka Sanda mendapat penghargaan dari Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung. Bentuk rewardnya, Bripka Sanda dan keluarga diberikan hadiah nglencer gratis ke Bali selama beberapa hari.
“Dulu awal-awal, banyak orang yang mengatakan kalau Pak Sanda akan menjual anak-anak cacat untuk kepentingan sendiri. Namun dengan kesabarannya Pak Sanda, bertekad membuktikan bahwa omongan itu salah. Bahkan, sering kali setiap ada kegiatan, Pak Sanda mengeluarkan uang pribadinya sendiri untuk kami,” sambung Eka Wulandari.(agung priyo/ary)                        
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :