Rochim, Perajin yang Eksis karena Keramik Antik


MALANG - Para kolektor barang antik harus waspada akan keaslian koleksinya. Sebab tidak semua produk itu betul-betul asli. Sekalipun secara kasat mata produk tersebut sangat mirip, mulai dari bentuk hingga komposisi bahan. Salah satu orang yang mampu membuat keramik antik tiruan itu adalah Rochim, warga Jalan Mayjen Panjaitan.
Melalui tangan serta ilmu yang dimiliki, Rochim mampu menciptakan tiruan keramik antik mulai dari zaman Dinasti Jin hingga Dinasti Ming. Semua sangat mirip dengan aslinya.
"Tapi saya tidak menipu lho. Saya hanya mengerjakan pesanan, dan pemesan tahu bahwa keramik yang saya buat adalah tiruan alias bukan asli," urainya.
Mbing, begitu dia akrab dipanggil, mengaku bangga dengan keahliannya itu. Produk buatannya juga dikoleksi sejumlah pejabat. Bahkan, dia menyebut mantan wakil presiden era orde baru pun mengkoleksi produk keramik antik ciptaannya.
”Jangan disebut namanya, saya tidak enak,’’ katanya.
Ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu, Mbing menceritakan, dia mulai terjun di dunia keramik  tahun 1980-an. Diawali dengan bekerja di perusahaan keramik sebagai tukang lukis keramik dengan sistem borongan. Lantaran itulah, dia kerap berpindah perusahaan.
”Saya menikmati saat berpindah perusahaan. Selain mendapatkan upah harian, saya juga banyak belajar,’’ katanya.
Dari beberapa kali pindah perusahaan keramik, Mbing  pun mencoba untuk membuat produk sendiri. Masih sederhana. Yaitu mug, piring, hiasan meja dan lainnya. Modal yang minim, ditambah tidak memiliki alat produksi, tak membuatnya putus asa. Untuk finishing produk keramiknya sendiri, dia numpang membakar di perusahaan tempatnya bekerja.
”Begitulah awalnya, saya numpang dari perusahaan satu ke lainnya,’’ ucapnya.
Karena terus memproduksi, tangannya pun mulai lihai. Mbing mulai meningkatkan kualitas keramiknya, dengan memadu padankan bahan yang tidak biasa. Pertama melakukan modifikasi, produk ciptaannya berupa guci, gagal total. Selain muncul retak, produknya juga terlihat tak elegan, tak simetris.
Karena gagal, bapak empat anak ini kembali menciptakan produk sederhana, dengan komposisi bahan keramik seperti pada umumnya. Hingga dua tahun, Mbing berkutat dengan produk keramik sederhana. Hingga kemudian, dia mulai tertarik dengan keramik kuno.  
”Saat itu ayah mertua saya adalah orang yang ahli melihat keaslian keramik kuno,’’ tambahnya. Mbing pun mulai belajar. Tidak sekadar bentuk, tapi juga komposisi bahan pada keramik kuno. Belajar keramik kuno, modal yang dikeluarkan Mbing tidak sedikit. Untuk mengetahui komposisi keramik, dia harus membeli dulu produk yang asli.
”Saya terus terang tidak mampu membeli keramik antik yang utuh. Saya hanya mampu membeli produk yang tidak utuh alias pecah,’’ ungkapnya.
Dari produk yang dibelinya itu, dia melakukan analisa untuk mengetahui komposisi bahannya. ”Waktu itu saya membuat mangkok. Saya buat 10 mangkok. Selanjutnya saya tunjukkan kepada ayah mertua,’’ katanya.
Sang ayah mertua pun merespon dengan mengambil dua saja, sebagai produk yang paling mirip dengan aslinya. ”Waktu produk mangkok jadi, oleh ayah mertua langsung diajak ke Jakarta untuk berjualan,’’ tuturnya.
Tidak disangka, produk mangkok itu langsung terjual dengan harga lebih tinggi dari produk keramik biasa. Inilah yang kemudian membuat dirinya makin bersemangat. Begitu pulang ke Malang, ayah dari Arfian Yudarta dan Shelly Fifia Kusuma ini kembali membuat keramik kuno.
”Bahannya sama dengan keramik biasa. Cuma komposisi, cara buat serta temperatur pembakarannya yang berbeda. Makanya, sebelum membuat, minimal saya harus tahu dulu keramik aslinya. Nggak perlu utuh, hanya ukuran kecil pun saya tahu komposisinya,’’ urainya.  
Kata Mbing, untuk menciptakan produk mirip aslinya, dia harus melakukannya sendiri. Bahkan, agar tak terlihat palsu (meski palsu), Mbing juga memotong keramik dua sampai tiga kali dan menyambungnya kembali.
”Kegiatan memotong dan menyambung lagi ini wajib dilakukan. Untuk mengetahui  kondisi di dalam, dan mengetahui apakah keramiknya betul-betul pas,’’ tambahnya. Berbeda dengan keramik saat ini, yang mencetaknya pun menggunakan mesin.
Sering menciptakan produk tiruan, nama Mbing mulai dikenal. Tidak hanya oleh kalangan pengusaha di bidang industri keramik . Tapi juga dikenal para kolektor.Tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga kolektor dari luar negeri.
Suami dari Sumaiyah ini mengaku, karena keahliannya itu. pernah ada warga Jepang mengajaknya kerjasama. Namun karena syaratnya, Mbing harus pindah ke Jepang, ayah dari Mohammad Nur Khomaruddin dan Satriya Rahmawati ini memilih menolak.
Mbing pun sering digandeng Kementerian Perindustrian  RI, serta Dinas Perindustrian Jawa Timur  untuk ikut pameran. ”Di pameran, jarang yang beli keramik kuno, paling tinggi meminta kartu nama’’ tambahnya. Begitu pameran selesai, banyak orang datang ke rumahnya untuk memesan keramik.
”Saya pernah mengisi keramik di seluruh ruangan salah satu hotel di Kota Malang, juga di perkantoran. Produk yang diminta ya yang mirip kuno,’’ ucapnya.
Kepada Malang Post Mbing ingin Keramik Malang kembali jaya. Seperti beberapa tahun lalu, Malang menjadi barometer usaha keramik. Dia mengatakan, bisnis keramik tak pernah sepi sebetulnya. Namun karena adanya permainan harga terkait bahan keramik, itulah yang membuat produksi keramik sepi. ”Saya dengan kawan-kawan juga berjuang. Agar bisnis ini semakin maju,’’ tandasnya.(ira ravika/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...