Alfarizi Sempat Menangis di Penghujung Pertandingan, Susah Pisah dengan Arema


MALANG - Satu musim menjabat kapten tim Arema FC sepanjang 2017, Johan Ahmat Farizi hampir saja berada di persimpangan. Di penghujung tahun ini, dia sempat santer diisukan akan meninggalkan Singo Edan. Namun karena rasa cintanya pada klub dan Aremania, dia memutuskan bertahan.
Awal November 2017, saat Arema menjamu Semen Padang di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, pria yang lebih populer dengan nama Alfarizi itu  diliputi kegalauan.  Di penghujung pertandingan, air matanya jatuh tak tertahankan. Terlebih, saat Aremania yang hadir kala itu, kompak menyanyikan lagu dari Arema Voice berjudul Tegar. Air matanya mengalir deras.
Dia yang biasa tampil garang dan kerap ditakuti lawan, seolah sudah tidak peduli lagi banyak mata melihatnya menangis. Wajah sembab dan memerah, sempat terekam dalam kamera Malang Post.
Mengapa Alfarizi berubah menjadi melow waktu itu? Ternyata saat itu pikirannya berkecamuk. Laga home terakhir itu membuat dia lega, bahagia sekaligus bercampur sedih. Pasalnya, dia senang stadion kembali dipenuhi Aremania. Padahal, beberapa laga home sebelumnya, markas tim Arema itu kerap sepi dari penonton. Itu membuat dia bahagia, terlebih Arema juga menang.
Namun di sisi lain, dia juga sedih. Alfarizi sempat berpikir, laga itu bisa menjadi pertandingan terakhirnya bersama Arema. Apalagi, dalam kesempatan tersebut dia sempat menggandeng sahabatnya sejak masa remaja, ketika memulai karier di Akademi Arema, Dendi Santoso.
"Jujur waktu itu saya banyak pikiran, terutama pikiran apakah itu laga terakhir saya. Harus berpisah dengan sahabat saya, berpisah dengan Aremania yang juga sudah seperti keluarga, juga harus jauh dari keluarga," ujar Alfarizi.
Ya, Alfarizi memang mengakui, dia sempat merencanakan pindah, karena ada klub yang meminatinya. Sekalipun, musim 2017 kala itu belum berakhir.
"Nah, pas pertandingan terakhir, saya benar-benar nggak kuat. Saya ini pemain Arema, tetapi dari kecil saya juga Aremania. Pasti sebagai Aremania, tidak ingin jika klubnya terpuruk, ditinggal banyak pemain. Itu juga yang saya pikirkan. Makanya, saya menangis saat itu," beber dia kepada Malang Post.
Belum lagi faktor keluarga. Tentunya, jika dia pindah, ada konsekuensi jauh dari keluarga, seperti orang tua atau mungkin anak dan istrinya. "Sangat berat pasti meninggalkan tim impian saya sejak kecil. Banyak prestasi, banyak pengalaman suka duka bersama Arema," sebutnya.
Bahkan, sehari setelah pertandingan itu, ada hal yang seolah disetting memberatkannya. Aremania dari Gresik, bertamu ke rumahnya. Lebih dari sepuluh orang. Saat itu, dia tidak mungkin bercerita tentang beban yang membalut pikirannya. Sebaliknya, suporter tahunya pemain senang, apalagi mendapatkan dukungan dari banyak orang.
"Tetapi masa itu sudah lewat. Saya mengambil banyak pelajaran musim ini dan siap menyongsong musim selanjutnya. Harus lebih baik secara prestasi, baik individu saya maupun tim Arema," tegas pria 27 tahun itu.
Alfarizi, sudah mengambil banyak pelajaran selama menjadi kapten tim Arema. Pada fase tim yang naik turun dengan dukungan yang minim, dirinya harus memotivasi diri sendiri dan juga rekan-rekannya.
"Awal musim kan tim kami bagus. Juara Piala Presiden, tentu itu modal. Tetapi, pas di tengah musim, tidak bagus. Sudah terlanjur basah, nikmati prosesnya. Itu justru pengalaman saya dan insya Allah musim depan lebih bagus. Saya mengambil banyak pelajaran, juga memahami dukungan atau komentar, baik yang positif maupun negatif," tutur pemain terbaik Piala Bhayangkara 2016 itu.
Alfarizi juga menceritakan, ketika dia akhirnya mengemban kepercayaan sebagai kapten. Sebagai jebolan Akademi Arema, produk dari sepak bola usia dini Singo Edan, sejauh ini dia adalah satu-satunya pemain yang menjabat kapten untuk tim senior.
"Ada susah dan senangnya memimpin pemain lain di lapangan. Jadi kapten itu bonus dan tantangan bagi saya. Tetapi yang penting itu bisa jadi pemain besar di Arema. Besar dalam prestasi diri sendiri juga tim ini," urai Jhon, sapaan akrabnya.
Menurutnya, untuk tahun depan, dia sudah memutuskan bertahan di Arema. Sementara, terkait ban kapten, dia serahkan pada pelatih. "Arema tetaplah sebuah tim. Meski ada satu kaptennya, apa-apa di dalam tim ini harus dirembuk bareng. Yang jelas saya ingin menyatukan rasa membangun suasana yang enak di tim ini," tambahnya.
Jhon memang berpotensi tetap menjadi kapten tim. Apalagi, dalam pergerakan bursa transfer, Arema terlihat melepas banyak pemain senior, yang secara usia lebih tua dari Alfarizi. Ahmad Bustomi, yang kerap dianggap sebagai sosok senior dan panutan, sudah resmi pindah. Begitu juga wakil kapten, Beny Wahyudi yang memutuskan untuk berkarier di Madura United musim depan.
Alfarizi meski masih berusia 27 tahun, kini terlihat menjadi pemain senior di tengah pergerakan tim yang berburu banyak pemain berusia lebih muda. "Jangan melihat tua mudanya tim untuk musim depan. Ada yang lebih penting, yakni totalitas dukungan dari Aremania, itu bisa membuat tim ini semakin kuat," pungkasnya. (stenly rehardson/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :