Setahun Naik Sepeda untuk Perjalanan Religi ke Luar Negeri


Malang Post, Sudah sekitar 333 hari, Hakam Mabruri (34) dan istrinya, Rofingatul Islamiyah (34) menempuh perjalanan dengan menggunakan sepeda tandem ke luar negeri. Pada Selasa (14/12), Hakam mengaku berada di Kairo, Mesir bersama istrinya. Masih belum diketahui kapan perjalanan panjang tersebut berakhir.
Kepada Malang Post, Hakam yang diwawancara melalui WhatsApp mengaku akan melakukan ibadah umrah terlebih dahulu sebelum kembali ke tanah air. Dia juga mengatakan, perjalanan religi ini dimulai karena Hakam yang hobi touring dan adventure, mengajak sang istri untuk melakukan ekspedisi tersebut.
“Awalnya, saya sering keliling Indonesia hingga negara tetangga sendirian dengan menggunakan sepeda. Kemudian, saya menikah dan sempat berhenti. Setelah tiga tahun menikah, saya putuskan untuk touring lagi dengan ajak istri. Ini perjalanan pertama saya dengan istri menjajaki berbagai negara dengan sepeda tandem,” kata dia ketika dihubungi Malang Post.
Pria kelahiran 12 Juli 1982 tersebut menceritakan, perjalanan panjangnya tersebut ia lakukan untuk menyebarkan misi perdamaian bertajuk ‘Moslem for Peace’. Selama perjalanan, ia rela menerjang panas, hujan, angin, hingga menghadapi pemeriksaan petugas keamanan yang ketat dari berbagai negara, karena ia berkendara menggunakan sepeda. ”Sejauh ini, alhamdulilah kami dalam kondisi sehat. Setiap satu setengah jam, kami istrirahat sebelum melakukan perjalanan panjang lagi,” ujar Hakam.
Pasangan tersebut berangkat dari Desa Gading, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang pada 17 Desember 2016 lalu. Setelah itu, mereka menuju Jakarta dengan melintasi dan berziarah ke makam wali songo, menyeberang ke Sumatera serta meneruskan perjalanan ke negara-negara ASEAN, seperti Malaysia, Thailand, hingga Myanmar. “Ketika melakukan perjalanan, dari border Thailand menuju Myanmar Mae Sot, kami ditolak. Kami baru tahu kalau sebenarnya masuk border darat Myanmar harus pake visa. Awalnya, kami pikir tidak butuh sebab masih kawasan ASEAN. Akhirnya, kami balik lagi ke Kota Tak dan ke Bangkok lagi, dan kemudian terbang dari Bangkok ke kolkata India,” jelas dia.
Sesampainya di Kolkata India, Hakam dan istri melanjutkan perjalanan menuju Tarakeswar, Varanasi, Agra hingga New Delhi. Setelah sampai di New Delhi, lagi-lagi Hakam kesulitan masalah visa Pakistan. Mau tak mau, ia harus melakukan penerbangan lagi menuju Yordania. “Visa kami tidak bisa diurus. Kemudian kami terbang ke Yordania. Di sana, kami stay dulu selama tiga bulan sebelum akhirnya menyeberang ke Nuweba, Mesir,” tukas pria yang masih tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Pertanian Unira Malang itu.
Hakam mengungkapkan, banyak pengalaman tak terduga dalam perjalanan ini. Sebab, mereka sering mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan. Hakam pun mengaku tidak banyak menguasai bahasa asing, tapi banyak orang asing yang mengerti alasan mereka melakukan perjalanan itu. ”Saya terharu, meski banyak orang tak mengerti bahasa kami, tapi mereka tetap membantu,” kata pria yang sejak tahun 2010 aktif untuk melakukan touring tersebut.
Lebih lanjut, Hakam menjelaskan, selama perjalanan panjang itu, yang paling berkesan ketika sampai di Mesir. Terutama saat masuk di daerah Semenanjung Sinai. Wilayah tersebut menjadi basis operasional milisi yang berafiliasi dengan kelompok ISIS. Awalnya Hakam dan istri sudah mendapatkan informasi bahwa Semenanjung Sinai menjadi daerah konflik. Daerah itu menjadi tempat dengan banyak aksi kejahatan. ”Saya dan istri tetap berangkat, banyak pemeriksaan yang dilakukan aparat keamanan. Ternyata, ketika sampai di Sinai, kami berjumpa dengan warga suku Badui yang ramah,” ujar Hakam.
Kemudian, Hakam melanjutkan perjalanan dengan melintasi daerah Sinai. Hakam dan istri tidak sekadar melalui jalan beraspal, namun juga berpasir yang sulit mendapatkan air di tengah cuaca yang sangat terik sepanjang 20 kilometer. Kedua pasangan tersebut selalu diawasi dan tak luput dari penjagaan pihak keamanan setempat. ”Kami tak bisa mengambil foto seenaknya sendiri, awalnya ditanya tujuan kami oleh pihak polisi dan militer,” lanjut dia.
Selama di Sinai, Hakam dan Rofingatul juga dilarang keras mendirikan tenda untuk istirahat, tapi ada kemudahan dengan menginap di rumah-rumah penduduk. Bahkan, ada sebuah keluarga yang terharu melihat aksi mereka.
“Ketika itu, kami hendak pamit untuk melanjutkan perjalanan. Mereka menangis melepas kepergian kami,” ujar Hakam.
Menurut dia, momen di Sinai ini begitu mengharukan. Hakam merasa menjadi bagian keluarga dari warga Sinai. Meski kemampuan bahasa Arab pasutri ini terbatas, tapi para warga sangat antusias ketika mendengar cerita misi perdamaian mereka. ”Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi kami, janganlah menyatakan tidak mengerti bahasa mereka. Sebab, kita memiliki hati yang bisa men-translate semua bahasa,” terang Hakam.
Pengalaman menarik lainnya, Hakam menceritakan perjalanannya dengan nama ‘Holy Journey Bicycle Trip’ sehingga mereka berziarah ke makam-makam para ulama dan waliyullah seperti Imam Syafi’i, Ibnu Hajar, dan Rabiatul Adawiyah. Selain itu juga mengunjungi Masjid Amr Bin Ash dan Gereja Sampah (Gereja Gua atau biara Saint Simon) di Mesir. Mereka juga diminta siaran langsung oleh stasiun televisi untuk menceritakan perjalanannya, seperti di TV Channel 2 Egypt beberapa waktu lalu.
”Kami ingin menyebarkan agama Islam di Indonesia yang begitu menghargai perbedaan dan menjaga perdamaian,” kata dia.
Saat ditanya mengenai biaya operasional selama perjalanan, hingga saat ini menurutnya masih aman. Dia menyatakan, bantuan dari banyak pihak sangat berpengaruh untuk perjalanan mereka. ”Untuk dana, kami aman. Dan, kami pun berterima kasih kepada banyak pihak,” pungkas Hakam yang juga warga Nahdliyin ini.(tea/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...