Tiga Tuna Netra Bentuk Band, Berawal Dari Hobi Bermusik

Malang Posr, Keterbatasan fisik tak menjadi penghalang dalam menciptakan kreasi dalam bermusik. Itulah yang ditunjukkan tiga orang penyandang tuna netra dari Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Malang. Bermula dari hobi bermusik, mereka membentuk band yang kerap tampil pada pesta pernikahan, hingga acara pemerintahan.
Suasana Pendopo Agung Kabupaten Malang pagi itu, dipadati ratusan penyandang disabilitas. Ada yang menyandang disabilitas fisik, hingga mental. Seperti penderita tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tidak memiliki tangan serta kaki. Mereka di sana lantaran menerima bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos).
Dalam rangka Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) Kemensos menggelontor bantuan kepada ratusan penyandang disabilitas se Kabupaten Malang. Mereka senang, ada perhatian pemerintah yang diberikan untuk mereka. 
Saat mengikuti acara, sebagian ada yang memakai kursi roda, tongkat penahan badan, adapula yang terpaksa digendong, lantaran lumpuh total. Petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) mengegendong beberapa penyadang disabilitas yang lumpuh itu untuk memperoleh bantuan.
Namun, diantara ratusan penyadang disabilitas itu, ada tiga orang tuna netra yang menarik perhatian. Mereka anggota band yang menjadi pengisi acara. Tiga orang, Lukmanul Hakim (Gitar), Mulyono (Keyboard) dan Puji Supriati Ningsih (Vokal). Penampilan band mereka sangat memukau. Lantaran bisa memainkan seluruh jenis lagu mulai dari dangdut, pop, rock, hingga jazz.
Hari itu, mereka mengawali performance dengan menyanyikan lagu dangdut koplo berjudul Jaran Goyang. Suara merdu vokalis Puji Supriati Ningsih menghipnotis para pendengarnya. Bahkan seluruh pengunjung di Pendopo Agung Kabupaten Malang larut dengan berjoget bersama.
Dari musik full beat, mereka lalu membawakan lagu berjudul Untuk Ayah Tercinta. Lagu bernuansa sedih itu mereka bawakan dengan penuh perasaan dari hati paling dalam. Kemampuan bermusik mereka sangat memukau dan tidak kalah dengan band profesional. 
Mulyono dan Lukman, walaupun memilki keterbatasan fisik tidak bisa melihat, tetap bisa mengoperasikan alat musik dengan ciamik. Menciptakan harmoni yang merdu. Jari jemari Lukman ang memegang gitar, mahir memainkan dawai dan kunci nada.
Jika tak melihat langsung, penontin tidak akan menyadari bahwa pemusik hari itu semuanya tuna netra. Grup band itu mereka bentuk 2005 silam. Ketiganya memiliki hobi sama dalam bernyanyi. Apalagi mereka sama-sama tergabung dalam anggota Pertuni Kabupaten Malang. 
“Mulanya hanya nyanyi biasa. Kemudian, kami membentuk band. Apalagi kami mendapat fasilitas alat musik dan ruang berlatih,” ujar Lukmanul Hakim kepada Malang Post.
Sejak saat itu, mereka bertiga rutin berlatih. Setidaknya, mereka berlatih minimal dua kali tiap pekan.
“Dari situ, feel bermusik kami terbentuk. Karena sering berlatih bersama. Biasanya kami juga berlatih dengan teman-teman penyandang tuna netra lain dan kami ajak tampil ketika ada orderan,” kata pria ramah ini.
Keahlian mereka dalam bermusik, ternyata diketahui banyak orang. Mereka juga mendapat undangan untuk tampil di acara masyarakat. Mulai dari pernikahan, sunatan dan tasyakuran. Mereka tidak hanya tampil di Malang Raya, melainkan juga di luar daerah.
“Kami baru saja tampil di Pasuruan sebelum mengisi acara di sini,” imbuh Lukman.
“Kami diminta tampil mendadak oleh Dinsos. Meski persiapan kurang maksimal, alhamdulillah penampilan kami berlangsung lancar,” kata Puji Supriati Ningsih menimpali.
Sekarang, mereka mencoba membuat lagu ciptaan sendiri. Di masa mendatang, mereka juga menginginkan dapat membuat album sendiri. Eksistensi mereka selama 12 tahun dalam dunia musik, tetap terjaga dengan baik.
Dari kiprah tersebut, sebenarnya merekaingin memberi pesan kepada para penyandang disabilitas lainnya. Meski memiliki kekurangan fisik maupun mental, bukan berarti para penyandang disabilitas berpasrah diri. Melainkan tetap harus berusaha menunjukkan karyanya.
“Kami juga terus memberi semangat serta memotivasi kepada para penyandang disabilitas lain. Terutama memberi semangat penyadang disabilitas yang masih berusia muda,” kata Lukman.
Menurutnya, di balik kekurangan pasti ada kelebihan. Kelebihan itu, kata dia, harus digali oleh para penyandang disabilitas. Setelah mengetahui kemampuannya, kata dia,mereka dapat mengembangkan kelebihan yang dimiliki.
“Dengan begitu, saya yakin penyadang disabilitas terutama tuna netra dapat terus berkarya. Asalkan memiliki kemauan serta semangat yang tinggi,” pungkasnya. (binar gumilang/han)  

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...