Mengintip Antoe Budiono pelukis asli Malang tembus level internasional

MALANG - Sosok Antoe Budiono sudah mengharumkan nama Kota Malang di kancah seni lukis akrilik. Pria asal Jalan Letjen Sutoyo ini menghasilkan karya lukisan yang dipamerkan di eksibisi level dunia. Harga satu lukisannya mencapai ratusan juta rupiah. Namun, seperti kata pepatah lawas, Antoe harus berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian sebelum karyanya diakui di tingkat internasional.

Antoe Budiono sedang bersantai di studio lukisnya di Jalan Letjen Sutoyo, Kecamatan Lowokwaru Kota Malang saat disambangi Malang Post. Antoe, mengenakan baju hitam, an ramah memperlihatkan berbagai karya yang sedang digarap, maupun yang sudah dipajang di tempat kerjanya.
Lukisan yang digantung ditembok dengan latar belakang putih, berjudul Impossible. Lukisan yang dibuat di atas kanvas sepanjang 160 sentimeter kali 130 sentimeter ini, menggambarkan sosok pria yang sedang duduk dan menghadap belakang. Dia duduk tanpa busana, dengan tangan membentuk cakar, serta senyum nyengir.

Kepalanya gundul, sama seperti beberapa buah telur yang didudukinya di atas tumpukan jerami. “Saya biasanya motret dulu modelnya, lalu saya edit tambahannya sebelum dilukis,” kata pelukis yang mengenakan kacamata rim ini.
Lukisan Impossible tersebut digantung manis di dinding ruang tamu studio lukisnya. Lalu, pria alumnus UMM jurusan Bahasa Indonesia ini, menunjukkan karya hiper realis lainnya, berjudul Obsesi.
Lukisan ini menggambarkan Antoe, yang sedang memegang kuas lukis, difoto dari atas. Dia tidur dengan alas buku-buku seni yang menurutnya membingungkan dan menjemukan. Lukisan yang dibuat tahun 2012 ini, menggambarkan rasa frustasinya terhadap tuntutan art now yang digambarkan di dalam buku-buku.
Lukisan itu digambar di atas kanvas sebesar 200 sentimeter kali 200 sentimeter, dipajang di ruang tengah studionya. “Saat art now masih rame-ramenya, saya dibuat bingung dan sumpek dengan buku-buku serta tuntutan terhadap seniman. Sampai-sampai saya ingin makan saja semua buku itu. Ini jadi ide saya membuat lukisan ini, haha,” papar pria berkulit sawo matang itu.
Buah kreativitas dan ide Antoe tersebut, hanyalah dua bagian kecil dari hasil kesabaran serta kerja kerasnya dalam berkarya. Lukisan Antoe, yang disebut oleh komunitas seni, sebagai hiper realis, telah berkibar di berbagai negara. Mulai dari Amerika Serikat, Belgia, Hongkong, Korea Selatan, Singapura hingga Malaysia.
Dia juga sudah menghasilkan ratusan karya sejak berkarir di dunia seni lukis. Saat ini, lukisan karyanya yang dipajang oleh galeri tempatnya bernaung, adalah produk kreatif eksklusif dengan harga mahal.
“Ya sekarang lukisan saya ditaksir dengan harga ratusan juta rupiah,” sambung alumnus SMA Arjuna Jalan Bengawan Solo itu.
Sederet karyanya, telah dipamerkan di berbagai eksebisi. Dia telah menggelar pameran tunggal berjudul Hyperrealism : The Art of Perfection yang dihelat di Bazaar Art Jakarta pada 26-30 Juli 20178. Karya berjudul Ada Yang Cemburu, dilukis di atas kanvas seukuran 140 kali 150 sentimeter, menjadi masterpiece sekaligus cover dari katalog yang diberikan kepada Malang Post. Antoe bersyukur saat ini karyanya sudah mendapat apresiasi.
“Saat ini, semua ide dan hasil proses kreatif saya, dimotivasi untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya. Karena, saya sendiri merasakan pasang surut dalam berkarya di bidang ini,” jelas pria kelahiran 1965 tersebut.

