Dalang Ciluk Asal Singosari, Muhammad Aldino Nafarrel Akasa

 
MALANG - Pasangan Navi Hermawan dan Siti Mutmainah tak pernah membayangkan putra kedua mereka, Muhammad Aldino Nafarrel Akasa (9) akan menjadi dalang di usia belia. Semua berawal saat Farrel sapaan akrabnya, kepincut pertunjukan wayang di TV. Saat acara berakhir, dia menangis keras dan ingin tayangan itu diputar ulang. 
Itulah cerita pembuka yang dikenang oleh Siti, saat Malang Post berkunjung ke rumahnya di Jalan Rogonoto RT 02 RW 04 Kelurahan Losari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Menurutnya, Farrel sudah menunjukkan rasa cintanya pada wayang sejak usia 1,5 tahun.
Memang, di usia itu, dia belum bisa mengungkapkan melalui kata-kata. Namun aksi menangis saat tayangan wayang berakhir bisa menjadi pertanda. Di rumah Siti, tumpukan puluhan wayang kulit di ruang belajar, lengkap dengan media untuk pementasan kecil-kecilan tertata rapi.
Di sanalah Farrel, si dalang cilik itu berlatih. Siti mengatakan, karena Farrel seringkali menangis sehabis nonton wayang, ia lalu berinisiatif membelikan kaset CD yang isinya pementasan wayang.
“Di situlah awal mula Farrel belajar secara otodidak bagaimana menjadi dalang, dengan meniru dari kaset CD yang diputar terus menerus,” ujarnya.
Tidak berhenti pada video yang dilihat, anak laki-laki kelahiran Malang, 9 Mei 2008 ini mulai meminta mainan wayang. Setiap hari, ia memainkannya bersamaan dengan melihat video wayang. Sekitar tahun 2011, Siti memasukkan Farrel yang kala itu masih berusia tiga tahun, di Sanggar Senaputra. 
“Di situlah, saya mulai belajar ke Pak Suwarno. Waktu itu sata belum bisa baca, jadi ya menirukan apa yang diajarkan,” kenang dalang cilik yang mengidolakan maestro dalang ki Manteb Soedharsono ini.
Bakat yang dimiliki Farrel pada usia yang sangat belia serta dukungan orangtua membuka jalannya untuk mendalami ilmu tentang wayang dan dalang. Selama enam tahun belajar, ia menguasai banyak hal.
Misalnya, puluhan teknik sabet atau cara menggerakkan wayang hingga menggerakkan tangan wayang, gerakan wayang saat bertarung, atau atraksi melempar wayang ke atas dan menangkapnya kembali.
Kepada Malang Post, Farrel tak segan memeragakan semua keahliannya itu. Tak hanya menguasai teknik, bahkan ia juga sangat lancar mengucapkan bahasa Jawa. Farrel juga bisa mengubah suara sesuai dengan tokoh yang sedang dimainkannya.
Berkat kegigihan untuk terus belajar dan dukungan dari orangtuanya itu, Farrel sudah beberapa kali melakukan pementasan di wilayah Malang. Mulai di Dewan Kesenian Malang, Yayasan Pendidikan Al Maarif Singosari, serta pertunjukan di Kota Malang serta menjadi dalang tunggal di Kota Batu.
“Saya senang banget bisa tampil di panggung, mendalang. Momen yang paling saya kenang adalah, saat bermain di Yayasan Pendidikan Al Maarif dengan penonton yang hadir sekitar 2.000 orang,” paparnya dengan antusias.
Farrel mengungkapkan, bulan depan ia mempersiapkan diri untuk tampil di Purwosari, Pasuruan. Sekali tampil, setidaknya waktu yang diperlukan untuk menuntaskan satu lakon bisa mencapai dua jam.
Sebagai dalang cilik, Farrel mampu melakukan improvisasi peran dan tokoh cerita dalam wayang yang dimainkannya. Jalan masa depan Farrel masih panjang. Namun ia punya mimpi dan harapan, bisa menjadi dalang terkenal seperti Ki Manteb Soedharsono atau Anom Suroto.
“Saya juga punya cita-cita, nanti saat besar dan bermain bagus ingin ditanggap oleh presiden,” tandasnya. (eri/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...