Chairul Satria Sabaruddin, Pelukis Pensil yang Mendunia


MALANG - Seniman asal Jalan Genukwatu Glintung Blimbing, Chairul Satria Sabaruddin semakin kokoh sebagai pelukis pensil warna kenamaan Indonesia. Karyanya terjual ratusan juta rupiah per frame. Hasil kreasinya telah beredar ke seluruh penjuru dunia. Di balik kesederhanaan alumnus Universitas Negeri Malang ini, ia tengah sibuk mengerjakan karya megah, berupa lukisan pensil warna dengan panjang 15 meter.
Iroel tampak asyik mengarsir gambar dengan pensil warna cokelat ketika ditemui Malang Post di halaman depan rumahnya daerah Jalan Genukwatu Bantaran. Dengan gaya yang santai, dia memangku iPad sembari mencocokkan komposisi gambar foto dan lukisan dari seorang pria di kanvas karyanya.
Seniman 49 tahun ini sedang mengerjakan sketsa gambar untuk temannya. Garis-garis cokelat tergores di atas kanvas dan membentuk sketsa lengan yang sangat detail. Setelah beberapa saat, Iroel meletakkan pensil warnanya dan mulai menceritakan soal karya terbarunya yang baru saja terjual.
“Yang terakhir saya garap karya berjudul Beauty and The King. Ukurannya 1,5 meter kali 2,5 meter. Saya gambar di atas kanvas. Proses karyanya 1,5 bulan,” kata Iroel kepada Malang Post.
Beauty and The King, menggambarkan kecantikan wanita yang dipadukan dengan merak. Corak bulu merak yang eksotis, digambarkan secara gamblang oleh Iroel di atas kanvas.
Setelah itu, dia mengkombinasikannya dengan figur wanita cantik. Lukisan ini, terjual seharga Rp 120 juta tahun 2017 ini. Karyanya tersebut, hanyalah satu dari sekian banyak buah karya tangan dan kreativitas Iroel.
Dia sudah menjual ribuan lukisan pensil warna, dan tersebar di seluruh penjuru dunia. Mulai dari Eropa, Amerika hingga Asia. Salah satu lukisannya berjudul Tak Ada Rotan Akarpun Jadi, dibeli oleh pria Indonesia yang menetap di Hongkong. Lukisan berukuran 80 sentimeter kali 48 sentimeter itu, menggambarkan topeng monyet.
Tapi, bukannya monyet yang dijadikan pusat atraksi, si tukang memakai anjing. Lukisan lain, berjudul Ritme Tak Ndung Ndung Plak ukuran 116 sentimeter dan 67 sentimeter juga menggambarkan topeng monyet yang menguatkan gaya dan taste realis dari Iroel. Karya-karya itu hanyalah sebagian kecil dari bukti kepiawaiannya dalam seni lukis pensil warna.
Saat ini dia adalah satu dari sedikit seniman Malang yang taksiran lukisannya berharga ratusan juta rupiah dan diburu di penjuru dunia. Dia tercatat empat kali menghelat pameran karya di Pacific Place The Ritz Carlton Jakarta.
“Tahun 2012, 2013, 2014 dan 2016 saya pameran di Pacific Place Ritz Carlton. Kalau pameran-pameran di tempat lain, wah sudah tak terhitung, sampai lupa,” kata ayah dari Nanda dan Putri tersebut.
Selain itu, sejak tahun 2004 sampai 2017, seniman yang kini tergabung dalam Galeri Zola Zolu itu juga telah menghasilkan ribuan karya lukis dengan pensil. Meski saat ini telah mencapai kesuksesan sebagai seniman lukis, Iroel bukannya tak pernah mengalami masa sulit. Iroel sudah merasakan pasang surut dalam menjalani profesi yang disebutnya ”berisiko” ini.
Dia pernah merantau di Bali sebagai pelukis potret namun merasa bosan dengan minimnya tantangan. “Sebelum pulang ke Malang, saya pernah jadi pelukis wajah di Bali dan bayarannya bagus. Tapi, saya butuh tantangan baru dan memutuskan kembali. Saya juga pernah sempat mau melamar sebagai pelukis potret di tiga hotel besar Kota Malang,” ungkap Iroel.
Dia memasukkan lamaran di Santika Premiere Hotel, Kartika Graha dan Gajahmada Graha Hotel. Namun, semua hotel menolaknya. Karena penolakan ini, Iroel memutuskan untuk benar-benar terjun sebagai seniman. Dia menyadari risiko profesi seni, Apalagi dia sudah memiliki keluarga.
“Saya pamit istri saya, untuk terjun ke dunia seni murni. Tapi, saya sudah merasakan kehidupan ‘kere’. Dulu pernah, saya tidak bisa membayar uang sekolah anak saya selama empat bulan. Ini profesi yang berisiko,” jelasnya. Setelah bersusah-susah, roda kehidupan Iroel berputar 180 derajat.
Dari seorang seniman yang berjuang untuk makan sehari-hari, Iroel mendapat kesempatan bergabung dengan galeri. Karya-karya dan bakatnya terpampang secara nasional. Dia mendapat kesempatan menerima pembeli dari negara-negara yang mengapresiasi lukisannya dengan harga ratusan juta rupiah.
“Setelah sekian tahun, saya merasa bersyukur ditolak oleh hotel-hotel tersebut. Kalau saya diterima, mungkin saya akan jadi pelukis biasa-biasa saja dan tidak jadi seperti sekarang,” sambungnya. Iroel menyebut setiap karya yang dia lukis menggambarkan tingkat kesulitan dalam berkesenian.
“Rata-rata kesulitan dalam pensil warna, adalah berupaya menutup sebuah bidang besar dengan ujung yang runcing dan kecil. Harus sabar. Kalau emosi gak stabil, karya pasti ngglambyar. Harus telaten, stabilkan emosi supaya gambar optimal. Harus telaten dalam mengarsir,” papar Iroel.
Selain faktor psikologis, faktor permodalan juga penting. Pasalnya, Iroel membutuhkan ribuan pensil warna untuk menghasilkan lukisan di atas kanvas yang luas. Dia memiliki ribuan pensil warna merk Derwent yang tak lagi diimpor ke Indonesia. Dia membeli ribuan pensil warna itu, karena sedang mempersiapkan empat karya untuk pameran pada pertengahan 2018.
Lukisan Perseption, yang menggabungkan empat gambar dalam satu frame, masih separuh jadi. Dia akan memamerkan lukisan tersebut di Art Bazaar Pasific Place Ritz Carlton Jakarta Juli tahun depan. Iroel juga sedang mengerjakan masterpiece lukisan pensil warna berukuran panjang 15 meter kali lebar 1,5 meter.
“Ini akan jadi rekor Indonesia dan internasional, lukisan pensil warna dengan panjang 15 meter. Saya berharap, ketika sudah selesai nanti, lukisan ini akan dibeli orang Malang sendiri. Kalau tidak, saya tidak akan jual lukisannya,” jelas suami dari Tatik tersebut. Iroel sendiri menganggap dirinya adalah seorang seniman realis.
“Saya bukan hiper realis yang empasisnya hanya teknik. Memang, teknik melukis pensil warna adalah tantangan berat bagi seniman. Tapi, saya tetap merangkul rasa dan kreativitas. Lukisan tak hanya menunjukkan teknik, tapi roh dan aura serta makna dari lukisan itu sendiri,” tutup Iroel.(Fino Yudistira/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :