magista scarpe da calcio Tim penguji SIM Polres Makota, juara nasional layanan SIM


Tim penguji SIM Polres Makota, juara nasional layanan SIM


Malang Post, Aiptu Harry Sukatno dan Aiptu Eko Syamsi, dua anggota Satlantas Polres Makota, adalah contoh dua penguji SIM A dan C yang gemar menyelipkan guyonan dan candaan, agar peserta tidak pucat pasi ketika menjalani ujian SIM. Mereka jugalah yang menjadi rahasia dibalik kesuksesan Satlantas Polres Makota terima penghargaan juara nasional layanan SIM.
Kesan angker dan menakutkan terus dikikis dari imej kepolisian. Sosok humanis dan supel serta mudah bermasyarakat, adalah kapabilitas yang harus dimiliki polisi modern. Lewat upaya mewujudkan visi polisi humanis, Satlantas Polres Makota terus menerapkan ujian Surat Izin Mengemudi (SIM) yang sebisa mungkin bebas dari ketegangan para peserta ujian.
Sebaliknya, para penguji SIM dituntut sabar dan bahkan pandai berkelakar untuk meringankan ketegangan peserta ujian SIM. “Sabar pak, santai jangan tegang. Jangan lupa pakai sabuk pengaman, cek rem dan kopling. Baru disetir mobilnya pak,” ungkap Aiptu Harry Sukatno saat mengarahkan peserta ujian SIM A di kantor Satpas Jalan Dr Wahidin.
Dia tampak berdiri di samping mobil putih yang menjadi alat ujian SIM A kendaraan roda empat. Sesekali senyumnya terkembang untuk merilekskan seorang bapak yang berwajah tegang. Begitu mendengar bisikan Harry, peserta ujian itu sukses menjalankan instruksi agar dia bisa lulus ujian pengendara mobil.
Begitulah suasana harian dari kerja penguji SIM A di Satpas Jalan Dr Wahidin. Harry menyebut dia adalah pengganti dari Bripka Seladi yang baru saja purnatugas dan dilepas Polres Makota. “Tahun 2013 saya pernah jadi penguji SIM A, lalu masuk ke loket data. Tahun 2017, setelah pak Seladi pensiun, saya yang menggantikan,” kata Harry kepada Malang Post.
Polisi asli Malang itu mengatakan, penguji SIM A seperti dirinya, dituntut fleksibel dalam menghadapi situasi yang berbeda-beda dari para peserta ujian. Fleksibilitas dalam melayani peserta ujian inilah yang menjadi poin plus Satlantas Polres Makota saat menjadi juara nasional pelayanan SIM.
“Pernah saya harus tenangkan peserta ujian yang kakinya gemetaran. Saya tahu dia gemetar karena ada suara trak-trak-trak dari dalam mobil, kakinya ndredeg. Saya alihkan perhatiannya, saya tanya hal ringan, anak berapa, kerja di mana, jangan tegang kita sama-sama manusianya,” seloroh pria domisili Tambakasri Tajinan itu.
Menghadapi peserta ujian yang seperti ini, dia langsung melontarkan guyonan-guyonan ringan, serta membisikkan kata agar peserta tak tergesa-gesa dan pelan-pelan. Upaya mengalihkan perhatian peserta yang dilakukan oleh Harry adalah untuk mengingatkan peserta. Bahwa, sebelum menguji, para peserta sebenarnya sudah diberi arahan.
“Kita berikan arahan sebelum ujian, tahapan yang benar. Cara pegang kemudi, pemakaian sabuk pengamanan, kesabaran dan dingin saat mengemudi mobil, termasuk saat haluan juga kami tekankan. Tapi saat ujian, ya kadang-kadang peserta lupa saking groginya, haha,” sambung pria yang pernah bertugas di Polwil Malang itu.
Normalnya, peserta harus masuk ke mobil, mengecek semua kelengkapan, memasang sabuk pengaman, serta menginjak kopling dan melepasnya pelan-pelan, dibarengi dengan injak gas. Tapi, rasa grogi dan kaki gemetaran kadang membuat peserta lupa dengan tahapan sederhana untuk mengendarai mobil.
“Kadang-kadang ada yang menginjak kopling dan gas berbarengan sampai koplingnya keluar asap. Ada juga yang karena tegang lupa pakai sabuk pengaman. Walaupun bagus hasil ujiannya tetap tidak lulus, karena sabuk pengaman adalah langkah penting dalam mengendarai mobil,” tutur pria alumnus Sekolah Polisi Negara lulus 1988 itu.
Namun, tidak jarang juga Harry harus menghadapi peserta ujian yang ‘mokong. Peserta mokong ini adalah mereka yang meminta ujian ulang atau bahkan meminta lulus padahal hasil ujiannya gagal. Menurut Harry, dia harus menyabari para peserta seperti ini dan meminta agar mereka kembali minggu depan.
“Yang mokong ya sudah tahu gak lulus minta lulus atau minta ujian ulang langsung, kan tidak bisa seperti itu. Ya saya minta belajar lagi, kembali ujian minggu depan,” papar alumnus Salahuddin Malang itu. Sementara itu, Aiptu Eko Syamsi sebagai penguji motor, menyebut bahwa dia gemar mengguyoni peserta ujian agar suasana di Satpas cair.
“Saya panggil artis ibukota, Rahmat Syaifullllll, untuk tampil dan  naik ke,,,atas motor, beri tepuk tangan penonton. Gimana, Rahmat lulus tes atau tidak? Ayo ngacung yang ngomong tidak lulus angkat tangan. Lha kok yang ngacung tidak lulus banyak sekali, hahaha,” pekik Syamsi saat menguji salah satu peserta ujian.
Begitulah cara Syamsi menurunkan tensi ketegangan di lapangan ujian SIM C. Dia mengatakan kebiasaan ini sudah berjalan sejak tahun 2014, untuk menciptakan suasana cair. Tujuannya, agar peserta ujian tidak tegang. Andai gagal ujian, peserta bisa pulang tanpa memendam rasa kekecewaan.
“Itu semua ide awal yang saya matangkan agar jadi kebiasaan saat saya memandu ujian SIM. Ini juga berawal dari ketegangan antara peserta ujian dan penguji saat ada yang tidak lulus. Saya ingin ciptakan suasana cair, agar mereka tidak sakit hati saat tahu tidak lulus ujian SIM C,” sambungnya.
Aiptu Asmuin, Bintara Urusan (Baur) SIM, mengatakan bahwa dua rekannya tersebut memang hobi bercanda. Karena itulah, dia merasa bakat mereka dalam mengocok perut, bisa dipraktekkan dalam ujian SIM secara riil. “Memang hobi bercanda dan mampu melontarkan guyonan yang pas,” tandas Asmuin.
Tak heran, Satpas Satlantas Polres Makota, menerima penghargaan juara 1 nasional sebagai pelaksana layanan prima SIM dibandingkan Polres-Polres lain di penjuru nusantara.(fino/mp)

Berita Terkait

Berita Lainnya :