Menurut Antoe, dia sudah menyukai seni lukis sejak sekolah. Dia mulai menemukan kecintaannya terhadap seni lukis ketika melihat guru seninya di SMA Arjuna, Sudibyo Adi Wahyono melukis di depan kelas. Menurut Antoe, Sudibyo yang pernah mengajar di SMKN Tumpang sebelum pensiun, adalah inspirasi awalnya menekuni profesi seniman lukis.
“Sejak awal, saya sudah fokus ke gaya realis. Karena, ini adalah gaya yang paling basic, paling dasar dan pondasinya harus kuat. Saya memang merasa teknik realis dalam melukis adalah dasar dari semua karya lukis. Harus kuat dulu di realis, baru bisa bicara gaya lain,” sambung pria yang mulai berpameran tahun 1991 itu.
Pada tahun 1990-an, Antoe sudah mulai berani menunjukkan karyanya di hadapan umum. Selama kurang lebih 10 tahun, dia berupaya keras bertahan dalam berkesenian, walaupun akhirnya sempat tumbang tahun 2000. Antoe yang sempat merasa seni lukis tak bisa mencukupi kebutuhannya, mengambil pekerjaan sambilan lain.
“Saya pernah jadi tukang dekor taman, atau jadi suplier kayu ke Jepara Jateng. Semua saya lakoni karena saya sudah berkeluarga sejak tahun 1989, anak istri butuh makan. Saya vakum selama tiga tahun, sejak tahun 2000 sampai 2003,” urainya mengenang masa lalu.
Setelah vakum, dia bertemu dengan Rul Aswar, pecinta seni yang menyemangatinya untuk terus berkarya. Berbagai karya Antoe dibeli oleh Rul Aswar. Sehingga, bapak dari Lisa dan Anissa itu bersemangat untuk melukis. Tahun 2007, dia menjadi artisan dari seniman lukis asal Tongan, Dadang Rukmana selama 3 tahun sebelum berhenti. Tahun 2012, dia direkrut Rul Aswar untuk menjadi seniman lukis di bawah manajemen galeri .
Tapi, pada tahun 2013, Antoe memilih bergabung dengan Art Xchange Gallery Singapura dan mulai merasakan angin segar dalam karir lukisnya sampai sekarang. Dalam berproses seni, Antoe membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan untuk menyelesaikan satu lukisan. Menurutnya, teknis melukis realis dengan akrilik tidak terlalu banyak mendapat kendala.
“Sebaliknya, proses kreatif, untuk menghasilkan konsep dan menggodok ide, membutuhkan waktu dan inspirasi. Kadang ide muncul saat bercanda atau guyon dengan teman. Konsep yang lucu, tapi harus diaplikasikan dulu lewat foto, baru saya bisa proses di kanvas,” jelas Antoe.
Pria yang mengasah kemampuan lukisnya secara otodidak tersebut, menonjolkan detail dalam karya seni realisnya. Sehingga, Antoe bersama Chairul S Sabaruddin asal Bantaran, adalah dua pelukis asli Malang, yang mengusung gaya realis hingga ke level internasional. Antoe, disebut sebagai pelukis hiper realis karena ketelitiannya menonjolkan detail gambar. Dia merasa senang bisa menampilkan gambar secara detail layaknya foto.
“Saya mengagumi teknik karena ya ini kemampuan saya apa adanya. Saya sampaikan ide saya secara lugas, kalau gambar orang ya orang, tidak diperlambangkan. Realis itu seperti dasar dari karya seni lukis. Lihat saja Salvador Dali, sebelum ke surrealis, dia matang di realis,” tambahnya.
Antoe sendiri, mengaku mengagumi beberapa pelukis realis yang mempengaruhi perspektif seninya. Selain Dali, Antoe menyukai karya seniman post renaissance, Rembrandt. Dia juga mengapresiasi karya dari pelukis Raden Saleh, Ivan Sagito, Melodia, Wayan Cahya hingga Iwan Yusuf.
Namun, secara pribadi Antoe banyak dipengaruhi oleh karya dari Koeboe Sarawan, seniman lukis realis asal Ngaglik Kota Batu. “Saya tidak secara langsung belajar dari beliau. Tapi, setiap mas Koeboe membuat karya, saya selalu terkagum dan mengapresiasi. Saya mendapat banyak ilmu setiap mengapresiasi karya lukisnya,” tambah Antoe.(fino yudistira/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :