Rakhmad Hardiyanto, Petani Muda Sukses Kota Batu


MALANG - Bocah perempuan ini begitu nyaman berada di kebun jambu. Tangan mungilnya tak ragu mengambil bawang putih yang ada di tanah, kemudian mengupasi kulitnya hingga bersih. Ketika Aqila Anindya Rasya, 4 tahun, ditanya apa pekerjaan ayahnya, tanpa ragu Aqi langsung menjawab. “Petani, kalau ayah tidak ke sawah, saya tidak punya uang saku,” kata bocah perempuan ini dengan lantang.
Ya, bocah ini adalah anak sulung pasangan Rakhmad Hardiyanto, ST dan Reisha Zuhriana, SE. Rakhmad adalah salah petani muda sukses yang tidak hanya berhasil mengembangkan petani plasma namun berhasil mengembangkan pertanian menjadi salah satu destinasi wisata.
 “Zaman sekarang jarang ada anak yang bangga ayahnya seorang petani, bahkan mungkin ada anak yang malu kalau ayahnya bekerja di sawah,” ujar Rakhmad.
Bila banyak kalangan pertanian pesimis dengan perkembangan pertanian, tidak dengan Hardi, sarjana teknik mesin Universitas Brawijaya (UB) tahun 2003 ini malah melihat dunia pertanian sangat prospektif.
Berangkat menjadi petani tahun 2014, saat itu ia memilih resign dari sebuah perusahaan swasta dan memilih menjadi petani mengembangkan Jambu Apel yang kini akrab disebut Jambu Kristal yang sedang dikembangkan oleh mertuanya, Imam Ghozali, warga Bumiaji sejak tahun 2011.
 “Saya sama sekali buta dengan pertanian,  bahkan dunia ini bertentangan dengan keilmuan yang saya miliki. Tapi orang-orang seperti kita kan punya hal optimalisasi, bagaimana caranya belajar pertanian meski kulit harus hitam, tangan harus ngapal (mengeras),” urai Hardi.
Laki-laki kelahiran 29 September 1984 ini tertarik dengan pertanian karena memiliki basis lingkungan. Bersama mertuanya, ia mencoba bagaimana meningkatkan kepedulian masyarakat sekitar lewat pertanian ramah lingkungan.
Pendapatan pertanian yang tinggi, membuat petani semakin sadar untuk menjaga lahan mereka agar tidak tercemar dengan pestisida berlebihan dengan menerapkan pertanian ramah lingkungan.
Menurut ayah dua anak ini, pertanian tidak bisa berjalan sendiri, tapi harus dilandasi dengan motivasi dan semangat entrepreneur. Hal itu yang ia lakukan saat mengembangkan wisata Jambu Kristal pada tahun 2014. Baginya pertanian harus disinkronisasi dengan industri kreatif, hingga tercetaklah petani kekinian.
“Pemasaran pertanian saat ini lebih mudah dibandingkan 10 tahun yang lalu, karena ada media sosial, tidak benar kalau pertanian meredup, malah saat ini pertanian sangat menjanjikan,” paparnya.
Tinggal bagaimana petani berkonsentrasi untuk menciptakan hasil pertanian yang berkualitas. Jika dahulu petani berhasil memproduksi jambu yang sangat besar dan berasa enak, tapi kebingungan menjualnya, kini hal itu tidak ada lagi.
Terlebih untuk Kota Batu, selain tanahnya sangat subur dibandingkan daerah lain, kota ini memiliki potensi pasar pertanian yang sangat besar.
“Tinggal petaninya kreatif atau tidak mengolah potensi yang ada,” terang Hardi.
Ia mencontohkan betapa potensinya pertanian di Kota Batu, saat ia mulai merintis usaha ini tahun 2014, awalnya semua proses dilakukan sendiri, kini ia sudah memiliki 17 karyawan yang membantunya.
Bahkan kini ia memiliki 17 petani plasma dengan 6.500 pohon, yang secara intens dibimbingnya mulai dari penyediaan bibit, penerapan SOP penanaman, SOP panen, pasca panen hingga memasarkan produk yang diproduksi oleh para petani tersebut.
Dalam sehari kebun Jambu Kristal miliknya bisa menghasilkan 1,5 hingga 2 kwintal jambu yang langsung didistribusikan ke pasar. Pohon jambu miliknya pribadi pun dari hanya 60 pohon kini sudah berkembang menjadi 7.000 pohon diatas tanah kurang lebih 2 hektar.
Ia juga melakukan seleksi kualitas buah jambu apelnya super ketat dengan menggunakan aplikasi yang dibuat oleh Universitas Machung. “Kita memang kerjasama dengan Universitas Machung, setiap kandungan yang ada di jambu kita, bisa diketahui,” ujarnya.
Menurut Hardi, seorang petani harus memberdayakan hulu hingga hilir. Jika selama ini petani menanam hasil bumi berdasarkan pada musim saja dan pasrah terhadap bakulan yang akan menjual hasil buminya, petani kekinian harus merubah pola pikirnya.
Sebelum menanam sudah harus ada riset, tidak hanya riset produk tapi riset market. “Dengan cara ini, sebelum panen sudah ada yang MoU untuk membeli produk kita, kalau petani tidak bisa melakukan pemasarannya, petani harus memainkan peran anak muda di sector market,” terangnya.
Hal ini yang dilakukannya, hingga saat ini ia memiliki 17 reseler petani buah jambu Kristal sekaligus marketing destinasi wisata perkebunannya. “Kalau di wisata tantangannya memang lebih, karena yang kita hadapi tidak hanya orang yang sepadan dengan kita keilmuannya tentang pertanian, namun ada yang memiliki ilmu lebih tinggi dari kita, tapi prinsipnya, saya sinkronisasi keilmuan teoritis dan praktek, hingga semakin lengkap dan mantap,” ujarnya.
Kebun Jambu Kristal yang dikembangkan tidak hanya jadi jujugan wisatawan lokal, namun juga jadi jujugan studi banding wisatawan dari Amerika, Jepang, Belanda hingga berbagai negara lainnya.(muhammad dhani rahman/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...