Dewika Mulya Sofa, Juara Balap Sepeda Tingkat Asia


MALANG - Muda, cantik dan memiliki segudang pretasi. Itulah gambaran atlet balap sepeda asal Kota Malang, Dewika Mulya Sofa. Untuk meraih prestasi itu, ia harus merelakan waktu bermainnya bersama teman-teman seusianya.
Dari waktu bermain yang terbuang, Dewika dapat membawa dan membanggakan Kota Malang berada di puncak prestasi di atas daerah lainnya. Bahkan hingga tingkat Asia. Atlet yang saat ini bergabung dengan ISSI Kota Malang itu juga menjadi salah satu atlet yang diproyeksikan pada Porprov 2019 di Gresik, dengan target juara umum. Karena selama dua kali berturut-turut, Kota Malang menjadi juara umum tahun 2013-2015. Sehingga untuk mempersiapkan itu, latihan di pagi dan sore hari dilakukannya setiap hari.
“Saya bangga dan senang dari berbagai prestasi yang berhasil saya raih. Itu karena usaha keras dan tak kenal lelah yang saya lakukan. Dukungan orangtua menjadi faktor utamanya. Karena apa yang saya raih ini berawal dari arahan ayah,” ujar atlet kelahiran Malang, 28 April 2003 ini.
Dari kesenangannya bersepeda dan jarak rumahnya di Velodrome Residence yang dekat dengan arena balap sepeda Velodrome membuat sang ayah mengarahkannya untuk menjadi atlet balap sepeda. “Ayah lalu menyuruh saya bergabung dengan ISSI Kota Malang, sehingga bakat yang saya miliki bisa tersalurkan. Sekarang saya merasakan manfaat itu,” terang putri dari pasangan Haris Mulyono dan Dewi Kholifah ini.
Tahun 2013 adalah awal ia berkarier sebagai pebalap sepeda amatir hingga pengalaman dan latihan keras menempanya menjadi atlet professional. Pada tahun itu juga, ia juga mulai meraih prestasi. “Awalnya saya fokus di BMX, kemudian mencoba di MTB dan di Road Race. Dengan ikut semua kategori itu, saya ingin bisa memaksimalkan kemampuan dan bakat saya,” ungkapnya.
Berkat latihan setiap pagi dan sore hari serta hanya sekali libur dalam seminggu, ia berhasil ikut berbagai kejuaraan dan berbagai prestasi diraihnya. Di antaranya prestasi terbaik adalah Challenge Girl usia 13-14 tahun dan meraih juara satu di Thailand 2016 dengan peserta seluruh Asia. “Saat itu saya bisa mengalahkan pesaing terberat seperti Jepang, tuan tumah Thailand dan China yang merupakan rival Indonesia,” imbuhnya.
Ia juga meraih juara nasional tahun 2016 dan 2017 LLC Series serta pada Januari lalu berhasil menjadi juara 1 di Ngawi Criterium 2017.
Siswi kelas 3 SMPN 21 Kota Malang ini tidak hanya disiplin dalam latihan rutin. Ia harus melewati berbagai tantangan dan target, ia bahkan pernah tak berdaya selama tiga bulan akibat patah tulang tangan kiri. “Bagi saya patah tulang adalah proses untuk menjadi lebih baik. Tidak saja patah tulang, rasa bosan atau jenuh kadang juga menghampiri. Bayangkan saja, pagi pukul 05.00-06.00 WIB harus latihan dan sore pukul 14.00 WIB sampai selesai juga harus latihan. Beruntung saya bisa menghilangkan kebosanan dengan berjalan-jalan, lalu kembali berlatih,” bebernya.
Kini ia bangga dengan apa yang telah disumbangkannya untuk Kota Malang. Ia ingin mengukir banyak prestasi lagi di tingkat internasinal. “Saya masih ingin memberikan yang terbaik baik Kota Malang dan Indonesia di bidang olahraga sepeda balap ini. Apalagi Kota Malang adalah barometer tempat mencetak atlet sepeda balap terbaik. Dengan begitu nantinya saya juga ingin menjadi pelatih Kota Malang dan mencetak atlet terbaik,” pugkasnya. (eri/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :