Gunawan Wibisono, Seniman Kayu dari Kota Batu


Malang Post, Di tangan Gunawan Wibisono, 22 tahun, kayu lapuk bisa menjadi benda seni yang bernilai. Kayu lapuk yang seharusnya dibuang, diubah menjadi karya yang indah. Bagi Gunawan, keindahan yang muncul dari kayu, adalah keindahan yang sesungguhnya alias tidak bisa dimanipulasi.
Warga Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu ini tak menghiraukan apapun begitu memegang alat dan kayu. Semua pikirannya tertuju pada kayu yang ada di depannya. Dari ruangan berukuran 2 x 3 meter, tercipta sebuah produk berbahan dasar kayu yang banyak diminati oleh konsumen. Tidak hanya bisa menjadi kursi, meja, namun juga bisa menjadi sebuah cincin yang indah.
Saat ini, pegawai tenaga harian lepas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu ini kebanjiran permintaan. Mulai dari pot kayu, hingga lampu hias dan beberapa barang lainnya yang memiliki nilai jual.
 “Sekarang sedang ada pesanan ratusan bahan yang harus saya selesaikan secepat mungkin, tapi mohon maaf saya belum bisa mempublikasikan fungsi alat ini, karena permintaan pemesannya,” urai Gunawan.
Berbeda dengan wirausaha lainnya, Gunawan tidak lagi kebingungan menjual produknya, sebaliknya ia mengaku kesulitan untuk menyisihkan barang untuk contoh. Karena begitu ia menyisihkan contoh di workshopnya, barang tersebut langsung laku dibeli.
Siapa menyangka, semua barang yang dibuat oleh anak nomor dua dari empat bersaudara ini semuanya dibuatnya dari limbah kayu. Mulai dari sisa kayu dari pengerajin kayu, hingga kayu lapuk yang selama ini banyak menyumbat saluran air di Kota Batu.
Ia menyukai membuat berbagai produk berbahan kayu ini sejak ia masih duduk di kelas XII SMKN 1 Batu. Kendati ia memilih jurusan perhotelan, ketertarikannya ini membuat ia mempelajari kayu secara mendalam. Meski sejak kecil, ia mulai diajari oleh Sugeng Prayitno, pamannya untuk menghasilkan produk kayu.
“Saya pernah belajar mengecat pada tukang cat, saya juga pernah belajar las dari ahlinya. Saya bersedia bekerja berhari-hari meskipun tidak dibayar untuk mendapatkan ilmunya, namun yang paling saya suka membuat produk dari kayu,” ujar bujangan ini.
Ia jatuh cinta pada kayu, karena kayu ini adalah barang yang jujur yang tidak bisa berbohong. Artinya keindahan yang muncul dari kayu, adalah keindahan yang sesungguhnya alias tidak bisa dimanipulasi.
Selain itu, menurut Gunawan, kayu adalah barang yang unik, meski pemotongannya rumit, namun kayu ini bisa dipergunakan untuk berbagai produk. Kayu juga mampu membuat keindahan yang alami.
Ide membuat benda-benda kreatif dari limbah kayu ini pasca bencana alam. Di gudang BPBD banyak menumpuk kayu yang lapuk. Kayu yang tidak memiliki nilai jual ini, akhirnya digunakan untuk bahan bakar membakar aspal oleh PU Cipta Karya.
Gunawan merasa sayang jika barang itu dibakar. Akhirnya ia meminta sedikit kayu yang lapuk itu untuk dijadikannya kursi. Banyak yang sempat meragukan pilihan Gunawan untuk membuat kursi dari kayu lapuk tersebut.
Mereka baru memuji saat kayu lapuk tersebut akhirnya menjadi satu set kursi kayu yang alami. Kelapukan kayu ini, justru menciptakan guratan alami yang semakin memperindah karya Gunawan.
“Niat awalnya saya gunakan sendiri, waktu digunakan ternyata ada yang minat, akhirnya dibeli,” aku Gunawan yang sudah membuat enam kali mebel dari kayu lapuk. Berangkat dari situ, Gunawan akhirnya membuat cincin dari kayu lapuk.
Cincin unik ini dibuat memadukan kayu dengan resin cair hingga terbentuk sebuah cincin yang sangat indah. “Sehari saya bisa bikin 2 hingga 5 cincin, tapi gak ada stok, karena begitu jadi langsung laku,” ujar Gunawan.
Aktivitasnya di tim reaksi cepat BPBD Kota Batu memang membuat Gunawan sering bertemu dengan kayu lapuk. Karena setiap ada kejadian bencana alam, tim Gunawan lah yang pertama kali berada di tempat kejadian perkara.
Sering kali ia menemukan adanya batang kayu yang menyumbat aliran air atau sungai hingga mengakibatkan banjir. Dari sekian produknya yang paling laku adalah pot kaktus. Pot yang dipasang dalam ruangan ini yang laku terjual dengan cepat.
Keaktifannya memproduksi produk kreatif kayu ini membuatnya dipercaya dalam Forum Kewirausahaan Pemuda Jawa Timur menjadi anggotanya. Ia menjadi 10 pemuda yang ikut pelatihan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Ia menjadi pemuda yang berwirausaha paling beruntung di Jawa Timur, karena ia satu-satunya pemuda di Jawa Timur yang mendapatkan bantuan mesin bubut, table show dan bor serta 21 item peralatan lain dari Kementerian.
 “Sebelumnya saya mengolah dengan cara manual, keberadaan mesin ini sangat membantu saya, meski 21 item masih belum diserahkan ke saya oleh Universitas Brawijaya, karena masih dalam proses audit,” terangnya.
Ia berharap kiprahnya ini bisa memotivasi pemuda yang lain untuk berwirausaha, karena sampai saat ini greget pemuda masih kurang. “Saya mencoba teman relawan penanggulangan bencana untuk berwirausaha, kita memang orang sosial, namun tetap butuh pemasukan untuk keluarga,” ujarnya.
Gunawan mengatakan penghasilan dari kerajinan kayunya adalah nomor terakhir, yang terpenting adalah kepuasan melihat hasil karyanya bagus dan memuaskan orang lain. “Hasil bagus, rejeki akan mengikuti,” tandasnya.(Muhammad Dhani Rahman/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :