Ajak Petani Tanam Apel Kembali, dari 204 Hektare Jadi 343 Hektare


Malang Post, Keberadaan Apel Poncokusumo yang diambang kepunahan, membuat Kepala Badan Peneletian dan Pengembangan Daerah (BPPD) Kabupaten Malang, Drs Iriantoro M.Si, gencar melakukan program revitalisasi. Atas upaya itu, dia baru saja diganjar reward BPPD Berkinerja Utama dari Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristek Dikti).
Senyum wajah terpancar ketika Malang Post menemui Drs Iriantoro M.Si di ruang kerjanya pada Jumat (15/12) pagi. Di mejanya, terdapat bingkai piagam penghargaan dari Kemenristek Dikti.
Penghargaan itu merupakan penghargaan dengan level tertinggi di Kemenristek Dikti. Apalagi Kabupaten Malang merupakan satu-satunya kota maupun kabupaten yang mendapat penghargaan itu. Sedangkan dua penghargaan lain dari Kemenristek Dikti, diberikan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Sumatera Utara.
Menjadi yang terbaik dalam ajang itu, memang membuatnya bangga dan dapat tersenyum lepas. Lantaran, kinerjanya selama hampir setahun ini dalam merevitalisasi apel menuai prestasi lewat penghargaan tersebut. Mantan Sekreatris Dewan (Sekwan) ini mengatakan, program revitalisasi dimulai awal tahun ini.
Saat itu, dia menggandeng Dinas Tanaman Pangan, Pertanian dan Hortikultura (DTPHP) Kabupaten Malang, untuk melakukan revitalasi Apel Poncokusumo. Dia juga turun ke lapangan untuk melakukan kajian. Setelah ditemukan penyebab luas lahan apel menyusut, dia langsung bergerak mencari solusi. “Penyebab lahan Apel Poncokusumo menyusut lantaran alih fungsi,” ujar Iriantoro kepada Malang Post.
Dia menyebut, lahan apel banyak beralih menjadi lahan pertanian tebu dan bunga kirsan. Para petani lebih memilih menanam dua tanaman tersebut, lantaran menguntungkan. Tidak hanya itu, biaya tanamnya murah dan prosesnya sangat mudah, saat para petani merawat tebu serta bunga krisan. Sedangkan hasil penjualannya juga menguntungkan.
“Maka dari itu, saya mengedukasi para petani apel untuk kembali ke habitatnya. Apalagi Apel merupacan ikon Malang Raya,” kata mantan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang ini.
Untuk mengajak para petani kembali menanam apel, diakuinya tidak mudah. Apalagi luas lahan apel semakin menyusut. Sebelum dia melakukan program revitalisasi apel, luas lahan yang tersisa hanya 204 hektare. “Saya harus pelan-pelan mengajak para petani untuk kembali menanam apel. Selain itu, mereka juga saya beri pengertian bahwa menanam apel itu banyak manfaatnya,” kata Irianto.
Salah satu manfaat menanam apel, dia menyebut, daerah Poncokusumo terhindar dari bencana lantaran apel memiliki akar kuat. Sehingga, bisa menahan pergerakan tanah ketika terjadi hujan lebat. Selain itu, apel juga bisa dikembangkan menjadi aneka makanan serta minuman olahan. Seperti keripik apel, jenang apel dan minuman sari apel.
“Tidak hanya mendorong mereka untuk kembali menanam apel, saya bekerjasama dengan DTPHP serta Kemenristek Dikti memberikan bantuan,” kata dia. Bantuan yang diberikan seperti bibit apel serta pupuk organik. Sedangkan untuk istri petani diberi peralatan atau mesin pengolahan apel menjadi aneka makanan serta minuman.
Melalui berbagai bantuan serta pemberian pemahaman kepada para petani tersebut, lambat laut mereka mulai menanam apel kembali. Yang terpenting baginya, semangat para petani untuk menanam apel lagi, kembali tumbuh. Mereka memiliki kepercayaan bahwasanya menanam apel juga menguntungkan bagi para petani.
“Saat ini, lahan pertanian apel mulai bertambah. Meski belum secara signifikan, tapi pertumbuhan berjalan konsisten setiap bulan,” kata pria ramah tersebut.
Dari data DTPHP Kabupaten Malang, data luas lahan apel yang sebelumnya hanya sekitar 2014 hektare, per akhir November 2017 tambah menjadi 343 hektare. Dengan rincian, terdapat 343.956 pohon dengan jumlah rata-rata produktivitas 553.480 kuintal. “Itu artinya, kepercayaan para petani untuk kembali menanam apel mulai tumbuh,” tuturnya.
Selanjutnya, misi di masa mendatang yang diemban yakni dengan mengembalikan kejayaan apel Poncokusumo. “Saya memiliki keinginan, di setiap rumah warga Poncokusumo terlihat kembali pohon apel. Sehingga, wisatawan bisa membeli serta memetiknya langusung di tempat,” kata Iriantoro.
 “Tujuan utama sebenarnya bukan pemberian penghargaan ini. Melainkan lebih besar lagi, yakni mengembalikan kejayaan Apel Poncokusumo sebagai ikon Malang Raya,” pungkasnya. (binar gumilang/han/*)

Berita Terkait

Berita Lainnya :