magista scarpe da calcio Bangkit dari Kegagalan, Raih Medali Tingkat Asia


Bangkit dari Kegagalan, Raih Medali Tingkat Asia

 
MALANG - Kegagalan pernah menjadi momok bagi Shintia Eka Arfenda, atlet gulat asal Desa Jeru, Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Pada pertandingan pertamanya di tingkat Asia, ia gagal meraih medali pada kejuaraan Asian Indoor and Martial Arts Games Bangkok, Thailand tahun 2015. Setelah berlatih keras,  titik balik diraihnya satu tahun, ia berhasil meraih medali emas di negara yang sama. 
Ya, perjalanan untuk bisa meraih prestasi gemilang memang tak mudah. Shintia sapaan akrabnya harus gigit jari dan menangis di negeri orang, pada pertarungan pertamanya di luar negeri.  Ia kalah dengan atlet Vietnam pada pertandingan semifinal. Air mata tumpah, ia pulang ke tanah air tanpa membawa medali. 
Setahun kemudian, ia kembali datang ke Thailand. Kali ini mengikuti South East Asean Junior & Cadet 2016. Ia bertarung dengan segenap tenaga. Melupakan kegagalannya pada tahun 2015. Hasilnya sungguh luar biasa, Shintia berhasil menjadi Juara I pada 2016 di Thailand. 
Dalam ajang tersebut, anak pertama dari dua bersaudara ini berhasil mengalahkan negara-negara ASEAN dan membawa bendera Indonesia terkerek paling tinggi. Tepatnya, pada tanggal 27 April 2016. Tempat di mana ia juga harus tunduk kali pertama.
“Tahun 2015 saya masih ingat, dari tiga pertandingan saya harus melawan Thailand, Vietnam dan Thailand lagi. Saya menyerah dari atlet Vietnam. Namun karena latihan yang keras di tahun selanjutnya saya bisa kalahkan Thailand dan dua atlet dari Vietnam. Hal itu menjadi kebanggaan yang tidak bisa saya ungkapkan, kecuali rasa syukur,” bebernya.
Lalu, ia kembali menjalani laga internasionalnya pada Tahun 2017. Mengikuti Asian Indoor and Martial Arts 2017. Tak tanggung-tanggung, pesertanya adalah atlet se-Asia. Di ajang ini, ia berhasil menempati juara IV. Pada 26 November 2017, ia kembali bertarung di luar negeri. Ke Vietnam, sekali lagi, ia tunjukkan semangat pantang menyerah. 
Dalam South Asian Wrestling Championship 2017 itu, Shintia berhasil meraih medali perunggu. Dari prestasi selama tiga tahun berkiprah di tingkat internasional itu, Shintia berhasil melawan momok kegagalannya pada ajang pertama.
Ia mengaku sempat merasakan takut, grogi, tidak percaya diri dan penyesalan mendalam. Gadis berusia 21 tahun ini tak bisa melupakan kenangan pahit ajang internasional kali pertamanya. Ia berusaha mengubah hal itu menjadi motivasi. Memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus berlatih keras setelah pulang dari kuliah. Merelakan waktu, dalam seminggu, ia hanya  dua kali berkumpul dengan keluarganya.
“Akhirnya saya bisa tersenyum lebar setelah berhasil bangun dari keterpurukan pada pertandingan internasional saya di tingkat Asia. Pertama, ya kali pertama bertanding ada rasa takut yang besar menyelimuti, grogi dan tidak percaya diri karena harus bertemu lawan-lawan tangguh yang saya tidak pernah mengetahui kekuatannya sebelumnya,” urai Shintia.
Bangkit, bagi Shintia, berarti harus ada banyak pengorbanan. Karena menurutnya untuk bangkit dari sebuah keterpurukan sangat tidak mudah. “Para pelatih, orangtua dan teman kembali memberikan dukungan moral agar saya bisa bangkit. Selain dukungan, juga latihan secara rutin hingga rela tidak pulang,” beber gadis kelahiran Malang, 28 November 1996 ini.
Ia menceritakan, apa yang yang dialaminya pasti juga pernah dirasakan atlet-atlet tangguh yang memperkuat Indonesia di ajang internasional. Dikatakan Shintia, rasa tidak percaya diri pasti hinggap dan membuat rasa takut semakin membesar dan membebani. 
“Dari pengalaman tersebut, saya mulai banyak belajar. Di mana saya harus bisa mengalahkan rasa takut untuk menjadi yang terbaik. Terlepas saat bertanding kita akan bertemu dengan musuh setangguh apa,” terangnya berbagi pengalaman.
Sementara itu, Ketua Harian Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Kabupaten Malang, Drs. Sulastiman mengatakan, Shintia merupakan salah satu atlet yang sangat membanggakan dari Kabupaten Malang. Dari latar belakang keluarga, Shintia berasal dari keluarga tidak mampu. Ayah Shintia, Arifin merupakan pedagang jajan keliling, sedangkan ibunya Mutma’inah adalah buruh pabrik.
“Latar belakang keluarga, tak menghalangi seorang atlet untuk berprestasi, yang terpenting harus profesional, harus benar-benar disiplin,” ungkap pria yang juga mengembang tugas di Binpres PGSI  Jatim ini.
Ia mengaku sangat bangga dengan munculnya atlet muda dari Kabupaten Malang. Mereka bisa mengukir prestasi di tingkat internasional. Kabupaten Malang lama sekali meraih prestasi internasional. Tepatnya 55 tahun, yakni tahun 1962. 
“Beberapa atlet muda yang muncul dan salah satunya adalah Shintia, merupakan sebuah prestasi yang membanggakan bagi Kabupaten Malang. Ini karena setelah puluhan tahun, akhirnya Kabupaten Malang memunculkan atlet muda dan berbakat hingga tingkat dunia,” pungkasnya.(eri/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang