Pakai Kostum Pink, Terima Tantangan Anak Muda Hingga Waria


Malang Post - Langit masih mendung, dengan rumput basah dan di beberapa titik terdapat genangan air, di Lapangan Desa Sumbermanjingkulon, Kecamatan Pagak, Minggu (26/11). Belasan pria berpakaian serba merah muda mulai memasuki lapangan. Tak segelap awan,wajah mereka  sumringah dengan senyum, lalu mengambil pose berfoto dengan meletakkan masing-masing jarinya ke kedua pipi.
Itulah yang tersaji, kala pemain profesional yang biasa berlaga di Liga 1 dan Liga 2, kompetisi sepak bola profesional di Indonesia, hadir dengan membawa nama Dok Jreng FC. Mereka tidak lagi menampilkan kesan lugas, tegas dan garang. Justru, penuh senyum, bersahabat dan siap menghibur.
Ada sosok Alfarizi, Juan Revi, Jefri Kurniawan, Sukasto Efendi, Edy Gunawan hingga Ikhwanul Alam. Mereka, biasanya bermain untuk klub Liga 1 seperti Arema, Persela, Borneo FC, Bhayangkara hingga Perseru Serui. Namun, saat membawa nama Dok Jreng FC, mereka adalah satu tim, yang telah didirikan sejak tahun 2012 lalu.
Dok Jreng FC, didirikan berawal dari iseng. Pasalnya, kala memasuki masa libur atau jeda kompetisi, tidak lagi ada aktivitas di lapangan hijau. Alhasil, berkumpul bersama dengan teman-teman tersebut terjadi untuk sekadar mencari keringat. "Lalu ada turnamen futsal, tepatnya di Dampit. Saya mendapatkan undangan untuk ikut," ujar Koordinator Dok Jreng FC, Yanuar Tri Firmanda.
Lantas, dia mulai mengajak rekan-rekannya. Kala itu, dia masih bermain untuk Deltras Sidoarjo. Pengalaman pertama, mereka langsung juara. "Ya wajar kami menang, karena memang sebagian besar pemain dari liga utama. Kami sering bawa trofi dan juga juara 1," beber dia kepada Malang Post.
Dari sana, banyak pemain asli Malang, yang mulai ingin gabung. Lama-lama, anggota pun kian banyak. Dan semuanya adalah pemain se-Malang Raya. "Kalau kompetisi berjalan, kami aktif di klub masing-masing, kalau libur ya kumpul bareng, ikut turnamen. Sering juara sampai akhirnya dibanned. Nggak boleh lagi ikut turnamen karena ujungnya juara, hahaha," jelasnya.
Mendapatkan larangan, bukan berarti Dok Jreng FC bubar. Justru, setelah itu setiap jeda kompetisi Yanuar mengajak temannya bersilaturrahmi ke desa masing-masing pemain. "Syukur kalau bisa main di desa tersebut main dan menghibur warga," tambah pria yang juga pendiri Dok Jreng FC itu.
Setelah itu, setiap kali jeda, secara otomatis banyak undangan. Yanuar pun mengoordinir rekan-rekannya. "Kami murni bermain untuk menghibur. Dana dari mana? Ya patungan, wong kami pemain professional, hahaha," jelasnya lantas tertawa, lagi.
Dia mengatakan, kata-kata khas Dok Jreng FC adalah Sakduluran Saklawase (Bersaudara selamanya). Sehingga, mereka dengan sukarela saling urunan ketika bertandang ke desa satu menuju desa berikutnya. Setiap jeda, mereka bisa bermain satu kali, dua kali atau sampai empat kali.
"Kalau liburnya dua minggu, paling dua desa saja. Kalau sebulan atau pas tidak ada kompetisi lalu, ya setiap bulan pasti ada kegiatan tandang ke desa. Rata-rata adalah desa pemain Dok Jreng FC sendiri," urainya.
Hal itulah yang membuat dirinya dan seluruh pemain Dok Jreng FC senang. Tidak terikat tetapi memiliki kebersamaan yang kuat. Bahkan, mereka siap 'malu' bersama, memberikan hiburan untuk masyarakat. Bayangkan, dengan baju pink, dengan kedua jari di pipi kiri dan kanan, lalu tersenyum.
"Selain itu, kami bisa bermain dengan siapapun. Anak muda, jago kapuk atau waria. Seru-seruan aja," tambahnya.
Menurutnya, banyak rasa suka saat berkumpul. Dukanya hanya sedikit. Yakni, saat salah satu teman absen. "Kadang kan mereka ditunggu masyarakat di desa tertentu. Bukan hanya masyarakat, kadang pejabat desa seperti lurah dan aparat kepolisian," tutur pria yang kini berdomisili di Lawang itu.
Menurut dia, untuk tahun ini dia masih mendapatkan dua lokasi untuk manggung. Namun, biasanya jelang akhir tahun akan banyak tawaran. "Nah, sekarang tugasnya mengatur jadwal saja. Kami tidak memaksa, yang bisa ayo gabung, yang tidak ya nggak masalah. Paling mereka sendiri yang akhirnya bertanya-tanya tentang keseruan yang terjadi ketika sambang desa," pungkas Yanuar. (Stenly Rehardson/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...