Dokter yang Mau Pegang Cangkul dan Kuli Bangunan


MALANG - Masyarakat Kecamatan Turen pasti mengenal Kepala Klinik Cakra Husada PT Pindad dr. Saji Purboretno. Ia dikenal sebagai dokter dengan  jiwa sosial tinggi, terutama kepada kaum duafa.
Penampilannya sederhana. Usianya pun masih muda. Baru menginjak 34 tahun. Tetapi dedikasi dr. Saji sangat luar biasa untuk masyarakat di Kecamatan Turen. “Saya sekadar ingin membantu saja. Jangan sampai orang susah menitikkan air mata, karena arsy Tuhan akan bergetar,” ucap dr. Saji.
Di luar Kecamatan Turen, orang tidak akan mengetahui bahwa pria kelahiran 8 Januari 1984 ini seorang dokter. Penampilannya tak seperti dokter kebanyakan. Ikemana pun pergi ataupun bergaul dengan masyarakat, ia selalu memakai kaos dan celana pendek.
Karena kesederhanaannya itulah, dr. Saji sangat disayangi masyarakat Turen. Mulai dari pekerja kantoran, swasta, tukang ojek hingga tukang becak pun mengenalnya. Selain memberikan pelayanan kesehatan, bapak satu anak ini juga kerap melakukan kegiatan sosial.
Mulai dari memberikan pengobatan dan pelayanan gratis untuk masyarakat yang tidak mampu, juga rela berkotor-kotor dengan menjadi kuli bangunan ketika ada pembangunan fasilitas umum. Termasuk rutin membagikan nasi bungkus setiap Jumat pagi kepada kaum duafa, tukang becak, hingga gelandangan.
“Semua hal, pokok (saya) bisa. Mulai bedah rumah, bagi nasi, bantu bencana banjir ataupun longsor. Kalau jadi kuli, ya sewaktu ada kegiatan pembangunan fasilitas umum, seperti pembangunan TPQ,” ungkapnya.
Karena kepedulian serta jiwa sosialnya yang sangat tinggi itulah, beberapa pekan lalu ada yang mengunggah tentang dr. Saji di media sosial facebook (FB). Unggahan tersebut, ternyata saat ini menjadi viral. Netizen yang mengenal dr. Saji pun, memberikan komentar positif.
Pemilik akun Anton Suyono, adalah yang mengunggah kali pertama tentang sosok dr. Saji. Selain menampilkan beberapa foto kegiatan sosial dr. Saji, juga guratan tulisan yang diberi judul ‘ Beliau Dokter, Kuli Bangunan atau apa...??’. Pada paragraf pertama dituliskan, dr. Saji adalah dokter muda yang tampan, gagah dan simpatik. Kaum duafa, tukang becak, ojek pasti mengenalnya.
Di alinea kedua ditulis, dalam setiap kegiatan dr. Saji selalu berbagi nasi bungkus, pengobatan gratis, bedah rumah serta peduli difabel. Juga ada beberapa ungkapan simpati. Mulai dari dokter sederhana yang suka berkotor-kotor dengan lumpur dan adukan material. Dokter yang tidak pernah malu untuk memegang cangkul.
 “Kenapa saya melakukan semua itu, karena dulu saya juga orang tidak punya. Untuk berobat pun susah, karena orangtua hanya bekerja sebagai petani. Makanya sekarang, saya tidak ingin orang lain susah, terutama yang tidak mampu,” terangnya.
Soal pengobatan dan pelayanan kepada masyarakat, terutama kaum duafa dan masyarakat miskin, dr. Saji memang tidak pernah mematok biaya. Kalau memang benar-benar tidak mampu, digratiskan. Bahkan, dr. Saji siap memberikan pelayanan selama 24 jam. Kapanpun dibutuhkan, ia selalu datang meskipun tengah malam dan mendatangi rumah pasien.
“Kalau pembagian nasi bungkus dan kegiatan sosial lain, sebenarnya dananya bukan hanya dari saya pribadi. Dana dari iuran bersama teman-teman di Komunitas Turen Bersatu. Setiap Jumat ada sekitar 250 bungkus nasi yang kami bagikan,” jelas pria yang berdomisili di Desa Putat Lor, Kecamatan Gondanglegi ini.
Kesederhanaan dan jiwa sosial dr. Saji yang tinggi ini, juga dibenarkan oleh Ari Febriantoni, koordinator Komunitas Turen Bersatu. Ia mengatakan, dr. Saji telah menjadi panutan untuk masyarakat Kecamatan Turen.
“Dia ketika ditelpon jam berapapun, kalau ada warga yang sakit, selalu datang cepat, meskipun tengah malam. Pakaiannya juga tidak terlihat seperti dokter, hanya memakai kaos oblong dan tidak pernah memakai pakaian dokter,” terang Ari Febriantoni.
Untuk pembagian nasi bungkus kepada kaum duafa, memang dilakukan setiap hari Jumat. Dr. Saji inilah yang kali pertama memrakarsai, hingga diikuti oleh Komunitas Turen Bersatu. Bahkan, dr. Saji yang mencari donasi kepada teman-teman sesama dokter dan karyawan, untuk setiap kegiatan di wilayah Kecamatan Turen.
“Jarang ada dokter yang memiliki jiwa sosial seperti ini, apalagi usianya masih muda. Selain rela mengorbankan waktu, dia juga ikut menjadi kuli bangunan ketika ada pembangunan rumah warga ataupun fasilitas umum,” papar pekerja di Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Turen ini.(agung priyo/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :