Dosen UB Temukan Obat Kanker dari Teripang


MALANG - Banyak informasi beredar, tanaman laut berjenis teripang mempunyai manfaat bagi kesehatan, terutama untuk obat kanker. Namun tanaman teripang, terutama jenis Holothuroidea, bukan hanya mampu menyembuhkan penyakit kanker, zat terpenoid pada tanaman ini, mempunyai tiga manfaat sekaligus dalam mengobati kanker.
Selain mampu mengobati kanker, setelah diteliti, teripang jenis Holothuroidea mampu menghilangkan efek samping, seperti yang ditimbulkan oleh kemoterapi, serta mampu mengobati penuaan yang diakibatkan kanker, karena rusaknya sel normal dalam tubuh.
Penilitian ini berawal dari keprihatinan dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Biologi Universitas Brawijaya (FMIPA UB), Widodo S.Si, M.Si PhD, Med.Sc pada kemoterapi yang selama ini dianggap paling ampuh untuk mengobati kanker. Ia lantas mencari teripang di pantai selatan.
Selama beberapa tahun ia melalui trial and error, hingga akhirnya menemukan teripang jenis Holothuroidea, untuk dijadikan sebagai bahan utama membuat sebuah produk anti kanker tanpa efek samping. Bahkan, di tengah perjalanan penelitiannya, formula penelitian yang ia buat juga bisa menghasilkan manfaat lain, yakni mampu mengatasi problem penuaan.
Penelitian ini dimulai tahun 2010. Almuni doctoral Molecular Biology and Integrated Medical Science University of Tsukuba Jepang itu, mencari teripang di pantai selatan selama beberapa tahun. Di tahun ketiga, ia baru menemukan teripang jenis Holothuroidea, yang ternyata tidak menimbulkan efek samping sama sekali. Setelah diteliti di laboratorium, cara kerjanya mampu membunuh bakteri penyebab kanker dan sel kanker, namun tetap mempertahankan sel normal. “Ternyata, setelah saya lakukan penelitian di lab, tanaman teripang jenis ini, tidak membunuh sel normal seperti cara kerja obat kanker pada umumnya. Sel normal dalam tubuh manusia masih bisa tetap hidup, sehingga tidak ada efek samping dalam tubuh yang mengakibatkan tubuh melakukan perlawanan, dengan kerusakan sel lain seperti ketika dikemo,” jelas ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UB tersebut.
Widodo berhasil menemukan teripang jenis Holothuroidea di pantai Balekambang. Setelah berhasil menemukan teripang yang tepat untuk  dijadikan produk, ia melakukan proses lanjutan di laboratorium. Ketika dilakukan uji laboratorium, ia juga menyertakan bahan-bahan tambahan lain. Awalnya, dilakukan skrining bahan alam yang selama ini telah digunakan sebagai obat tradisional.
“Harapannya dapat menemukan bahan alam yang berkhasiat dan kurang toksik terhadap tubuh. Skrining dilakukan dengan melihat efektifitasnya pada kultur sel kanker dan sel normal (sel sehat) cocok atau tidak,” lanjutnya.
Bahan alam yang dicari, tentu saja yang juga dapat membunuh sel kanker, tetapi tidak membunuh sel normal pada range dosis yang sama, memiliki potensi yang baik untuk selanjutnya digunakan sebagai kandidat untuk anti-kanker.
Setelah diperoleh kandidat, selanjutnya dianalisis senyawa aktifnya, kemudian dianalisis gen targetnya untuk memahami mekanisme bekerjanya bahan alam tersebut. Analisis aktivitas ini dilakukan secara kultur sel pada hewan coba. “Untuk memahami berbagai mekanisme, kita juga menggunakan bantuan komputer  atau bioinformatika, atau bahasa ilmiahnya analisis in silico,” terang dia.
Di tengah proses penelitian, ia menemukan lagi manfaat lain pada formula ramuan yang telah dilakukan di laboratorium. Formula yang ia buat, berkembang,  untuk mengobati kanker yang disertai dengan proses penuaan atau aging.
“Tak jarang sebagian penderita kanker mengalami penuaan, karena sel rusak. Dan ini merupakan masalah yang komplek, sehingga  pengobatan yang bersifat holistik dengan memperhatikan permasalahan komplek tersebut perlu dipertimbangkan dengan baik. Ketika saya menemukan manfaat lain dalam formula ini, saya putuskan untuk membuat obat kanker yang juga mengobati proses penuaan,” urai dia panjang lebar.
Widodo mengungkapkan, banyak fokus penelitian yang telah dilakukan, menurutnya, penelitian yang memformulasikan teripang dengan banyak manfaat ini belum banyak diteliti di Indonesia. “Kita tahu Indonesia kaya bahan alam yang sangat berpotensi untuk  menunjang konsep healthy, namun masih banyak yang belum bisa membuatnya dengan sempurna. Banyak yang tahu teripang memiliki manfaat besar bagi kesehatan, namun belum banyak yang bisa memformulasikannya,” beber Widodo.
Tiga manfaat ini sudah dipatenkan oleh Widodo dan timnya dalam bentuk kapsul, namun belum dijual di pasaran, sebab ia tengah mengurus izin BPOM, agar bisa dipasarkan dan bermanfaat bagi masyarakat. Untuk proses izin BPOM, ia akan mengupayakan target di tahun 2018 mendatang sudah diperoleh. (shinta/adv/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :