Banyak Utang karena Gagal Usaha


BATU - Ita Diana, 41 tahun, warga Kelurahan Temas Kota Batu sudah mulai membaik. Jika sebelumnya dikabarkan sempat drop, ditemui Malang Post, Ita sudah bisa tertawa, kemarin. Ia memiliki utang hingga Rp 350 juta, itu terjadi karena sering gagal membangun usaha.
Ya, menurut Lurah Temas Bambang Hari Suliyan SP, Ita terlilit utang karena bisnis yang selalu gagal. Kata Bambang sapaan akrabnya, Ita beberapa kali membuka usaha, di antaranya catering dan bakso. Modal untuk usaha itu, Ita meminjam ke orang dan koperasi. Apesnya, usaha yang dirintisnya selalu gagal dan Ita tak bisa mengembalikan modal.
“Kepada saya, bu Ita juga tak terbuka. Cerita dia membuka usaha dan gagal itu dari Ketua RW 05 dan Ketua RW 02. Saya tidak tahu kenapa beliau tidak terbuka,” aku Bambang kepada Malang Post.
Ia mengaku, beberapa kali datang ke rumah Ita. Namun sang pendonor ginjal itu malah berusaha untuk menutup diri.
“Apapun bu Ita adalah warga kami, kami juga ingin membantu beliau,” tegasnya.
Cerita lain, yang berhasil ia korek, rumah yang dijual Ita berada di RW 05. Rumah tersebut laku Rp 190 juta. Rp 100 juta oleh Ita digunakan untuk membayar utang, dan sisanya digunakan kebutuhan sendiri.
“Sekarang bu Ita tinggal di rumah mertuanya, bersama suami dan tiga anaknya,” urai Bambang
Saat ditemui Malang Post, kemarin, Ita mengenakan kaos lengan panjang dengan motif garis-garis hitam dan cokelat. Atasan itu dipadu dengan celana jeans warna cokelat juga dan jilbab warna senada. Ibu tiga anak ini, beberapa kali tertawa saat Malang Post mengajaknya bercanda. Ia juga berusaha untuk tetap tenang, sekalipun isak tangis beberapa kali terdengar, ketika ia mengingat masalahnya.
“Ini jalan hidup saya, saya harus kuat. Apalagi saat melihat anak-anak, saya harus kuat, mereka masih butuh saya,” ungkap Ita.
Soal utang Rp 350 juta yang dimiliki. Wanita yang mengaku lulus sekolah dasar ini hanya menangis. “Itu yang saya tidak tahu. Bahkan ke mana saya utang pun saya gak tahu. Maaf untuk masalah itu saya belum bisa jawab,” urainya.
Ia hanya mengatakan, utang kepada beberapa orang dan koperasi. “Saya utang itu sejak 2015 lalu. Hanya dua tahun, tapi kok tiba-tiba utang saya segitu. Saya sekarang juga sedang merinci,” tambahnya.
Ia pernah berniat ke luar negeri sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Disinggung apakah ia akan tetap melanjutkan niatnya untuk menjadi TKW? Ita menggelengkan kepala.
“Teman-teman menyarankan agar saya tidak berangkat. Apalagi kondisi saya seperti ini dan bekerja di luar negeri juga berat, mungkin saya mengurungkan niat,” terangnya.
Ita mengaku sejak beritanya sebagai pendonor ginjal mencuat, ia kerap didatangi tamu. Kedatangan para tamu yang silih berganti ini pun diakui Ita membuat dirinya lelah. Karena harus mengulang-ulang cerita.
Tapi demikian, ia juga tidak mau melarang para tamu datang. Terlebih yang datang adalah awak media. Ita mengakui jika awak media yang sudah berperan besar membantunya.
“Saya melapor ke polisi sejak satu bulanan lalu. Tapi hampir tak ada penyelesaian. Baru kemudian media memberitakan, selanjutnya saya kesini, dan mereka sangat membantu saya,” ujarnya.
Dia juga mengatakan, dukungan terus mengalir kepada dirinya. Dan dukungan itulah yang membuat Ita kemudian semakin kuat.
“Ya itu, saya ini niatnya menolong, tapi kok malah seperti ini. Tapi saya tidak menyesal, karena ini jalan hidup yang harus saya lalui,” tambahnya.
Ita sendiri mengaku sempat kecewa dengan Erwin orang yang menerima ginjalnya. Tapi demikian, Ita tidak mau membenci Erwin. Bahkan ia juga tidak menyesal meskipun mengaku saat ini terlunta-lunta.
“Ya bagaimana saya tidak terlunta-lunta. Saya hidup dengan satu ginjal, dan masalah saya tidak selesai,” keluhnya.
Padahal menurut Ita, saat dirinya menyetujui untuk donor ginjal dirinya pun berharap masalahnya selesai.
“Sebetulnya simple saja saat itu. Saya membantu pak Erwin yang memiliki masalah pada ginjalnya, dan timbal balik adalah masalah saya selesai. Tapi ternyata tidak,” ungkap Ita.
Hidup dengan satu ginjal sendiri, Ita mengaku harus hati-hati. Dia mengatakan kondisi tubuhnya tidak sama seperti dulu.
“Cepat lelah, makanya saya juga harus banyak minum air putih, kalau kurang minum air putih pinggang belakang saya rasanya panas,” akunya.
Ironisnya, Ita sendiri mengaku tak tahu risiko jika dia hanya memiliki satu ginjal saja. Bahkan dokter yang mengoperasinya pun, tak pernah memberi tahu risiko-risiko jika dirinya harus hidup dengan satu ginjal.
“Entahlah, saya orang bodoh mungkin, sehingga tidak tahu kalau seperti itu,” ungkapnya.
Ita juga mengatakan saat dirinya mendonorkan ginjalnya, suaminya tak mengetahui. Saat operasi, dia pamit suaminya bekerja di Surabaya.
“Sebelumnya saya pamit ke Surabaya untuk bekerja. Dan tidak mengatakan kepada suami maupun keluarga jika saya mendonorkan ginjal,” katanya.
Bukan tanpa sebab Ita menyembunyikan dirinya menjadi pendonor ginjal. Selain tak ingin keluarganya tahu, ia ingin menyelesaikan sendiri masalahnya. “Saya ingin masalah selesai, tapi kok tambah seperti ini,” katanya sambil terisak.
Kendati sempat bercerita panjang lebar, Ita sendiri tetap menutup diri terkait dengan orang yang dijenguknya, hingga kemudian terjadi pertemuan dengan salah satu dokter. Pertemuan itu yang menjadi awal keputusannya mendonorkan ginjalnya.
“Itu teman saya, maaf saya tidak bisa bercerita soal itu. Biarkan dia hidup tenang dan tak direcoki dengan masalah saya,” tuturnya.(ira/ary)

Berita Lainnya :