Nayaka Budidharma, Boyong Tiga Medali Tingkat ASEAN


MALANG - Nayaka Budidharma (11 tahun) menggondol tiga medali bergengsi di Chess Championship 18th ASEAN Age Grup 2017 di Johor Malaysia, Senin (4/12) lalu. Kamis (7/11) sang juara catur itu telah berada di Kota Malang untuk kembali menjalani aktivitas sekolahnya.
Putra ketiga dari pasangan Aminullah Zakaria dan Lilis Erfianti yang bertempat tinggal di Jalan Junggul A8 RT 06 RW 01 itu memiliki bakat alami permainan strategi ini sejak kecil. Sekilas, Nayaka yang biasa dipanggil Ai ini bersosok kalem, namun di balik pribadinya itu, namanya ditakuti oleh atlet catur se-Indonesia di tingkatannya.
“Mungkin bakat dari ayah. Karena ayahnya dulu juga mejadi pecatur tingkat nasional pada tahun 1994 hingga akhirnya vakum karena lebih memilih untuk fokus ke bidang akademis,” papar Lilis Erfianti, ibunda dari Ai. Ia juga mengungkapkan, Ai memang mulai menyukai catur sejak usia lima tahun.
Dari kegemaran Ai yang terlihat menikmati saat mengamati kakaknya bermain catur, sang ayah pun mulai memberikan ilmu dasar tentang catur. Hingga akhirnya ia menjuarai berbagai kejuaraan. Namun saat usia 7 tahun, Ai merasakan kekecewaan karena gagal pergi ke Macau City di China.
Bukan karena kegagalan saat bertanding, namun Ai gagal berangkat ke Macau karena saat itu  berbarengan dengan Pilpres di tanah air. Namun karena kekecewaannya itu, sang ayah menjajikan untuk pergi ke luar negeri dalam ajang yang lebih bergengsi, asalkan ia sering mendapatkan poin penuh.
“Hingga akhirnya Ai sering mendapatkan poin penuh. Bertanding tanpa kalah dalam berbagai kejuaraan bahkan juga di kejuaraan nasional (kejurnas),” jelas pelatih sekaligus ayah Ai, Aminullah Zakaria.
Ia mengungkapkan, Ai pernah beberapa kali ditegur wasit pertandingan catur karena ia tertidur saat pertandingan, karena menunggu langkah dari musuhnya yang terlalu lama. “Kesannya seperti meremehkan lawan. Namun sebenarnya ia tidak pernah menganggap enteng siapapun lawannya,” imbuh Amin, sapaan akrabnya.
Hal ini memang sengaja diterapkan oleh Amin saat melatih Ai dalam bermain catur, karena inti dari permainan catur adalah pengendalian alur permainan. “Sama seperti sebuah peperangan, menguasai medan perang bukan malah terbawa suasana, sehingga Ai biasanya sudah memiliki skema langkah  setelah tiga langkah pertama,” ungkap Amin.
“Kalau tidak sama dengan langkah yang saya inginkan, ya saya paksa dia (lawan) masuk ke alur permainan saya,” ujar Ai soal permainannya saat pertandingan.
Ai mengatakan, saat bermain catur, ia sengaja memosisikan diri sebagai raja yang harus mengatur jalannya serangan tanpa melupakan pertahanan. Ai lebih berfokus pada pertahanan di awal, lalu menusuk jantung pertahanan lawan. Sehingga di setiap pertandingan, Ai sangat menjaga semua buah caturnya termasuk pion yang biasanya lebih sering dikorbankan oleh pemain catur yang lain. “Jadi, biarkan saja lawan menyerang dahulu sambil saya menyiapkan pemanah (cucut) di titik buta lawan. Ketika lawan lengah, maka prajurit berkuda (kuda) dan perdana menteri (ster) mengunci gerakan, lalu dieksekusi oleh pemanah yang sudah disiapkan,” papar Ai
Dra. Emi Yuswandini Kepala Sekolah SDN Rampal Celaket 2 mengatakan, ia begitu bangga dengan prestasi yang diraih oleh Ai. Walaupun Ai sering mengikuti UAS susulan namun prestasi Ai dari segi akademis juga tidak bisa diremehkan. “Ai tidak pernah tertinggal pelajarannya dan bahkan ia termasuk dalam kategori murid pintar. Saya bangga dengan prestasi yang didapatkan Ai,” tandasnya.(mg1/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :